Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Sosialisasi Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi : Mencegah Anak Stunting, Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Sosialisasi Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi : Mencegah Anak Stunting, Meningkatkan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

sosialisasi-cegah-stanting.jpg

Jakarta – Apa hubungan tingkat prevalensi anak stunting – anak dengan tinggi badan di bawah rata-rata – dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia? Ternyata, ada korelasi positif di antara keduanya. “Anak penderita stunting adalah anak yang gagal tumbuh. Implikasinya, mereka memiliki kemampuan kognitif dan daya saing yang lemah. Ini akan membawa kita kepada masalah yang lebih besar lagi, yaitu kemiskinan,” ujar Minarto, Direktur Proyek Kesehatan Gizi Berbasis Masyatakat untuk Mengurangi Stunting (PKGBM) Millennium Challenge Account Indonesia, di Hotel Crowne Plaza pada tanggal 6 Juni 2014.

Dalam Rapat Koordinasi Teknis PKGBM Melalui Sosialisasi Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi itu, Minarto memaparkan dengan rinci ihwal prevalensi anak stunting dan pengaruhnya terhadap perekonomian Indonesia.

Stunting disebabkan oleh gizi buruk dan lazimnya terjadi pada anak-anak di keluarga miskin, kelompok yang minim informasi dan akses terhadap fasilitas kesehatan.Stunting pun berdampak mengurangi daya saing mereka, sehingga peningkatan Pendapatan Domestik Bruto (Gross Domestic Product, GDP) yang sedang dinikmati Indonesia tak berpengaruh. Jika tak ditangani, maka mereka akan terus terjebak dalam kemiskinan. Untuk itu, perlu usaha khusus untuk  memutus rantai kemiskinan tersebut.

“Kita diuji untuk mengurangi stunting di 11 provinsi dengan 64 kabupaten melalui program PKGBM ini,” tutur Minarto. “Sehingga, harus ada koordinasi setiap elemen dari Puskesmas dan Rumah Sakit Daerah setempat untuk merawat anak dengan gizi buruk tersebut sesuai dengan standar yang berlaku.”

Penanganan gizi buruk di Indonesia tak bisa dipisahkan pula dari sanitasi dan pemberdayaan masyarakat. Maka, pertemuan yang melibatkan petinggi Dinas Kesehatan dari 11 provinsi tersebut pun membahas tentang koordinasi daerah, sanitasi, serta perbaikan gizi dengan pendekatan berbasis masyarakat. (Rizkyana Dipananda/MCA-Indonesia)

 

Menkes Buka Acara Rakorpop Kemenkes 2015

Menkes Buka Acara Rakorpop Kemenkes 2015

Sosialisasi Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi : Pentingnya Intervensi Dalam Seribu Hari Pertama Kehidupan