Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Pendidikan Kunci Mencegah Pernikahan Dini

Pendidikan Kunci Mencegah Pernikahan Dini

desain_billboard_bkkbn-e1458009029723.jpg

Pernikahan dini di Indonesia masih mempengaruhi remaja. Mereka tidak sadar akan hak-hak mereka. Konsekuensinya signifikan terhadap kesehatan dan kehidupan sosial mereka. Maka itu, penting untuk mencari cara mencegah pernikahan dini. Kasus pernikahan dini menurut Kantor Urusan Agama dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil pada 2014-2015 ada sebanyak 340.000 kasus. Angka tersebut belum termasuk kasus pernikahan siri. Selain itu, sesuai dengan temuan Badan Pusat Statistik di 2011, sebanyak 53.71% pernikahan dini di Kalimantan Selatan terjadi di usia remaja.

Cara-cara mencegah pernikahan dini terhubung dalam satu ide penting yaitu pendidikan. Upaya pertama yang dapat dilakukan dengan memberikan advokasi pencegahan pernikahan dini, Sering kali hal ini terbilang sulit karena masih lemahnya pemerintah dalam kordinasi dan perencanaan kebijakan. Maka perlu didukung berbagai yayasan, organisasi, pergerakan, dan lembaga lain.

Kedua, adalah mengedukasi anak perempuan hingga tumbuh kesadaran akan hak-hak yang mereka miliki.

Ketiga, peran penting orangtua dalam pertumbuhan anak. Banyak kasus pernikahan dini terjadi karena orangtua ingin mengurangi tekanan ekonomi. Mereka nikahkan anak perempuannya untuk memastikan mereka akan mendapatkan kehidupan lebih baik secara finansial.

Konsekuensinya, orangtua tak sadar akan komplikasi yang bisa terjadi pada diri anaknya. Karena mereka belum sepenuhnya siap untuk hamil dan melahirkan. Perlu juga diberitahukan kepada orangtua bahwa memberikan anaknya pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi bukanlah hal tabu lagi. Malah hal ini akan membantu anaknya mengerti dan merasa nyaman dengan diri, tubuh, dan seksualitas mereka. Dengan demikian bisa mengurangi kasus pelecehan seksual atau kekerasan. Mereka dapat mengatakan tidak pada kegiatan apapun yang tidak diinginkan, seperti disentuh atau dipaksa menyentuh orang lain.

Keempat, yaitu memobilisasi para tokoh-tokoh penting di berbagai tempat seperti para tokoh adat, agama, dan masyarakat. Juga mengedukasi para tokoh tersebut mengenai efek bahaya pernikahan dini.

Cara terakhir adalah menyebar luaskan isu pernikahan dini dengan berbicara kepada teman, keluarga, serta menggunakan sosial media untuk meningkatkan kesadaran yang lebih tinggi. Dengan pengetahuan serta advokasi yang melibatkan semua pihak, pernikahan dini dapat dicegah untuk melindungi para anak-anak dan remaja.

(Sumber: Bkkbn.go.id)

 

Pemkot Cimahi Ajak Masyarakat Bangun Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat

Pemkot Cimahi Ajak Masyarakat Bangun Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat

Cek Kondisi Jantung Sebelum Hamil

Cek Kondisi Jantung Sebelum Hamil