Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Pentingnya Menurunkan Stanting: Dalam Perspektif Kristen

Pentingnya Menurunkan Stanting: Dalam Perspektif Kristen

abcphotos.jpg

                                           Oleh Ferderika Tadu Hungu, STh, MA

                  Pada acara Pembekalan Tokoh Masyarakat dan Tokoh Agama Tentang Stanting di Kapuas, Kalimantan Tengah (16/3/16).

                  Anak adalah kepunyaan dan kesayangan Allah. Maka, setiap orang Kristen dimandatkan untuk bertanggung jawab memelihara dan merawat anak-anak hingga tumbuh menjadi generasi yang sehat dan unggul.

Iman Kristen memberikan perhatian yang sangat besar terhadap kesehatan anak bahkan semenjak anak berada dalam kandungan. Kesehatan dalam iman Kristen adalah bagian dari upaya mewujudkan Shalom Allah di dunia. Shalom bermakna damai sejahtera, keutuhan dan kesempurnaan. Makna tersebut tidak hanya dalam pengertian iman secara vertikal terkait relasi antara manusia dengan Tuhan, tetapi termasuk dengan sesama, alam ciptaan serta kesempurnaan manusia secara fisik, emosional dan spiritual.

Dalam Iman Kristen, stanting merupakan bagian dari persoalan hidup. Kondisi ini adalah di mana tinggi badan balita lebih rendah dibandingkan dengan umurnya. Oleh karena itu, anak-anak yang tidak tumbuh sempurna karena kekurangan gizi harus menjadi perhatian orang tua, gereja dan pihak lain.

Masih ada kecenderungan dikotomi dalam pelayanan gereja dimana gereja lebih menaruh perhatian pada urusan vertikal/sorgawi dan mengesampingkan urusan duniawi (relasi manusia dan alam ciptaan). Ini dianggap sebagai masalah sekuler. Padahal, praksis iman Kristen hakekatnya bersifat holistik, tidak membedakan antara yang sorgawi dan duniawi.

Ada banyak tokoh yang mempunyai pengaruh sangat strategis dalam kehidupan bergereja untuk pencegahan stanting dan mempromosikan pertumbuhan anak yang optimal. Mereka adalah para tokoh agama seperti pendeta, majelis jemaat, guru injil, guru sekolah minggu, penatua dan diaken. Mereka berperan tidak hanya terhadap pertumbuhan iman tetapi juga peningkatan kesehatan termasuk kesehatan anak. Oleh karena itu, tokoh gereja dapat berperan sebagai agents of change dalam merubah perilaku masyarakat tentang permasalahan gizi. Hal-hal yang dapat dilakukan adalah:

1). Menjaga kesehatan ibu hamil

2). Memotivasi suami/pendamping untuk selalu siaga bagi ibu hamil dan ibu menyusui

3). Memediasikan/memfasilitasi ibu/balita dengan fasilitas kesehatan untuk masalah stanting, gizi, dan sanitasi

4). Mengintegrasikan isu-isu kesehatan dan gizi dalam kurikulum sekolah Minggu (cuci tangan pakai sabun, makan sayur dan minum susu)

5). Katekesasi (Kesehatan reproduksi)

6). Kursus pranikah (misalnya, gizi, kesehatan reproduksi, Keluarga Berencana)

7). Mengintegrasikan topik-topik kesehatan ibu dan bayi dalam liturgi (pada bulan khusus keluarga)

Dengan mengintegrasikan semua ini, sebenarnya gereja telah menjawab secara kontekstual panggilan Yesus kepada anak-anak, "Biarkanlah anak-anak itu datang kepada Ku. Jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah."

 

“Bu, Memang Banyak Ya, Orang Cebol di Sana?”

“Bu, Memang Banyak Ya, Orang Cebol di Sana?”

Apa Makna 1000 Hari Pertama Kehidupan?

Apa Makna 1000 Hari Pertama Kehidupan?