Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Peran Penting Media Massa untuk Mengurangi Stunting

Peran Penting Media Massa untuk Mengurangi Stunting

Peran-Media-Mengurangi-stunting.jpg

  Jakarta – Media massa memegang peran penting untuk mengurangi stunting di Indonesia. Sebab, media dapat menyebarkan informasi tentang stunting dan menarik perhatian masyarakat Indonesia terhadap masalah tersebut.

“Dengan perhatian yang besar terhadap tema ini, masyarakat diharapkan mendapat pengertian mendalam mengenai stunting pada anak, dampak yang ditimbulkan, serta cara mengatasinya,” ujar Direktur Program Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat untuk Mengurangi Stunting (PKGBM) MCA-Indonesia, Minarto, pada Jumat, 23 Januari 2015. Hal tersebut menjadi salah satu poin pokok temu media bertajuk “Memahami Perilaku Masyarakat Indonesia tentang Gizi dan Kebersihan” yang berlangsung di kantor MCA-Indonesia.

Dalam Temu Media, MCA-Indonesia meluncurkan hasil Studi Formatif Gizi yang berlangsung September-Oktober 2014 dan mengundang para pemangku kepentingan untuk membahasnya. Sebagai tahap pertama dalam Kampanye dan Komunikasi Gizi Nasional, riset tersebut berupaya memetakan kebiasaan masyarakat di lokasi sasaran MCA-Indonesia terkait gizi dan kebersihan, serta pola konsumsi mereka terhadap media massa.

Menurut Minarto, salah satu hasil penelitian adalah banyak orang tua yang belum mengenal istilah stunting dan baru sedikit tenaga kesehatan yang memahami permasalahan tersebut. Selain itu, rendahnya tinggi badan anak, salah satu ciri utama stunting, juga masih dianggap masalah keturunan.

Penelitian menunjukkan mayoritas responden menonton televisi, serta sering membaca anjuran di media luar ruang seperti spanduk dan poster. Sebagian besar ibu pun memiliki telepon seluler, yang bisa dimanfaatkan untuk mengakses informasi perihal stunting. “Ini bisa menjadi acuan untuk memberi informasi tentang stunting kepada orang tua dan pemangku kepentingan lainnya,” kata Minarto.

Ia berpendapat perlu pula memperbanyak diskusi tentang stunting serta kaitannya dengan gizi dan sanitasi. Harapannya, diskusi dapat memantik perhatian media dan masyarakat, lantas memicu mereka bertindak untuk mengurangi stunting. Pentingnya peran media massa juga diungkapkan oleh Kristin Darundiyah dari Direktorat Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan. Ia mengatakan, selama ini lembaganya menggunakan beragam media untuk promosi dan kampanye mengenai isu air minum dan sanitasi.

“Kami masih mencari bagaimana model yang efektif, karena talkshow di televisi yang ditonton banyak orang itu biayanya sangat mahal. Sedangkan di media sosial, yang aktif biasanya praktisi kesehatan, bukan masyarakat yang disasar,” ucapnya.

(mca-indonesia.go.id)

 

 

 

Stanting Jadi Ancaman

Stanting Jadi Ancaman

Permasalahan Stanting dan Cara Mengatasinya