Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Pelibatan Laki-Laki dalam Mendukung Kesehatan Ibu dan Anak

Pelibatan Laki-Laki dalam Mendukung Kesehatan Ibu dan Anak

Kelas-Bapak-Desa-Pdang-Bulan-Juni.jpg

Perlibatan Laki-Laki dalam Mencegah Stanting

Meskipun ibu umumnya lebih mungkin dibandingkan ayah untuk terlibat dalam kebutuhan kesehatan anak mereka, melibatkan para ayah juga penting. Bahkan, beberapa penelitian menunjukkan bahwa faktor keterlibatan ayah memberikan semangat bagi para ibu untuk membawa anak mereka ke fasilitas kesehatan seperti posyandu dan puskesmas untuk memantau perkembangan mereka.

Dan IMA World Health (Gizi Tinggi) juga menyadari bahwa dukungan para laki-laki dapat mencegah stanting. Oleh karena itu, salah satu program di kampenye gizi ini adalah kelas bapak atau pertemuan yang melibatkan laki-laki. Pertemuan ini biasanya terjadi di desa yang melibatkan orang-orang seperti ayah, ayah mertua, dan anggota laki-laki lain dari masyarakat desa untuk menyebarkan dan mendiskusikan pesan tentang gizi, kesehatan, masalah yang ada serta mendorong partisipasi mereka dalam perawatan kesehatan ibu dan anak.

Sejauh ini, telah ada 36 pertemuan di OKI, 14 di Kapuas dan 2 di Landak. Firman Saputra, fasilitator gizi di Kabupaten Jejawi di OKI, secara rutin bertemu dengan ayah dan anggota masyarakat laki-laki lain untuk menyebarkan isu stanting. Dia ingin memberitahu para laki-laki bahwa semua hal yang berkaitan dengan gizi bukan urusan “rumah tangga” yang tidak memerlukan perhatian mereka, alias ditumpahkan kepada istri mereka.

Tantangan yang kita kenal selama ini adalah posisi pria di masyarakat dan kurangnya dukungan dari sistem kesehatan dalam menampung para laki-laki. Misalnya, Firman ingin menyadarkan pentingnya para laki-laki untuk mendukung istri mereka, anak perempuan atau keponakan perempuan mereka untuk memberikan ASI ekslusif untuk memastikan bahwa anak-anak mereka mendapatkan nutrisi yang tepat.

Kemajuan perlibatan laki-laki di beberapa kabupaten mungkin dapat dibilang lambat, tapi stabil. "Kadang-kadang sulit untuk mengumpulkan semua laki-laki, terutama pada bulan Agustus karena itu musim panen. Masyarakat Jejawi berpenghasilan padi dan para laki-laki biasanya harus ada di lapangan dari pagi sampai sore, "katanya.

"Memang, awalnya mereka tidak tahu tentang stanting dan masalah gizi lainnya, tetapi mereka perlahan-lahan menerima dan memahami masalaa ini," ujarnya. Namun, Firman dan petugas kesehatan lainnya pasti harus berurusan dengan mitos yang sering tersebar. "Masih ada beberapa ayah yang bertanya apakah mereka bisa memberi ikan kepada anak-anak mereka, karena keyakinan bahwa ikan akan membuat anak cacingan,". Kesalahpahaman ini memang terkadang sulit untuk diatasi. Tetapi Firman tidak pernah kekurangan antusiasme untuk mengedukasi mereka dari sudut pandang ilmiah tentang gizi; seperti meyakinkan mereka ikan yang berlimpah dengan manfaat, seperti omega 3 untuk perkembangan otak anak.

Farid Hadi Sasongko, adalah fasilitator kabupaten lain di Kecamatan Mesuji, Ogan Komering Ilir (OKI). Ia memanfaatkan peluang yang ada di masyarakat sebagai strategi untuk menyebarkan pesan tentang stanting, dan pentingnya asupan gizi yang tepat pada 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK). Contohnya, ia adalah ketua Karang Taruna desa Margo Bakti dan wakil ketua kelompok pemuda di kecamatan Mesuji. Oleh karena itu, ia menemukan bahwa memobilisasi kelompok laki-laki di karang taruna tersebut dapat memantu mereka untuk memahami lebih jauh tentang stanting. Dan Farid telah melakukan hal tersebut sejak bulan Juli tahun ini. “Saya berusaha memanfaatkan berbagai kesempatan dan peluang untuk menyebarkan pesan tentang stanting. Mengapa? Karena tidak mungkin masyarakat akan sepenuhnya paham kalau kita hanya bergantung pada kelas ibu dan aktifasi posyandu saja. Apalagi bapak-bapak, waktu mereka terbatas karena mereka sangat sibuk mencari nafkah. Setiap ada kesempatan atau rapat, saya terus hadir dan mengaitkan pesan stanting ke dalam acara,” kata Farid.

Yuk, Kenali Mikronutrien Kepada Anak!

Yuk, Kenali Mikronutrien Kepada Anak!

Bahaya Gadget untuk Kesehatan Mata Anak

Bahaya Gadget untuk Kesehatan Mata Anak