Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

"Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga..."

"Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga..."

Ibu-Ayu-Soraya-dan-Anaknya-Alena-Putri.jpg

“Orang bilang tanah kita tanah surga,

Tongkat, kayu, batu pun jadi tanaman…”

Cukilan dari lagu sebuah lagu dari Koes Plus itu bukanlah sebuah bait syair lagu semata. Tanah subur nusantara, sumber alam nan melimpah ditambah sinar matahari yang bersinar sepanjang tahun, membuat pertanian bisa tumbuh kapanpun dan dimana pun.

Begitu juga di desa Bunga Mawar, Kecamatan Pulau Petak, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Desa ini berjarak sekitar 4 jam perjalanan dari kota Palangkaraya, Propinsi Kalimantan Tengah. Penduduk Bunga Mawar adalah desa dengan penduduk yang sebagian besar bekerja sebagai petani, dengan lahan yang subur dan sumber daya perikanan yang sangat melimpah. Berbagai varietas ikan lokal bisa dijumpai dengan mudah di wilayah ini, seperti : ikan patin, haruang dan ikan lainnya. Namun, situasi kekayaan alam yang sangat kaya membuat, sangat berbeda dengan potret situasi gizi masyarakatnya. Didesa ini tercatat, ada sekitar 1 dari 3 balita mengalami stanting, Mengapa bisa demikian ?

MITOS !, mungkin itu hal pertama penyebabnya.  Mitos-mitos tradisional seputar kehamilan dan makanan anak masih di percaya  masyarakat, dan disayangkan banyak mitos-mitos ini tidak sesuai dengan fakta kesehatan. Seperti yang disampaikan oleh Bidan Tri Wahyuni bidan koordinator posyandu Bunga mawar, “…pernah dengar kan? Ada mitos kalo ibu hamil tidak boleh makan belut, kalo dilanggar, maka bayi yang lahir bisa berkulit belang kaya belut.”

Banyak dari mitos yang berkembang tersebut, justru membuat ibu hamil dan anak tidak bisa menikmati asupan gizi dari sumber pangan lokal yang melimpah.

PENGETAHUAN mungkin menjadi penyebab yang kedua. Banyak ibu merasa bahwa mempersiapkan MPASI sulit dan membutuhkan biaya yang mahal, selain mahal bahan nya pun sulit di dapat, karena harus dibeli di kota. Karena itu, banyak ibu yang “menyerah”, dengan tidak mempersiapkan MPASI untuk bayi, namun lebih kepada makanan pada orang dewasa saja. Sedangkan untuk MPASI biasanya hanya seputar bubur encer saja.

“Mereka nggak mau menyediakan waktu untuk menyiapkan makanan bayi. Kadang-kadang mereka kalau menyiapkan menu itu, menu orang dewasa,” ujar Bidan Tri Wahyuni.

Hal ini menjadi perhatian dan tantangan dari program Kampanye Gizi Nasional di wilayah Kapuas. Bersama – sama dengan Puskesmas, bidan dan kader, program gizi nasional mendorong perubahan prilaku masyarakat untuk peningkatan gizi. Pendekatan pada para tetua adat, pemuka agama dan kalangan tokoh masyarakat dilakukan seiring dengan kegiatan pendidikan pada suami dan para ibu seperti di kelas ibu,kelompok pengajian dan konseling di posayandu secara intensive dilakukan.

ibu Ayu Soraya (26 tahun) contohnya, ia adalah salah seorang anggota masyarakat yang aktif terlibat dalam kegiatan kampanye KGN. “(Manfaatnya) lumayan banyak. Sekarang saya lebih tahu banyak tentang gizi, dan juga stanting,” ungkapnya.

“Sewaktu hamil,saya suka makan ikan, makan ati ayam. Sayur, apa saja ?” kata Ibu Ayu Soraya lagi, “ … saat itu mertua melarang saya, tapi saya makan saja. Buktinya bayi saya sehat”.

Putri dari Ibu Ayu Soraya, bernama Alena Putri yang sekarang sudah berumur 9 bulan, dalam kondisi sehat dan berat badan berbading umur digaris hijau (berat badan seimbang).

Ibu Ayu Soraya ingin yang terbaik untuk anaknya. “Saya tidak mau kayak orang jaman dulu yang makannya hanya ikan asin. Bumbunya diganti merica, sama bawang putih. Nggak ada sayurnya…Padahal kan kurang sehat ya?” ujarnya, sambil tertawa kecil sambil menggendong Alena.

Di sini lah ia berharap bahwa posyandu akan semakin aktif dan menjadi sarana peningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, dan sebagai tempat di mana para ibu-ibu bisa belajar mengenai kesehatan keluarga dan pembuatan MPASI.

“Jangan malas ke posyandu, kalua mau anak kita jadi sehat,” ucap bu Ayu dengan bangga.

Penyebab Bayi Meninggal dalam Kandungan

Penyebab Bayi Meninggal dalam Kandungan

51 Juta Penduduk Indonesia Masih Buang Air Besar Sembarangan

51 Juta Penduduk Indonesia Masih Buang Air Besar Sembarangan