Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Ratusan Balita Alami Gizi Buruk

Ratusan Balita Alami Gizi Buruk

balita-kurang-gizi1.jpg

Sebanyak 195 anak di bawah lima tahun (balita) di Kota Bekasi menderita gizi buruk kronis. Kasus gizi buruk kronis tersebut tersebar di sejumlah kecamatan. Bahkan, memasuki awal tahun 2016, lima orang balita meningggal karena menderita gizi buruk, "Berdasarkan data yang dimiliki sejak 2015  hingga sekarang, ada 194 balita kekurangan gizi. Lima diantaranya meninggal, "kata Kabid Pelayanan Kesehatan Dinkes Kota Bekasi, Puspofini. Kebanyakan, lanjut Puspofini, para penderita gizi buruk ini karena pola asuh yang salah dari kedua orangtua. Misalnya, kebanyakan orangtua lebih mempercayai pembantu untuk asuhan anaknya.

Bukan itu saja, penyebab gizi buruk ini dibagi dua faktor penyebab. Pertama disebabkan secara langsung karena adanya infeksi penyakit. Penyebab tak langsung bisa dilihat dari ketersediaan pangan di tinggat rumah tangga, tingkat asuhan orangtua dan anak. Saat ini, daerah yang terbanyak warganya menderita gizi buruk, kata Puspo berada di Kecamatan Jatiasih 27 orang, Jatisampuma 20 balita, Bekasi Utara 15 balita, Jatibening 12 balita,  Jatiwarma dan Bantargebang 11 balita Sisanya terbagi di beberapa kecamatan yang lain.

Sementara, untuk lima balita yang meninggal akibat kekurangan gizi buruk berasal dari Kelurahan Pejuang 1 orang, Bojong Menteng 1 orang, Duren Jaya 1 orang. Ditambah lagi, Wisma Jaya 1 orang dan Jatiasih 1 orang. ”Mereka yang meninggal karena penyakit penyerta,” ujarnya Puspo.

Bila ada yang terdeteksi kekurangan gizi buruk, tambah Puspo, pihak dinkes segera menyalurkan pemberian makan tambahan (PMT). Selain itu, akan dilakukan sosialisasi 1000 hari pertama kehidupan di seluruh posyandu, agar semua balita terpantau tumbuh kembangnya oleh tenaga kesehatan. “Tahun ini, dinkes mendapat anggaran 280 juta dari APBD Kota Bekasi untuk PMT. Sehingga, semua kader posyandu bisa melakukan sosialiasi terkait pentingnya memeriksa pertumbuhan balita.”

Sementara itu, Kadis Kesehatan Kota Bekasi, Anne Nurchandrani mengatakan, untuk mendapatkan perawatan dan tanggungan dari pemerintah, maka cara prosedur tetap dilakukan pihaknya. ’’Salah satunya dengan program PMT untuk penanganan balita kurang gizi. Apabila ada korban gizi buruk memang memerlukan perawatan, maka Dinkes akan merujuk ke RSUD Kota Bekasi. Kami masih melakukan jemput bola bersama semua kader Posyandu dan Puskesmas. Karena sampai sekarang banyak orangtua yang malas,” tandasnya.

 

(Sumber : Indopos)

Kader Posyandu Harus Berkualitas

Kader Posyandu Harus Berkualitas

610 Posyandu Pekanbaru Layani PIN Polio