Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Pernikahan Anak dan Stanting Di Kabupaten Landak

Pernikahan Anak dan Stanting Di Kabupaten Landak

1859424e-ddf9-4ee3-9bdb-728eae082f4f.jpg

“..Bayangkan saja; anak, sudah punya anak, umur baru 14 tahun, anaknya sudah 8 bulan. Ada yang 16 tahun, dan anaknya sudah satu tahun. Pastilah mereka belum siap merawat anak ..”,

Berikutlah kata Yasinta, fasilitator Kampanye Gizi Nasional (KGN), kecamatan Sengah Temila di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat.

Kabupaten Landak, adalah salah satu kabupaten di Kalimantan Barat, jarak tempuh menuju kabupaten Landak dari Kota Pontianak sekitar empat jam dengan menggunakan transportasi darat. Di kabupaten Landak, hampir 37 % balita mengalami stanting. Stanting adalah salah satu ciri dari balita kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama, dimana balita yang stanting dicirikan memiliki panjang badan lebih pendek dari standar balita seusianya. Hal ini mendasari Kemenkes yang didukung oleh MCA-I (Millenium Callange Account Indonesia) dan bekerjasama dengan IMA World Health melaksanakan program Kampanye Gizi Nasional (KGN) untuk mencegah stanting.

“Saya miris melihat anak-anak seusia itu, sudah harus mengurus anak…yang penting dikasih makan seadanya, dikasih minum, anak itu hidup,” lanjut Yasinta lagi. Menurut Yasinta, ada dua penting yang membuatt angka stanting dan anak kurang gizi dai kecamatan Tengah Samila, pertama adalah kebiasaan BABS (buang air besar sembarangan), dan yang kedua adalah faktor pernikahan anak (usia anak-anak). Faktor pernikahan anak sangat berperan besar pengaruhnya, karena ibu pada dasarnya calon ibu belum siap, masih pada usia anak-anak dan pada masa pertumbuhan. Selain itu, pengetahuan dan perilaku para ibu-ibu muda ini untuk memberi makanan seadanya kepada anak mereka. Ini tentu membuatnya miris dibanding dengan kondisi alam yang subur dan kaya.

Mbak Yasinta, dalam perjalanan ke satu desa, Desa Kranjil Paidang, di dusun Bandang. Sumber: Yasinta

Perilaku BABS telah membuat sanitasi diwilayah tersebut semakin buruk, penyakit seperti diare, muntaber dan lainnya merupakan hal yang sudah biasa terjadi pada anak – anak diwilayah tersebut. Tentu penyakit ini membuat semua gizi yang tidak dapat dipergunakan anak untuk pertumbuhan, namun habis untuk melawan dan tidak terserap oleh tubuh karena penyakit.

Perilaku seperti ini lah yang susah untuk dirubah. Alasan ekonomi adalah cerita klasik terjadinya pernikahan anak, alasan ini seolah-olah membuat Yusita dan petugas kesehatan tidak bisa berbuat banyak. Ada pandangan umum yang mengatakan bahwa daripada bekerja di ladang, di sawah dengan segala sesuatu yang “pas-pasan” dan menjadi beban keluarga, lebih baik anakkahkan saja agar kondisi hidup jadi lebih baik. Namun menurut Yasinta, pandangan itu belum tentu benar, banyak pernikahan anak yang justru menjerumuskan anak, mulai dari masalah ekonomi, KDRT hingga kondisi kesehatan balita (anak) yang dalam kondisi buruk. Tentu nasib dari kesehatan balita ini menjadi pertaruhan besar. 

Inilah sisi lain dari kehidupan bermasyarakat kita sehari-hari, dimana anak-anak yang seharusnya masih bisa bebas mermain dengan ceria, harus bertanggung jawab besar diluar kapasitas mereka dengan mengurus anak atau bayi. Yasinta yang tergabung bersama Yayasan Dian Tama, melakukan pendekatan – pendekatan untuk merubah prilaku masyarakat dalam menurunkan angka stanting di wilayah ini.

Hal pertama dilakukan adalah bekerjasama dengan Puskesmas untuk memperkuat peran posyandu dan penguatan kader kesehatan.  Kader kesehatan melalui posyandu dilatih dan didampingi untuk dapat memberikan layanan konseling bagi para ibu dan keluarga. Posyandu bukan saja menjadi tempat menimbang bayi tapi juga memberikan asuhan konseling pada para ibu, sepeti cara memberikan menu sehat, menyusui ekslusif, pencegahan penyakit dan sebagainya.

Kegiatan posyandu. Salah satu rekomendasi adalah kegiatan konseling dengan sistem kunjungan rumah. Sumber: Yasinta

Namun ternyata hal ini bukan tanpa halangan, sebagian besar para ibu harus membantu suami ke ladang, pada pagi hari, hingga banyak ibu ibu tidak bisa ke posyandu untuk memantu pertumbuhan anak atau konseling. Hal ini tidak membuat Yasinta patah arang, dan berharap atas dukungan dan kerjasama dengan bidan dan Puskesmas dalam membuat

“Konseling ini dilakukan door to door ke rumah para ibu, untuk membantu mereka guna memberikan pengetahuan untuk peningkatan gizi keluarga”, papar Yasinta.

Melalui program KGN juga, para petugas kesehatan diberikan penguatan ketrampilan dalam berkomunikasi dan memberikan konseling. Pelatihan komunikasi antar pribadi diberikan untuk meningkatkan kemampuan petugas kesehatan dalam memberikan konseling pada para ibu hamil, ibu dengan balita dan ibu menyusui.

Tentu, hasil dari semua ini tidak bisa dilakukan dengan instan karena  membutuhkan proses untuk bisa melakukan perubahan di masyarakat. Kerja keras semua pihak dibutuhkan untuk merubah sebuah pendangan yang sudah mengakar di masyarakat seperti “pernikahan anak”

Hari Anak Nasional - Akhiri Kekerasan pada Anak. Penuhi Hak Anak Untuk Tumbuh Kembang Optimal

Hari Anak Nasional - Akhiri Kekerasan pada Anak. Penuhi Hak Anak Untuk Tumbuh Kembang Optimal

Tips Mengatasi Anak Susah Makan

Tips Mengatasi Anak Susah Makan