Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Pencegahan dan Penanganan Stanting dalam Perspektif Islam

Pencegahan dan Penanganan Stanting dalam Perspektif Islam

Pencegahan-Stanting-dalam-Pandangan-Islam-di-Kapuas.jpg

  Oleh : Dra.Badriyah Fayumi LC.MA

Pada Acara Pembekalan Tokoh Agama dan Masyarakat Kapuas, Kalimantan Tengah (16/03/16)

Dalam pandangan Al-Qur’an dan Al-Hadits, upaya untuk mewujudkan generasi berkualitas, kuat, sehat lahir dan batin, tumbuh dan berkembang optimal dengan salah satu indikatornya tidak mengalami stanting, merupakan kewajiban agama dan realisasi dari perintah Allah dalam Al Qur’an.

Allah SWT berfirman dalam QS an-Nisa’/4 ayat 9, yang artinya “Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraannya). Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berbicara yang benar.”

Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda yang artinya ,”Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Dan dalam masing-masing ada kebaikan” (HR Muslim). Para ulama menjelaskan yang dimaksud kuat di sini mencakup iman, ilmu, fisik, mental dan juga material. Kekuatan tersebut akan menjadikan seseorang bisa lebih maksimal menjalankan kewajibannya kepada Allah dan memberikan manfaat kepada sesama manusia dan alam semesta.

Jadi, pencegahan dan penanganan stanting merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya membentuk generasi yang diidealkan oleh Al-Qur’an dan Hadis, yakni generasi saleh yang kuat iman, ilmu, fisik, mental dan material, sehingga mereka diharapkan mampu menjadi pemimpin yang mewarisi bumi ini.

Upaya menekan semaksimal mungkin angka stanting merupakan lahan amal saleh bagi kita semua. Setiap pihak  berkewajiban melakukan langkah-langkah yang diperlukan, mulai orang tua/ wali, keluarga, masyarakat, pemerintah daerah, pemerintah, hingga negara,  sesuai porsi tanggungjawabnya masing-masing. Untuk mewujudkan generasi tersebut, Islam mengajarkan beberapa hal sebagai berikut :

  1. Memenuhi kecukupan gizi anak dan ibu (juga ayah) dari harta dan makanan yang halal dan thayyib (QS. Al-Baqarah/2 ayat 168)
  2. Memberikan ASI hingga usia dua tahun (QS. Al-Baqarah/2 ayat 233)
  3. Melakukan kerjasama suami-isteri dalam memenuhi kebutuhan gizi, sandang, dan kebutuhan lain (QS.Al-Baqarah/2 ayat 233)
  4. Berdoa agar anak-anak menjadi anak saleh sebagaimana doa Nabi Ibrahim AS. (lihat QS as-Shaffat/ 37 ayat 100), menjadi keturunan yang baik (dzurriyyah thayyibah) seperti doa Nabi Zakariya AS. (lihat QS Ali Imran/3 ayat 38), penyenang hati (qurrata a’yun) dan pemimpin orang-orang yang bertakwa  sebagaimana  disebutkan dalam QS al-Furqan/ 25 ayat 74  dan melakukan langkah-langkah menuju terkabulnya doa tersebut.
  5. Mengutamakan langkah preventif dalam menjaga kesehatan diri dan lingkungan. Ini sesuai hadis Nabi tentang menjaga 5 hal sebelum datangnya 5 hal, salah satunya “ jaga sehat sebelum sakitmu.”
  6. Melakukan berbagai langkah untuk menjaga kehidupan setiap jiwa, karena menjaga kehidupan satu nyawa sama dengan menjaga kehidupan seluruh umat manusia. (lihat QS al-Maidah/5 ayat 32 ….. “barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara sehidupan semua manusia …..”).
  7. Tidak melakukan tindakan-tindakan yang menyebabkan kebinasaan dan kerugian. Sebaliknya, mesti berbuat ihsan, dalam arti melakukan hal yang baik, lebih baik dan terbaik, serta memperbaiki perilaku yang sebelumnya kurang baik. Allah SWT berfirman dalam QS al-Baqarah/2 ayat 195 yang artinya “ dan infakkanlah (hartamu di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan”
  8. Membuat kebijakan yang menjamin kesejahteraan anak dan kemaslahatan keluarga.

 

 

 

 

Kabupaten Sukabumi Masih Dipusingkan Soal BAB Sembarangan

Kabupaten Sukabumi Masih Dipusingkan Soal BAB Sembarangan

Puskesmas Gelar Advokasi Kesehatan

Puskesmas Gelar Advokasi Kesehatan