Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Upaya Pemerintah Turunkan Masalah Gizi di Indonesia

Upaya Pemerintah Turunkan Masalah Gizi di Indonesia

sejumlah-ibu-suku-tengger-di-gunung-bromo-antre-menimbang-_140313192958-852-e1458551216866.jpg

  Indonesia masih menghadapi permasalahan gizi yang berdampak serius terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM). Permasalahan yang dimaksud antara lain; terhambatnya pertumbuhan, berat badan lahir rendah, pendek atau stanting, kurus, dan gemuk. Ini berdampak pada perkembangan selanjutnya.

Direktur Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan RI, Doddy Izwardy menjelaskan, anak yang kurang gizi nantinya bisa mengalami hambatan kognitif dan kegagalan pendidikan. Ini berdampak pada rendahnya produktivitas di masa dewasa.

Kurang gizi yang dialami saat awal kehidupan juga berdampak pada peningkatan risiko gangguan metabolik yang berujung pada kejadian penyakit tidak menular. Contohnya, diabetes tipe I, stroke, penyakit jantung dan lainnya pada usia dewasa.

Salah satu kebijakan nasional dalam upaya perbaikan gizi ditujukan untuk meningkatkan mutu gizi perorangan dan masyarakat secara menyeluruh. Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 42 tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi yang berfokus pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Gerakan ini mengedepankan upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat melalui penggalangan partisipasi dan kepedulian pemangku kepentingan secara terencana dan terkoordinasi.

Doddy menjelaskan sasaran global tahun 2025 disepakati adalah 1). menurunkan proporsi balita stanting sebesar 40 persen, 2) menurunkan proporsi balita yang kurus (wasting) kurang dari 5 persen, 3) menurunkan anak yang lahir dengan berat badan rendah sebesar 30 persen, 4) tidak ada kenaikan proporsi anak yang mengalami gizi lebih, 5) menurunkan proporsi ibu usia subur yang menderita anemia sebanyak 50 persen, 6) meningkatkan prosentase ibu yang memberikan ASI ekslusif selama enam bulan paling kurang 50 persen.

Untuk mencapai sasaran global tersebut, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 memfokuskan empat program prioritas. Yaitu percepatan penurunan kematian ibu dan bayi, perbaikan gizi khususnya stanting, penurunan prevalensi penyakit menular dan penyakit tidak menular.

Upaya lain dalam rangka menurunkan stanting, mulai 2013-2018, pemerintah Indonesia bekerja sama dengan pemerintah Amerika Serikat melaksanakan kegiatan perbaikan gizi melalui dana hibah MCC. Dana hibah tersebut berupa Program Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat (PKGBM) yang terdiri dari tiga kegiatan.

Di antaranya penguatan pemberdayaan masyarakat melalui PNPM Generasi (demand side). Lalu ada penguatan penyediaan pelayanan (supply side) dan kampanye perubahan perilaku, monitoring dan evaluasi dan manajemen. Saat ini kegiatan telah dilaksanakan di 11 Propinsi dan 64 Kabupaten. PKGBM juga dilaksanakan melalui kampanye yang menggunakan tagline Gizi Tinggi Prestasi.

(Sumber: Republika.co.id)

 

Program Setop BABS Masih Ada Kendala di Barito Timur

Alasan Ekonomi Penyebab Gizi Buruk di Kota Bekasi

Alasan Ekonomi Penyebab Gizi Buruk di Kota Bekasi