Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Menyusui, Kunci  Pembangunan Berkelanjutan
218a661768599fb86757852d0ab6f3bb.jpg

                  "Success in breastfeeding is not the sole responsibility of a woman

                  the promotion of breastfeeding is a collective societal responsibility"

Seri Pemberian Air Susu Ibu (ASI) atau Breastfeeding Series yang diterbitkan oleh The Lancet mengungkapkan bahwa menyusui menjadi sangat penting, tidak hanya untuk masa depan anak, tapi juga dunia.

Nemat Hajeebhoy dari inisiatif Alive & Thrive yang berkontribusi pada Seri The Lancet menyempatkan berbincang pada puncak perayaan Hari Gizi Nasional, di Balai Kartini, Jakarta (22/3/16).

Ia menggarisbawahi bahwa pemberian ASI adalah hak sang anak. Selain itu, ASI eksklusif adalah sumber makanan yang alami, renewable dan sangat penting untuk kebutuhan gizi bayi pada enam bulan pertama. Pemberian ASI sampai usia anak 2 tahun juga harus dijaga, untuk memastikan mereka menerima semua zat gizi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangannya agar tidak stanting dan demi kelangsungan hidup bangsa yang maju. Baiknya lagi, semua ini tidak membutuhkan biaya berlipat-lipat.

Indonesia masih mempunyai langkah yang panjang. Mengapa? Karena tampaknya agak sulit meyakinkan masyarakat, terutama para ibu bahwa susu formula dan susu sapi tak akan pernah bisa menguntungkan ibu dan bayi seperti halnya air susu manusia. Bahkan, lanjut Nemat, pada tahun 2014, industri asupan pengganti ASI di Indonesia bernilai 2 Miliar US Dollar atau sekitar 26 triliun Rupiah.

Mari kita lihat analisa yang dinyatakan The Lancet  mengenai dampak ekonomi pada negara jika pemberian ASI tidak didorong di Indonesia.

  • 1,4 miliar US Dollar atau sekitar 18 triliun Rupiah dalam kerugian upah tahunan. Ini dapat dicegah setiap tahunnya dengan meningkatkan pemberian ASI dan kemudian kemampuan belajar anak.
  • 256 juta US Dollar atau sekitar 34 miliar Rupiah dalam pengeluaran sistem kesehatan bisa diselamatkan setiap tahun, dengan menghilangkan penyakit yang sering diderita anak seperti diare dan pneumonia. Ini karena praktek menyusui yang tidak memadai.
  • Akhirnya, 14 persen dari penghasilan bulanan bisa diselamatkan oleh keluarga Indonesia, dengan tidak harus membeli susu formula.

Selain itu, Nemat juga mengatakan, susu formula akhirnya akan mencemari lingkungan sekitar kita, udara dan laut, dibandingkan dengan ASI yang jauh lebih environmentally friendly.

Jadi, kita lihat bahwa pemberian ASI yang begitu sederhana memiliki dampak yang lebih besar. Maka itu, advokasi pemberian ASI menjadi tanggung jawab kita untuk memastikan bahwa bangsa Indonesia akan terus menghasilkan generasi yang bergizi, sehat dan berprestasi.

(Sumber: Booklet dan Leaflet Breastfeeding Series oleh The Lancet)

 

 

Menkes: Butuh Tindakan Non-Kesehatan untuk Perbaikan Gizi

Menkes: Butuh Tindakan Non-Kesehatan untuk Perbaikan Gizi

Bangka Belitung Akan Gelar Seminar Perbaikan Gizi

Bangka Belitung Akan Gelar Seminar Perbaikan Gizi