Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Mengapa Bayi Alami Gumoh?

Mengapa Bayi Alami Gumoh?

PHGkakzlW1.jpg

Hampir setiap bayi mengalami kejadian gumoh, yaitu keluarnya cairan putih dari mulutnya. Jumlahnya bisa sedikit atau banyak. Gumoh hampir sama kejadiannya dengan muntah, yaitu pengeluaran isi dari lambung. Bedanya, gumoh hanya berupa aliran cairan saja sedangkan muntah jumlahnya cenderung banyak dan dengan kekuatan mengeluarkannya.

Gumoh pada bayi bisa dialami sekali atau lebih dalam sehari. Biasanya terjadi setelah bayi menyusu. Tak perlu khawatir, karena gumoh merupakan hal biasa dan normal terjadi. Gumoh paling sering terjadi pada bayi hingga usia 6 bulan.

Penyebabnya karena fungsi organ pencernaan bayi belum sempurna, seperti katup yang ada antara kerongkongan dan lambung. Ketika susu masuk dari mulut ke kerongkongan katup akan membuka dan setelah itu akan menutup kembali. Tetapi, karena katup belum sempurna maka tidak menutup sempurna, dapat membuka sendiri. Akibatnya aliran dari lambung bisa kembali balik ke kerongkongan, yang diistilahkan dengan refluks.

Selain itu, gerakan peristaltik usus bayi juga belum sepenuhnya optimal. Sehingga masuknya cairan susu ke saluran pencernaan usus belum sempurna. Apalagi bila susu yang masuk melebihi kapasitas lambung. Hal ini mudah memicu terjadinya aliran balik atau refluks. Aktivitas bayi yang banyak gerak seperti menggeliat atau menangis setelah menyusu juga bisa menyebabkan bayi gumoh. Karena gerakan bayi tersebut bisa menyebabkan bagian perut tertekan dan mengakibatkan terjadinya aliran balik dari lambung ke kerongkongan.

Seiring dengan bertambahnya usia bayi, gumoh akan berkurang dan hilang dengan sendirinya. Umumnya ketika bayi sudah mendapatkan makanan padat. Karena jenis makanan padat yang dikonsumsi bayi akan dapat tertahan di lambung daripada makanan cair seperti susu yang mudah menyebabkan terjadinya aliran balik dari lambung.

Cara meminimalkan gumoh pada bayi yaitu dengan cara :

  1. Hindari memberikan ASI/susu saat bayi berbaring. Susui bayi dengan posisi yang tepat, miringkan tubuhnya dengan kepala lebih tinggi dari posisi kaki sehingga cairan yang masuk bisa turun ke lambung. Bibir bayi  melekat dan menutupi  puting susu serta daerah berwarna hitam di sekitarnya (aerola). Dengan begitu, kemungkinan udara yang masuk dan tertelan selama menyusu bisa diperkecil. 
  2. Sendawakan bayi setelah minum susu. Gendong dengan memposisikan bayi tegak dan tepuk-tepuk perlahan bagian punggungnya hingga terdengar suara udara yang keluar.
  3. Setelah bayi minum susu, hindari membaringkan bayi, meletakkan bayi tengkurap atau duduk karena dapat meningkatkan tekanan pada perutnya.

Ketika gumoh terjadi saat bayi dalam posisi tidur, jangan segera diangkat. Sebaiknya bayi dimiringkan atau ditengkurapkan. Biarkan gumohnya keluar. Jika langsung diangkat dikhawatirkan gumoh akan masuk ke saluran napas/paru-paru. Jika gumoh terjadi ketika bayi tengah digendong ibu, sebaiknya posisikan bayi tegak sambil ditepuk-tepuk  pelan punggungnya.

Bayi yang mengalami gumoh tak perlu diberikan obat-obatan ataupun dibawa ke dokter.  Gumoh tidak akan berdampak pada kesehatannya. Gumoh yang perlu ibu waspadai bila kejadian gumohnya sering, berlebihan, dan tidak hanya sehabis disusui saja. Bayi menjadi rewel atau gelisah serta menolak makan/minum, ada bercampur darah atau muntahan berwarna hijau, bayi tampak kesakitan, dan sebagainya. Jika ditemui ciri seperti itu maka sebaiknya konsultasikan ke dokter untuk dicari penyebabnya dan segera ditangani.

Mencegah Gangguan Mental Pada Anak

Mencegah Gangguan Mental Pada Anak

Tips Menyusui Setelah Melakukan Persalinan Caesar

Tips Menyusui Setelah Melakukan Persalinan Caesar