Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Teguh di Tengah Tantangan: Cerita dari Sungai Menang, Kapuas

Teguh di Tengah Tantangan: Cerita dari Sungai Menang, Kapuas

IMG_6780.jpg

Anggie Galuh (27 tahun) adalah fasilitator Kampanye Gizi Nasional dan penyuluh gizi di Sungai Menang, kecamatan di kabupaten Ogan Komering Ilir. Sayangnya, Sungai Menang juga dikenal sebagai daerah yang rawan konflik. Anggie menceritakan dengan rasa khawatir, bahwa banyak penduduk desa seperti di Desa Sungau Ceper, Gajah Mati dan Karangsia memiliki senjata api rakitan ilegal. Bahkan, bentrokan yang menyebabkan kematian juga tidak jarang di sini. “Yang di perariran, isinya semua bandit! Petugas kesehatan pada takut ke sana kalau bukan orang asli,” ujar Anggie.

Selain itu, akses ke desa-desa di Sungai Menang juga bisa dibilang sangat sulit, tidak aman, dan mahal. Kita harus menyewa klotok atau speedboat kayu untuk mencapai beberapa desa di sekitar Sungai Menang ini. Dan lagi lagi, dengan biaya yang tidak murah. “Kemarin ke desa di daerah perairan dari puskesmas (di Sungai Menang), lima jam naik speedboat dan biaya pulang pergi sampai 2 juta,” kata Anggie. Perjalanan lewat darat juga sama menantang karena Anggie seringkali melewati kebun karet atau sawit karena jalan-jalan utama yang rusak. Oleh karena itu, Anggie harus bertemu dengan kondisi jalan yang berlumpur, licin, dah berbahaya sehingga, ia harus naik motor trail untuk mencapai desa-desa.

Tetapi, banyaknya tantangan tidak menghalangi dia untuk melanjutkan pekerjaannya. Anggie terus pergi dari pintu ke pintu, dari satu posyandu ke lainnya, untuk mempromosikan asupan gizi yang tepat dan gaya hidup sehat.  Masih ada sejumlah balita yang kurang gizi di Sungai Menang yang sempat membuat Anggie miris. “Yang di bawah garis merah sih tidak terlalu banyak, tapi rata-rata banyak anak-anak yang kurus, dan juga pendek untuk umurnya,” kata Anggie.  Ini dikarenakan praktik pemberian makan yang tidak pantas oleh banyak ibu-ibu sehingga kebutuhan gizi anak mereka tidak terpenuhi. Selain itu, banyak penduduk desa yang masih melakukan buang air besar sembarangan di sungai. Hal ini telah membuat banyak anak-anak yang sakit dari diare.

“Sayangnya, pola hidup mereka tidak bersih. Makanan yang serba instan juga sering diberikan kepada anak-anak mereka. Sebenarnya ini hanya arena pendidikan dan pengetahuan yang kurang,”

Namun, Anggie tetap menunjukkan tekad yang mengagumkan untuk melayani komunitasnya. Dan Kampanye Gizi Nasional ini memberi harapan bagi Anggie agar masalah kesehatan seperti stanting dapat dicegah dengan perlahan. Contohnya, perilaku mendasar seperti ASI ekslusif selama 6 bulan pertama dan dilanjut sampai anak berusia 2 tahun dapat terus ditekankan. "Merubah perilaku itu memang susah, dan bertahap. Tetapi saya tetap positif, kok dengan adanya program kesehatan ini kalau kita semua semangat dan berkomitmen," kata Anggie.

Sumber dan foto: Anggie Galuh Pratiwi.

Indikator Keberhasilan Menyusui

Indikator Keberhasilan Menyusui

Infografis: ASI Ekslusif