Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Saat MPASI, Bayi Lebih Berisiko Kurang Gizi

Sejak usia bayi 6 bulan, kebutuhan gizi bayi tak lagi bisa tercukupi hanya dengan pemberian ASI saja. Bayi sudah harus mulai diberikan makanan pendamping ASI (MPASI). Namun, meski sudah mulai mendapatkan MPASI, bayi justru bisa lebih berisiko mengalami risiko kurang gizi. Mengapa itu bisa terjadi? Berikut adalah penyebab mengapa Bayi berisiko kekurangan gizi setelah mendapat MPASI.

  1. Kurang jumlah dan frekwensi makanan

Tandap sadar bayi sering kali kurang dalam mendapatkan jenis-jenis makanan yang mengandung zat gizi. Hal ini dikarenakan karena jumlah asupan maupun frekuensi makanan yang bergizi kurang tepat. Semua hal ini bisa menyebabkan bayi mengalami kurang gizi.

Kurangnya asupan jumlah gizi dikarenakan banyak anak yang tidak mau makan atau picky eater. Permasalahan ini sering terjadi karena menu makan yang diberikan oleh ibu kepada bayi sangat monoton dan suasana yang tidak menarik saat memberikan makanan.

2. Infeksi kuman karena kurang hygenis

Ada beberapa penyebab kemungkinannya. Pada usia ini bayi sudah mulai bereksplorasi dengan lingkungannya. Umumnya sebagian besar bayi di usia 7 bulan sudah belajar merangkak. Ia akan banyak bergerak ke sana kemari di lingkungannya. Di usia fase oral ini, ia juga lebih sering memasukkan jari-jari atau mainannya ke dalam mulut. Jika kebersihan lingkungannya tidak terjaga baik, berisiko masukkan kuman atau bibit penyakit melalui mulutnya. Salah satu penyakit yang mungkin terjadi yaitu diare. Saat diare terjadi pula pengeluaran zat-zat gizi dari tubuh. Akibatnya, bayi bisa mengalami kekurangan gizi.

Diare bisa juga terjadi lewat makanan. Apakah itu dari sumber bahan makanan, proses pengolahan, penyajian, serta penyimpanan makanan untuk bayi kurang terjaga kebersihannya. Sehingga bayi mudah terpapar kuman penyakit yang masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan diare. 

Maka itu, yang perlu orangtua perhatikan agar bayi tidak mengalami kurang gizi pada usia MPASI ini, sebagai berikut :

  • ASI tetap diberikan pada bayi sesuai permintaan, sampai usianya 2 tahun.
  • Perhatikan dan jaga kebersihan makanan, dari mulai bahan sumbernya yang baik, proses pengolahan, alat perlengkapan makan, proses penyajian, serta penyimpanannya.
  • Jaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitarnya.
  • Upayakan dengan berbagai cara dalam pemberian makan pada bayi. Lakukan dengan cara menyenangkan dan menarik tanpa memaksanya.
  • Perhatikan pemberian MPASI dari segi kepadatannya yang semakin meningkat sesuai dengan bertambahnya usia.
  • Berikan jenis-jenis makanan yang bergizi dan beragam. Jumlah asupan makanan serta frekuensi pemberiannya juga harus semakin bertambah sesuai dengan bertambahnya usia bayi.
  • Gunakan pula MPASI yang sudah difortifikasi atau pemberian suplementasi vitamin dan mineral sesuai kebutuhan bayi.
  • Bila bayi dalam keadaan sakit, tingkatkan konsumsi cairan. Berikan bayi ASI yang lebih sering frekuensinya. Upayakan pemberian makan dengan makanan yang lebih lembek dan yang disukainya.
  • Setelah  anak sembuh dari sakit, upayakan makan lebih banyak dan sering untuk mengembalikan kebutuhan zat gizi yang hilang semasa anak sakit.
Waspadai Janin yang Tidak Berkembang

Waspadai Janin yang Tidak Berkembang

Hari Anak Nasional - Akhiri Kekerasan pada Anak. Penuhi Hak Anak Untuk Tumbuh Kembang Optimal

Hari Anak Nasional - Akhiri Kekerasan pada Anak. Penuhi Hak Anak Untuk Tumbuh Kembang Optimal