Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Pembangunan Gizi Tentukan Masa Depan Bangsa

Pembangunan Gizi Tentukan Masa Depan Bangsa

republika-co-id.jpg

Pembangunan gizi masyarakat Indonesia harus menjadi isu politik dan mendapat prioritas, karena menyangkut masa depan bangsa. Demikian dikatakan Guru Besar Departemen Gizi Masyarakat, Fakultas Ekologi Manusia IPB Prof Ali Khomsan MS. Hal yang mungkin terjadi akibat gizi kurang adalah sumber daya manusia kita yang kalah bersaing dengan SDM negara tetangga. Akhirnya kita terperangkap sebagai negara kelas menengah dan sulit melompat menjadi negara maju. Khomsan mengatakan, hasil Riset Kesehatan Dasar 2010-2013 prevalensi (jumlah) penderita gizi buruk di Indonesia meningkat dari 4,9 persen menjadi 5,7 persen. Prevalensi gizi kurang naik dari 13,0 persen menjadi 13,9 persen, dan anak "stunting" atau bertumbuh pendek juga meningkat dari 35,6 persen menjadi 37,2 persen. "Hampir lima juta anak Indonesia menderita gizi kurang. Kita ini ibarat bangsa yang tidak naik kelas karena besarnya masalah gizi ini," katanya.

Menurutnya, gizi kurang berdampak pada buruknya kualitas fisik anak-anak Indonesia yang bisa berimbas pada gangguan intelektualitas. Akibat gizi buruk ini juga, Indonesia menjadi kian terpuruk dan tertinggal dari negara-negara lain, serta sulit bersaing dengan negara-negara tetangga karena persoalan gizi. Persoalan gizi terjadi pula di beberapa negara, namun Indonesia memiliki ketiga persoalan gizi yakni gizi buruk, gizi berlebih (obesitas) dan stunting (bertumbuh pendek).

"Keteledoran dalam pembangunan gizi dan mengabaikan anak-anak bergizi kurang akan mengakibatkan munculnya kehilangan generasi pada dekade-dekade yang akan datang," katanya. Proses kurang gizi kini tengah berlangsung di tengah-tengah masyarakat (4,6 juta anak). Persoalan gizi bermula dari kemiskinan. Berdasarkan data yang baru dirilis BPS, jumlah orang miskin di Indonesia sekitar 28,5 juta orang, tetapi target pemberian beras miskin atau raskin sebesar 75 juta orang. "Program-program kemiskinan belum signifikan menekan jumlah orang miskin," katanya.

Ia juga mengkritisi, kriteria miskin yang ditetapkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) adalah pendapatan sekitar Rp 345 ribu per kapita per bulan. Apabila digunakan standar Bank Dunia yang menetapkan batas miskin adalah penghasilan setara 2 US Dollar per kapita per hari atau setara Rp 820 ribu per kapita per bulan. "Jika standar ini kita gunakan, maka jumlah orang miskin di Indonesia niscaya jauh melebihi angka yang selama ini disebutkan," katanya.

(Sumber : Antara)

 

ASI Tak Lancar, Bolehkah Bayi Diberi Susu Formula?

ASI Tak Lancar, Bolehkah Bayi Diberi Susu Formula?

Menkes Sebut Puskesmas Pasir Panjang Jadi Percontohan

Menkes Sebut Puskesmas Pasir Panjang Jadi Percontohan