Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Mitos Seputar MPASI: Siapa Bilang Ikan Tidak Boleh?

Mitos Seputar MPASI: Siapa Bilang Ikan Tidak Boleh?

mpasi-makanan-bayi.jpg

Setelah memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, asupan gizi yang diperlukan oleh bayi tidak lagi cukup didapatkan dari ASI saja. Oleh karena itu, bayi membutuhkan sumber energi dan gizi tambahan dari bahan makanan padat pertamanya. Namun, terkadang kita sering berpasan dengan banyak pendapat yang tersebar di masyarakat tentang MPASI. Dan pada akhirnya, pendapat tersebut cenderung menjadi mitos karena tidak semua informasi tersebut benar. Mari kita simak beberapa mitos yang ada.

  1. Mengenalkan makanan padat sejak dini membuat bayi bisa tidur pulas di malam hari.

Mitos ini sangat tidak benar karena sesuai dengan rekomendasi WHO dalam Complementary feeding: Family foods for Breastfed Children, MPASI sebaiknya dimulai setelah bayi berusia 6 bulan atau 180 hari.

Nah, tetapi dengan saran dari dokter, pemberian MPASI dapat dimulai lebih awal, yaitu pada 4 sampai 6 bulan karena berbagai kondisi. Seperti, 1) Berat badan bayi kurang, sekalipun pemberian ASI sudah berjalan dengan optimal, atau 2) Bayi cepat terlihat lapar kembali setelah menyusui dengan cukup.

Jika bayi kurang dari 4 bulan, tidak direkomendasikan untuk diberikan MPASI karena, fungsi motorik lidah belum berkembang secar sempurna. Selain itu, sistem pencernaanya belum terlalu matang untuk mencerna makanan yang padat.

2. Madu merupakan bahan makanan yang sehat dan baik diberikan kepada bayi

Sebaiknya, ibu jangan dulu memberikan atau memasukan sedikit madu dalam MPASI yang sudah disiapkan ketika bayi kurang dari 12 bulan. Ini dikarenakan bakteri clostridium botulinum yang ada di madu. Bakteri tersebut bisa menimbulkan konstipasi pada bayi, hilangnya nafsu makan, dan gangguan pernafasan. Madu baru boleh diberikan madu setelah umurnya satu tahun, karena tubuhnya mulai lebih kuat untuk menghindari bakteri yang ada di dalam makanan tertentu.

3. Makanan yang dilepeh atau disembur si bayi adalah pertanda bahwa ia tidak menyukainya.

Jika makanan dilepeh atau disembur, belum tentu bayi tidak menyukainya. Ini hanya reflek terhadap benda atau rasa asing yang masuk ke dalam mulutnya. Bukan berarti bayi tidak suka rasanya, tapi belum mengenal saja. Oleh karena itu, kenalkan satu rasa minimal 4 hari sehingga seminggu. Setelah itu, bayi boleh diperkenalkan dengan rasa yang lain. Sedangkan, pada bayi yang sudah diberikan MPASI berkelanjutan (di atas 6 bulan), itu adalah tanda bahwa bayi sudah kenyang.

4. Tunda pemberian ikan dan telur sampai anak 1 tahun.

Nah, mitos tentang pemberian ikan mungkin adalah salah satu yang sering kita temukan di masyarakat, tetapi pemikiran ini dapat dibilang sudah kuno. Alasan yang paling sering didengar adalah bahwa bayi akan bau amis. Bahkan, mitos ini juga berlaku ketika ibu masih mengandung dan ia tidak diperbolehkan untuk makan ikan.

Tetapi, tentu saja kita dapat mengenalkan ikan sebagai makanan padat pertamanya dengan cara dihaluskan. Indonesia sebagai negara maritim tidak kalah dengan negara lain atas ketersediaan ikan yang ada. Ikan mengandung omega 3 sebagai asam lemak tak jenuh untuk pertumbuhan otak, mata, dan saraf bagi bayi. Ikan juga mengandung vitamin D yang baik untuk pertumbuhan tulang si bayi. Bayi juga akan mendapatkan 300 mg DHA dalam satu hari dari ASI, serta tambahan dari ikan sebanyak 2 ons per minggu.

5. Jauhkan hati pada bayi karena ‘beracun’

Masih banyak orang tua yang masih enggan menyampurkan hati di menu MPASI harian si bayi karena organ ini dianggap beracun. Menurut dr. Yoga Devaera, SpA(K) dari RSIA Brawijaya Kebayoran Baur, hati justru baik untuk diberikan kepada bayi karena kandungan zat gizi yang sangat tinggi. Sejauh ini, belum ada bukti bahwa konsumsi hati dapat membuat anak keracunan.

Sumber: health.detik, ayahbunda.co.id dan berbagai sumber lainnya.

Yuk, Siapkan Keperluan Menyambut Bayi Usia MPASI!

Yuk, Siapkan Keperluan Menyambut Bayi Usia MPASI!

Dr. Utami Roesli: Gagal Menyusui Mendorong Perjuangan Untuk ASI

Dr. Utami Roesli: Gagal Menyusui Mendorong Perjuangan Untuk ASI