Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Penelitian: Stanting dan Gangguan Kesehatan Mental Anak

Penelitian: Stanting dan Gangguan Kesehatan Mental Anak

wagub-jabar-miris-melihat-sekolah-pemulung-di-bekasi-rev-1.jpg

Seperti yang sudah kita ketahui, anak yang pertumbuhan tingginya tidak sesuai standar, dikatakan stanting. Stanting adalah suatu kondisi di mana panjang atau tinggi adan balita di bawah standar tinggi anak seusianya. Dan penyebab yang paling besar untuk kondisi ini adalah kekurangan gizi kronis, atau dalam jangka waktu yang panjang. Lebih tepatnya, selama 1000 hari pertama kehidupan. Stanting sangat terkait dengan pertumbuhan otak yang terhambat, dengan konsekuensi berbahaya untuk mereka dalam jangka panjang. Dr. Utami Roesli sebagai dokter spesialis anak juga pernah memaparkan bahwa otak anak balita yang stanting dan anak yang normal cenderung lebih kecil. Hal ini sangat menggangu pertumuhan intelektual mereka. Anak yang stanting akan lebih susah untuk menyerap informasi dan pelajaran dari sekolah dibanding dengan anak-anak yang normal atau berstatus gizi baik. Selain itu, pendapatannya ketika dewasa akan lebih rendah, dan gizi yang kurang saat balita akan meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi dan obesitas di masa depan.

Kita sudah mengetahui keterkaitan stanting dengan tingkrat kognitifitas anak dan risiko penyakit dari masa kecil dan masa remaja akhir. Tetapi, belum terlalu banyak riset tentang efek terhadap emosi dan perilaku sang anak.

Salah satu penelitian yang telah dilakukan terdapat dari Jamaika pada tahun 2007. Tujuan dari studi tersebut adalah untuk mengetahui apabila stanting pada usia dini dapat berefek buruk pada pertumbuhan psikologisnya pada masa remaja. Penelitian ini adalah penelitian pada kelompok anak yang stunting dan yang tidak. Anak-anak diidentifikasi pada usia 9 sampai 24 bulan yang didapatkan dari survei lingkungan masyarakat miskin di Kingston, Jamaika. Untuk balita 2 tahun yang stanting, tim penelitian melakukan stimulasi psikologis.

Mereka akan dinilai pada usia 17 tahun di 103 dari 129 anak yang stanting dan 64 dari 84 anak yang tidak stanting. Hasil yang didapatkan adalah bahwa tingkat kecemasan, gejala depresi, rasa harga diri dan perilaku antisosial telah dilaporkan atau deiceritakan dari mereka. Metode untuk melakukan hal tersebut adalah menggunakan kuesioner wawancara. Selain itu, orang tua dari peserta anak-anak juga diwawancara dan mereka melaporkan bahwa anak-anak mereka menjadi lebih hiperaktif dan sulit untuk konsentrasi. Anak-anak yang stanting juga dilaporkan secara signifikan bahwa mereka lebih sering cemas dengan gejala-gejala depresi serta tidak merasa percaya diri.

Dari penelitian ini, kita dapat simpulkan bahwa stanting adalah isu yang sangat kompleks dan tidak dapat dipandang sebelah mata. Selain berpengaruh kepada pertumbuhan fisik, stanting juga akan menimbulkan berbagai masalah emosional dan perilaku saat mereka tumbuh dewasa. 

Penelitian yang sama juga dilakukan oleh Universitas Diponegoro pada sekumpulan anak-anak sekolah dasar di Kabupaten Brebes. Peserta penelitian tersebut adalah anak-anak berumur 9-11 tahun yang lebih pendek dari standar usianya. Variabel yang diteliti adalah masalah emosional dan perilaku mereka dengan menggunakan kuesioner.

Kemudian, hasil yang didapatkan juga serupa dengan penelitian di Jamaika. Tetapi, untuk di Brebes, salah satu permasalahan yang signiikan adalah mereka merasa kurang percaya diri untuk bergaul atau bersosialisasi dengan teman-teman sebayanya di sekolah. 

Oleh karena itu, kita dapat simpulkan bahwa stanting memang masalah yang kompleks dan tidak dapat dipandang sebelah mata. Mengapa? Karena kita ingin menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti depresi pada anak, dan bahkan bunuh diri. Mereka kurang percaya diri, dan tidak terlalu stabil untuk menghadapi masalah, kegagalan dan akan lebih mudah untuk patah semangat. Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, semoga artikel ini bermanfaat untuk menambah ilmu kita tentang pentingnya merawat dan menjaga anak-anak kita untuk tetap bahagia dari usia dini.

Sumber: Journal of Nutrition, UNICEF, Universitas Diponegoro.

10 Makanan Ini Tingkatkan Kecerdasan Anak

10 Makanan Ini Tingkatkan Kecerdasan Anak

Mencegah Gangguan Mental Pada Anak

Mencegah Gangguan Mental Pada Anak