Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Sepakat Turunkan Stanting di Kapuas
IMG-20160316-WA0014-e1459836325894.jpg

Stanting merupakan keadaan di mana tinggi badan berdasarkan umur rendah, atau keadaan dimana tubuh anak lebih pendek dibandingkan dengan anak lain seusianya. Karenanya, dalam acara Pembekalan Tokoh Agama dan Masyarakat tentang Stanting (16/3/16), sejumlah tokoh agama dan masyarakat se-Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah sepakat untuk turut aktif mencegah stanting. Kabupaten Kapuas sendiri adalah salah satu kebupaten yang melaksanakan kegiatan kampanye untuk menurunkan stanting.

Acara pembekalan yang berlangsung di aula Kantor Bappeda Kapuas dihadiri oleh Sekda Kapuas Drs Rinanova dan Kadis Kesehatan Kapuas dr. Adelina Yunus. Acara ini merupakan salah satu kegiatan Kampanye Gizi Nasional di Kapuas. Kampanye Gizi Nasional merupakan salah satu kegiatan dari Program Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat (PKGM) untuk mengurangi stanting. Program tersebut merupakan inisiatif Pemerintah Indonesia yang didukung oleh hibah compact dari Pemerintah AS dan dikelola oleh Millennium Challenge Account-Indonesia (MCA-Indonesia).

Menurut Prof Dr. dr Kusuharisupeni Djokosujono M.Sc, ahli gizi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI), ada pandangan bahwa anak tumbuh mengikuti potensi genetiknya. Pandangan umum itu, kata dia merupakan pandangan yang salah. Sesungguhnya, yang terjadi adalah anak tumbuh menyesuaikan diri dengan lingkungannya, termasuk asupan gizi dan kondisi kebersihan lingkungannya.

Stanting, lanjut Peni sapaan akrabnya, merupakan salah satu tanda terjadinya masalah lain dalam tubuh, seperti gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak. Hal itu berakibat pada kecerdasan, gangguan pertumbuhan dan perkembangan organ tubuh lain. “Dampaknya pada meningkatnya risiko terjadinya penyakit kronis seperti stroke, jantung, diabetes, hipertensi, dan kegemukan,” terang Peni.

Hampir separuh anak di Kapuas atau 45.25 mengalami stanting atau lebih pendek dari seharusnya. Sementara, menurut riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013, prevalensi nasional sebesar 37.2%.

Permasalahan mendasar penyebab stanting di Indonesia adalah rendahnya pendidikan orang tua terutama ibu, minimnya penghasilan rumah tangga, ketidaktersediaan air bersih, lingkungan yang tidak sehat, kurang tersedianya pangan lokal serta tingginya harga pangan, rendahnya ketahanan pangan, mitos negatif yang membudaya, serta adanya bias penafsiran agama.

Nah, kunci keluar dari situasi stanting, menurut Peni adalah dengan perbaikan status gizi, terutama untuk perempuan dan anak-anak, konsumsi  Tablet Tambah Darah (TTD) pada ibu hamil, serta pemberian ASI eksklusif pada bayi sampai usia 6 bulan. Kemudian pemberian Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang adekuat, penggunaan jamban sehat, hidup bersih seperti mencuci tangan dengan sabun dan air bersih yang mengalir sebelum menyiapkan makanan anaknya, imunisasi lengkap dan tepat waktu sesuai anjuran.

“Tugas dan tanggung jawab dalam memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan anak sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), tak hanya urusan sektor kesehatan saja, namun juga sekot pendidikan, agama, PU, tokoh agama, budaya, pangan bahkan pihak swasta,” pungkasnya.

(Sumber: Media Kalimantan)

Kemenkes Bantu Pembangunan Puskesmas Padang Panjang

Kemenkes Bantu Pembangunan Puskesmas Padang Panjang

Cara Tingkatkan Praktik Menyusui

Cara Tingkatkan Praktik Menyusui