Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Ragam Penyebab Pernikahan Dini di Kalangan Anak/Remaja

  Angka pernikahan dini di Indonesia masih sangat tinggi dan peringkat kedua di Asia Tenggara. Hal ini menunjukkan masih banyak anak dan remaja di bawah usia 18 tahun yang sudah menikah. Ada banyak faktor yang menjadi penyebabnya, dari mulai alasan ekonomi, sosial, budaya, dan agama.

Masih ada interprestasi dalam agama bahwa jika seorang anak sudah akil baliq, yang ditandai dengan menstruasi pada anak perempuan, maka anak sudah boleh menikah. Sementara di jaman sekarang di mana gizi masyarakat sudah lebih baik, banyak ditemui anak-anak  mengalami usia akil baliq di usia lebih dini. Contohnya, anak perempuan sekarang sudah ada yang menstruasi di usia sekitar 9-10 tahun.

Masalah ekonomi keluarga kadang juga menjadi alasan orangtua untuk membolehkan anaknya menikah. Sehingga beban tanggung jawab orangtua dapat dilimpahkan pada orang lain, dalam hal ini pasangan hidup anaknya. Biasanya alasan ekonomi cukup banyak ditemui pada kelas sosial bawah di mana untuk kehidupan ekonomi keluarga sangat sulit.

Belum lagi soal masalah ketidaksetaraan gender. Masih ada anggapan bahwa kedudukan anak perempuan masih berada di bawah anak laki-laki. Jadi, tidak perlu bagi anak perempuan untuk mengenyam pendidikan tinggi. Mereka cukup menikah dan mengurus anak. Bila menikah di usia muda, maka dianggap pula dapat terhindar  dari timbulnya fitnah seperti perzinahan atau kehamilan di luar nikah.

Selain itu, kurangnya pendidikan dan pengetahuan anak mengenai masalah kesehatan reproduksi juga menjadi salah satu faktor pendukung terjadinya pernikahan dini di kalangan anak/remaja. Mereka tidak mengetahui bahwa untuk memasuki ranah pernikahan dibutuhkan kesiapan secara fisik seperti kesiapan reproduksi, kesiapan mental, intelektual dan spiritual. Sementara di usia mereka mulai dari 12 tahun sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan pesat menuju usia dewasa. Mereka belum mempunyai kesiapan fisik dan mental untuk menjalani kehidupan pernikahan.

Angka Balita Stanting di Kalteng Lebih Tinggi dari Angka Nasional

Angka Balita Stanting di Kalteng Lebih Tinggi dari Angka Nasional

Angka Pernikahan Dini di Indonesia Peringkat Kedua di Asia Tenggara.

Angka Pernikahan Dini di Indonesia Peringkat Kedua di Asia Tenggara.