Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Pemberian ASI Dalam Keadaan Bencana

Pemberian ASI Dalam Keadaan Bencana

menyusui-di-tempat-umum.jpg

Bencana dapat menyebabkan dampak yang besar bagi masyarakat yang mengalaminya. Mereka harus mengungsi atau pindah ke tempat lain, tinggal berdesak-desakan, kelaparan, kekurangan air bersih, sanitasi kurang baik, dan beban kerja sistem pelayanan kesehatan yang sangat tinggi. Keadaan tersebut meningkatkan angka kesakitan dan kematian bayi dan anak kecil. Dalam situasi tersebut, bayi yang tidak disusui mempunyai risiko tinggi terkena penyakit. Selain itu tidak adanya dukungan, sumber makanan, dan pengetahuan akan bagaimana cara pemberian makan pada bayi dan anak dalam keadaan darurat, ikut berkontribusi meningkatkan risiko timbulnya penyakit

Dalam keadaan bencana atau situasi darurat perlindungan yang diberikan oleh air susu ibu (ASI) menjadi sangat penting karena merupakan langkah cepat dan tepat yang dapat menyelamatkan jiwa bayi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak yang tidak disusui dan hidup di daerah yang rawan penyakit dan lingkungan tidak higienis mempunyai risiko antara 6-25 kali lebih tinggi untuk meninggal karena diare, dibanding anak yang disusui.

Langkah-langkah yang tepat diperlukan agar pemberian ASI atau proses menyusui tetap terjaga dan berkelanjutan, serta bayi dan anak mendapat asupan makanan dengan optimal. Rasa aman dan hangat yang didapatkan dengan menyusui merupakan hal penting bagi ibu dan bayinya dalam situasi kacau yang ditimbulkan suatu bencana. Risiko yang disebabkan oleh pemberian makan dengan botol dan susu formula meningkat secara dramatis pada keadaan ini, karena higiene yang buruk, populasi padat penduduk, dan terbatasnya air dan sumber energi. ASI dapat merupakan satu satunya jenis makanan bayi dan anak yang aman dan masih dapat terus tersedia.

Menepis mitos menyusui di saat becana

Pada keadaan bencana berkembang beberapa pendapat umum di masyarakat, antara lain:

  • Dalam keadaan stres, -- ibu tidak dapat menyusui
  • Ibu yang malnutrisi tidak dapat memproduksi cukup ASI
  • ASI yang sudah berhenti tidak dapat diusahakan untuk diproduksi kembali
  • Pemberian makanan/ minuman pengganti ASI (susu formula dan/ atau cairan lainnya) merupakan tindakan yang diperlukan pada keadaan bencana.

Pendapat-pendapat tersebut hanya merupakan mitos, karena sebenarnya Ibu dapat menyusui dengan baik dalam keadaan stres. Pengeluaran ASI dipengaruhi suatu refleks yang dinamakan letdown reflex yang memang dipengaruhi oleh stres, tetapi tidak demikian halnya dengan produksi ASI. Kedua proses ini dipengaruhi oleh 2 hormon yang berbeda. Cara mengatasi kurangnya pengeluaran ASI adalah dengan meningkatkan hisapan bayi pada payudara, sehingga meningkatkan pengeluaran hormon oksitosin. Penelitian membuktikan bahwa ibu menyusui mempunyai respons yang rendah terhadap stres Jadi, membantu ibu untuk memulai atau meneruskan menyusui dapat membantu mereka mengurangi stres yang dialaminya.

Pada kondisi bencana para ibu merasa khawatir serta kehilangan kepercayaan diri untuk tetap menyusui dan memberikan ASI untuk bayinya. Ibu akan tetap bisa memproduksi ASI yang berkualitas serta mampu memenuhi kebutuhan bayi meskipun ibu dalam kondisi stress penuh tekanan, panik, tidak tenang, takut dan sedih sekalipun. Ibu hanya perlu tetap menyusui bayi. Saat menyusui akan keluar hormon oksitosin dan prolaktin yang akan membuat ibu merasa nyaman, tenang dan bahagia. Sehingga ibu yang menyusui harus tetap didukung untuk menyusui, meskipun tinggal di tenda-tenda darurat pengungsian. Sebaiknya disediakan bilik menyusui supaya ibu bisa lebih merasa aman saat menyusui bayi mereka. Ayah bisa membantu menenangkan istrinya dan memberikan pijatan lembut di sekitar tulang belakang supaya ASI makin lancar.

Kiat menyusui darurat

  • Tenangkan diri dan yakinlah Anda tetap mampu memberi ASI meski stres. Carilah tempat yang cukup nyaman untuk duduk dan menyusui.
  • Pengeluaran ASI dipengaruhi refleks (let down reflex), dan bukan hormon stres kortisol. Untuk meningkatkan ASI, beri kesempatan bayi mengisap payudara cukup kuat dan lama.
  • Jumlah ASI dapat mencukupi kebutuhan bayi Anda, meski Anda kurang makan. Yang penting, minum banyak cairan, terutama air putih. Teruslah menyusui si kecil setiap kali dia lapar. Dengan sering mengosongkan kedua payudara, tubuh Anda akan terpicu untuk memproduksi ASI lebih banyak lagi sehingga bayi tidak akan kekurangan.
  • Jangan khawatir jika ASI terhenti. Dengan melakukan program relaktasi, kesabaran, keuletan, tekad, serta dukungan dari lingkungan, secara bertahap ASI dapat keluar kembali. Khususnya, bila emosi Anda sudah tenang.

Sumber: IDAI, Duniasehat.net

Anak Susah Makan? Yuk, Cari, Kenali Sebabnya, dan Atasi!

Anak Susah Makan? Yuk, Cari, Kenali Sebabnya, dan Atasi!

Ibu yang Sudah Tidak Menyusui Dapat Memproduksi ASI Kembali

Ibu yang Sudah Tidak Menyusui Dapat Memproduksi ASI Kembali