Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Tanya Jawab Seputar Imunisasi Polio

Tanya Jawab Seputar Imunisasi Polio

metropolitanid.jpg

         Apakah ada hubungannya imunisasi polio dengan masalah stanting? Tentu saja ada, walaupun tidak secara langsung. Salah satu penyebab stanting adalah anak mudah terkena infeksi sehingga sering sakit-sakitan. Pada anak yang sakit-sakitan, energi yang masuk banyak dihabiskan untuk proses tubuh melawan penyakit serta dalam proses penyembuhan, sehingga kecukupan energi yang dibutuhkan untuk proses tumbuh kembang anak berkurang. Akibatnya, pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi terhambat.

Nah, imunisasi merupakan salah satu upaya agar anak memiliki daya tahan tubuh yang kuat dari berbagai penyakit. Dengan kesehatan yang terjaga maka anak dapat tumbuh kembang dengan optimal. Imunisasi polia merupakan salah satu yang sedang dilaksanakan dalam Pekan Imunisasi Nasional di bulan Maret 2016. Berikut aneka informasi seputar imunisasi polio yang perlu diketahui orangtua :

Setelah pemberian vaksin polio tetes, apakah dapat timbul panas,mencret ?

Walaupun sangat jarang terjadi, tetapi kadang-kadang dapat terjadi mencret ringan, tanpa panas.

Apakah pemberian vaksin polio lebih dari 2 tetes berbahaya ?

Tidak berbahaya, karena virus vaksin polio sudah dilemahkan. Artinya, tidak dapat menimbulkan kelumpuhan, tetapi  masih bisa berkembang biak dan  bisa merangsang kekebalan didalam usus maupun di dalam darah bayi dan anak. Bila meneteskan terlalu banyak sebaiknya dicatat identitas bayi/anak, kemudian dilakukan pengamatan selama beberapa minggu.

Berapa lama jarak antara pemberian ASI atau susu formula dengan pemberian vaksin polio oral ?

ASI dapat diberikan segera setelah imunisasi polio oral pada umur lebih dari 1 minggu. Hanya di dalam kolostrum terdapat antibodi dengan titer tinggi yang dapat mengikat vaksin polio oral.  Susu formula boleh segera diberikan setelah vaksinasi polio oral.

Bagaimana jika bayi memuntahkan vaksin polio ?

Jika muntah terjadi sebelum 10 menit, segera berikan lagi vaksin polio dengan dosis sama. Jika muntah berulang, berikan lagi pada keesokan harinya.

Mana yang lebih bagus : vaksin polio yang diteteskan di mulut (polio oral) atau yang disuntikkan ?

Vaksin polio yang diteteskan di mulut adalah virus polio vaksin yang masih hidup tetapi dilemahkan, sehingga masih bisa berkembang biak di usus, dan dapat merangsang usus dan darah untuk membentuk zat kekebalan (antibodi) terhadap virus polio liar. Artinya, bila ada virus polio liar masuk ke dalam usus bayi/anak, maka virus polio liar tersebut akan diikat dan dimatikan oleh zat kekebalan yang dibentuk di usus dan di dalam darah, sehingga tidak dapat berkembang biak,  tidak membahayakan bayi/anak tersebut, dan tidak dapat menyebar ke anak-anak sekitarnya.

Vaksin polio suntik, isinya virus polio mati yang disuntikan di otot lengan atau paha, sehingga tidak dapat berkembang biak di usus dan tidak menimbulkan kekebalan diusus, namun dapat menimbulkan kekebalan di dalam darah. Bila ada virus polio liar yang masuk ke dalam usus bayi/anak yang disuntik vaksin polio, maka virus polio liar masih bisa berkembang biak di ususnya (karena tidak ada kekebalan di dalam ususnya) tetapi ia tidak sakit, karena ada kekebalan di dalam darahnya. Tetapi karena virus polio liar masih bisa berkembang biak diususnya, maka  bisa menyebar melalui tinja ke anak-anak lain, dan dapat menyebabkan kelumpuhan pada anak-anak disekitarnya.

Oleh karena itu, di negara atau wilayah yang masih ada transmisi polio liar, semua bayi dan anak balita harus diberi virus polio yang diteteskan ke dalam mulut, agar ususnya mampu mematikan virus polio liar sehingga menghentikan proses penyebaran. Bila selama 5 tahun atau lebih tidak ditemukan lagi virus polio liar, maka secara bertahap dapat menggunakan virus polio suntik.

Virus polio suntik boleh diberikan pada pasien dengan kekebalan yang rendah, misalnya karena sedang mendapat pengobatan kortikosteroid dosis tinggi dalam jangka lama, mendapat obat-obat anti kanker, menderita HIV AIDS, atau di dalam rumahnya ada penderita-penderita tersebut.

(Sumber : Buku Pedoman Imunisasi Di Indonesia. Penulis : Soedjatmiko, Alan R. Tumbelaka – IDAI).

 

Pelaksanaan PIN Polio, Targetkan Generasi Sehat

Pelaksanaan PIN Polio, Targetkan Generasi Sehat

Remaja Harus Paham Kesehatan Reproduksi