Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Menuntut Hak Kesehatan Dalam Dana Desa
posyandu-melati.jpeg

Matahari belum bersinar terik, dingin pagi masih terasa. Namun ada yang berbeda di kantor desa Pematang Sukatani pagi itu. Tidak seperti biasanya, suasana di sekitar desa lebih ramai dari biasanya. Beberapa ibu-ibu tampak bergerombol di halaman belakang desa, sementara anak–anak balita berlarian bermain, berteriak dan bergembira. Selain itu, ada beberapa kader kesehatan dengan cekatan menyiapkan peralatan dan menyusun meja. Hari itu hari pertama penggunaan gedung posyandu permanen di desa Pematang Sukatani  Bangunan sederhana, tidak luasnya 11x7x4 meter persegi yang dibangun tepat di belakang balai desa Pematang Sukatani, Kecamatan Mesuji Makmur, Kabupaten OKI (Ogan Komering Ilir). Posyandu ini memang belum sepenuhnya siap, Bagi masyarakat desa setempat, keberadaan posyandu baru ini memberikan arti  yang sangat berbeda, dimana ini adalah hasil capaian pembelaanhak rakyat.

“Sebelum posyandu dibangun kami selalu menumpang di kantor desa , kadang kala kami harus bergantian dengan sekolah PAUD di Posyandu Melati. Bahkan di emperan rumah warga keluh kesah dari warga desa Pematang Sukatani dan yang pasti kami (posyandu) selalu berpindah-pindah. Bisa pakai rumah penduduk, di teras atau tempat lain,” ungkap ibu Duriyah, seorang kader posyandu desa Pematang Sukatani, “Sepi sekali, sepertinya tidak ada yang peduli tentang kami”.

Posyandu seperti di banyak tempat dipedesaan lainnya, Posyandu seakan ada namun tiada. Kadang nama posyandu dan kader posyandu ada jelas terpampang, namun kegiatan posyandu terkadang jarang dilakukan. Yang lebih memprihatinkan, sering kali Posyandu sepi, dengan tingkat kunjungan bayi dan balita rendah. Secara umum kondisi ini disebabkan salah satunya karena kurangnya perhatian dari pemilik posyandu – yaitu masyarakat desa. Paradigma pembangunan yang lebih menekankan pada pembangunan fisik dan ekonomi membuat perhatian pada posyandu sebagai ujungt ombak pelayanan kesehatan semakin terabaikan.

“Kalau usulan perbaikan jalan, pasti cepat. Tapi saat kader meminta alat posyandu, seakan tidak ada yang mendengar…!,” cerita bidan Yesiana.

©IMA/Mentari  Posyandu baru yang dibangun menggunakan dana desa.

Kesehatan (pelayanan kesehatan) sesungguhnya adalah hak masyarakat, namun sering kali karena tidak banyak pihak yang menyuarakan, hak ini dikalahkan dengan usulan dan kebutuhan pembangunan lainnya, terutama kebutuhan pembangunan fisik.

Di sini, Afrianto, atau akrabnya dipanggil Mas Afri oleh ibu bidan dan kader posyandu di desa Pematang Sukatani berinisiatif. Mas Afri adalah fasilitator Kecamatan Masuji Makmur, Kabupaten OKI yang merupakan bagian dari program Kampanye Gizi Nasional (KGN) yang diprakarasai oleh KEMENKES dan Millennium Challenge Account – Indonesia.

Pagi itu, Mas Afri mulai menuturkan kisahnya, “Awalnya, dari obrolan dengan pak Kades Sujono, Kades Desa Pematang Sukatani, awal tahun lalu. Pak Kades menyampai kan ada alokasi dana desa untuk pembangunan sarana pelayanan masyarakat dan penentuannya harus melewati musyawarah mufakat desa (MMD),” lanjutnya lagi, “Lalu terpikir tentang gedung posyandu, kan desa ini tidak punya,”

Ide pengusulan pembangunan gedung posyandu ke MMD tersebut Mas Afri sampaikan pada kader dan bidan. Ia berharap, kader dan bidan bisa berbicara dan mengusulkan pada kegiatan MMD, namun kurang mendapatkan tanggapan baik, dengan berbagai alas an seperti : “Percuma, pasti tidak disetujui,” “Nggak ada yang mendukung,” hingga ada yang bilang “Takut dan malu bicara di MMD, karena Cuma seorang kader,”

©IMA/Mentari  Posyandu baru desa Pematang Sukatani seluas 11x7x4 meter persegi

Tidak mudah mendorong perubahan, perlahan dan intensif. Namun Mas Afri tetap semangat mendorong dan meyakinkan kader dan bidan bahwa ada hak kesehatan dalama lokasi pembangunan desa saat ini. Semua hak tersebut diatur dan dilindungi oleh perundangan. Namun hak ituakan bisa diterima jika kader dan bidan mulai menyuarakan di forum resmi, yaitu MMD.

“Alhamdulilah, akhirnya mereka (kader dan bidan) berani mengusulkan di MMD. Usulannya membuat gedung posyandu untuk pelayanan warga. Selain itu mereka juga aktif, mendekati Pak Kades dan BPD (Badan Pengawas Desa) untuk meyakinkan bahwa gedung posyandu penting dan dibutuhkan” kata Mas Afrianto.

Kerja keras dan advokasi para kader dan bidan di Desa Pematang Sukatani, berhasil. Usulan pembangunan posyandu diterima dalam MMD, tanggal 23, bahkan berhasil mengalahkan usulan lain seperti :usulan perbaikan gedung desa, pembangunan gedung RT dan lainnya. Gedung Posyandu seluas 11x7x4  meter persegi  yang  didirikan di tanah wakaf milik desa dengan total biaya pembangunan sebesar kurang lebih Rp.80 juta sampai Rp. 100 juta telah berhasil di bangun.

Namun janji dari pak kades lagi bangunan tersebut akan dikeramik agar terlihat lebih bersih bila mana bangunan tersebut setelah digunakan untuk posyandu. Selain itu, posyandu baru ini bisa juga dimanfaatkan untuk pertemuan antar-warga desa dan pamong desa Karen yang bentuknya seperti aula. Manfaat pada masyarakat mulai terasa, perhatian masyarakat mulai terlihat, isu kesehatan mulai menjadi agenda diskusi utama di pembangunan desa.

Keberanian dan the power of Kader Posyandu ternyata berhasil membela hak kesehatan didesa. Nah, ini saatnya Anda untuk bergerak!

Cerdas, Bidan Ini Membuat Kelas Ibu dari Media Online

Cerdas, Bidan Ini Membuat Kelas Ibu dari Media Online

Selamat Hari Kesehatan Dunia!

Selamat Hari Kesehatan Dunia!