Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Pidana bagi Pemimpin Perusahaan Yang Tidak Mendukung ASI
IMG_7011-1-e1472617628512.jpg

LANDAK, KALIMANTAN BARAT - ASI eksklusif memegang peran yang besar dalam pencegahan stanting. Selama 6 bulan, ASI menjadi makanan dan minuman yang hanya diperlukan oleh bayi karena ASI sesuai denan kondisi pencernaannya. Fungsinya untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi dalam melawan risiko serangan penyakit, hingga sering dibilang vaksin pertama sang bayi. Pada saat yang sama, ASI juga akan mempercepat pertumbuhan sel-sel otak, perkembangan sistem saraf dan tentunya mencegah stanting.

Yang hadir di seminar ini terdiri dari berbagai organisasi profesi di Landak. Mereka adalah Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).

Seminar ini termasuk kegiatan dalam Kampanye Gizi Nasional yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia, didukung oleh MCA-Indonesia melalui IMA World Health. “Ayo Dukung Ibu Menyusui” ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan tentang peran ASI dalam pencegahan stanting, termasuk proses IMD atau Inisiasi Menyusui Dini.

Salah satu bentuk pencegahan dari pemerintah adalah lewat kebijakan yang mendukung serta upaya-upaya lainnya dalam pencegahan stanting. Termasuk mendukung para ibu menyusui. Dan dalam seminar tersebut, Dr. Utami Roesli sebagai ahli laktasi dan dokter spesialis anak mengingatkan kita bahwa pemerintah memang telah membuat perangkat hukum tentang pemberian ASI melalui undang-undang kesehatan. Salah satu contohnya adalah menyediakan pojok laktasi atau ruang menyusui di tiap gedung perkantoran.

“Jika dilakukan oleh korporasi, selain pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya, pidana dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa denda dengan pemberatan tiga kali dari pidana denda yang diatur dalam UU Kesehatan no. 36 Tahun 2009,” ujar Dr. Utami (24/08)

Selain pidana denda, perusahaan atau korporasi yang tidak pro-ASI, atau menghalangi dalam bentuk apapun tentang pemberian ASI ekslusif dapat disanksi. Sanksi termasuk pencabutan izin usaha atau pencabutan status badan hukum. Hal ini menjadi perhatian karena jika pemerintah tidak mendukung pemberian ASI, pemerintah justru akan membahayakan masa depan anak-anak bangsa karena tidak mendukung pencegahan stanting. Dan tentu tidak mendukung pencegahan stantin

Oleh karena itu, Dr. Utami mengatakan bahwa Indonesia harus mulai membentuk sistem pengawasan tentang bentuk upaya pemberian ASI eksklusif di Indonesia. “Namun memang laporan pidana terkait warga korporasi yang menghalang-halangi pemberian ASI ekslusif ini belum ada. Ada juga kasus, di dalam rumah tangga dan berakhir damai,” tambah Dr. Utami. Pelaporan ini belum maksimal, karena dimungkinkan bahwa pengetahuan tentang pentingnya ASI ekslusif belum terlalu luas — termasuk ASI sebagai hak bagi anak. Selain itu, masyarakat tidak ingin berurusan dengan hukum serta takut atas hilangnya pekerjaan mereka.

Putus ASI

Di dalam seminar tersebut, Dr. Utami juga memapaparkan salah satu manfaat ASI yang cukup besar terhadap kesehatan. ASI mengandung HAMLET atau Human Alpha-Lactalbumin Made Lethal to Tumour Cells yang akan mencegah kanker, tetapi juga bisa membunuh tumor agar tidak menjadi kanker. “ASI juga sebagai kanker bagi anak, meningkatkan ketahanan tubuh bayi, pencernaan yang baik, anak lebih cerdas dan sehat secara mental, tidak obestias, serta mencegah stanting atau anak kecil pendek,” tambah Dr. Utami.

Dr. Utami juga memaparkan perbedaan situasi pemberian ASI di perkotaan dan perdesaan. Kasus “putus ASI” yang terjadi di perkotaan lebih besar daripada di perdesaan dengan gencarnya promosi susu formula. Di perdesaan, terdapat banyak ibu-ibu yang terlalu dini memberi makanan tambahan, yaitu di usia kurang dari 6 bulan. “WHO menilai, pemberian ASI merupakan jalan keluar agar menciptakan generasi yang lebih sehat, kuat dan cerdas. Maka upaya untuk mengawal pemberian ASI eksklusif secara menyeluruh bukan hanya tugas pemerintah saja,” kata Dr. Utami.

Ketua Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Landak, Heronimus mengatakan bahwa perawat yang mendampingi ibu setelah lahiran dengan operasi cesar misalnya, dapat memberikan pengertian kepada ibu tentang Inisiasi Menyusui Dini dan ASI Ekslusif. ““Ibu yang pascamelahirkan secara operasi terkadang enggan menyusui, karena takut sakit atau pengaruh obat bius. Namun, perlu ditegaskan, bahwa menyusui baik untuk ibu yang melahirkan secara alami atau dengan operasi adalah upaya mempercepat penyembuhan,” jelasnya.

Promosi susu formula juga dapat menyesatkan para keluarga.“Kadang mereka beranggapan anak yang sehat adalah anak yang gemuk. Sehingga belum lagi berusia enam bulan, sudah diberikan makanan tambahan,” ujar Ketua Persatuan Ahli Gizi Kabupaten Landak, Rosy Dahniar. Seringkalu ibu dan keluarganya mengeluh bahwa ketika bayi rewel, itu berarti dia lapar. Padahal, ketika bayi menangis sesudah menyusui, tubuhnya serta organ-organnya sedang bertumbuhkembang. “Bayi bukan sakit, organ tubuhnya tengah berkembang, sehingga minum lebih banyak dan lapar terus. Susui saja,” ungap Rosy.

Selain pengetahuan yang kurang tentang ASI, para bidan di Landak harus menanggapi situasi dengan para ibu dimana mereka terpengaruh terhadap mitos seputar menyusui. Mitos yang sering didengar adalah bahwa bayi tidak boleh diberikan ikan, atau ketika hamil sebaiknya tidak mengonsumsi ikan karena bayi akan “bau amis”. Dr. Utami, dengan semangat meluruskan mitos tersebut. “Aduh, di Kalimantan, di Landak, pasti ikannya enak sekali. Kandungan omega 3 di ikan tinggi sekali! Ini akan bagus untuk perkembangan otak si bayi,” ujarnya.

Oleh karena itu, Herlina sebagai anggota Ikatan Bidan Indonesia Kabupaten Landak menambahkan bahwa keluarga memegang peran yang kuat untuk menyingkirkan mitos-mitos yang menyebar. “Ada yang sering ditakuti mitos. Jadi kita harus kelaskan bukan hanya pada bapak-ibu yang punya bayi. Seluruh keluarganya juga,” katanya. Dan bidan, ia katakan harus menjunjung tinggi komitmen sebagai petugas kesehatan. Jika sang ibu teriming-imingi oleh promosi susu formula dan makanan tambahan instan, ia harus berkomunikasi dengan baik untuk merubah perilaku ibu. “Saat ini belum kita tindak jika ada bidan yang menganjurkan susu formula. Tapi kita berikan pemahaman terlebih dahulu,” katanya.

Sumber: indonesiana.tempo.co

#ASIEksklusif #PekanASISedunia #MCAIndonesia #IMAWorldHealth #ASI#IMD

Mayae Hugo, Dinkes Kapuas: ‘Sufor Akan Meningkatkan Kecerdasan Anak’ - Itu Iklan Pembodohan

Mayae Hugo, Dinkes Kapuas: ‘Sufor Akan Meningkatkan Kecerdasan Anak’ - Itu Iklan Pembodohan

Prosedur Donor ASI

Prosedur Donor ASI