Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Masalah Gizi Balita Ada di 404 kabupaten atau kota di Indonesia

Masalah Gizi Balita Ada di 404 kabupaten atau kota di Indonesia

5_masalah_gizi_pada_balita-e1458548833864.jpg

  Kekurangan gizi pada anak di bawah usia lima tahun dapat menghambat pertumbuhan kecerdasan mereka. Untuk itu, pemerintah pusat dan daerah didorong untuk memprioritaskan penanganan gizi balita.

Merujuk data Pemantauan Status Gizi (PSG) 2015 oleh Kementrian Kesehatan, ada 404 kabupaten atau kota di Indonesia memiliki masalah gizi balita akut dan kronis. Riset PSG 2015 pada September hingga Desember 2015 di 496 kabupaten atau kota dengan data dari 165.523 anak balita. Adapun riset PSG 2014 di 150 kabupaten atau kota dengan data dari 39.168 balita.

Direktur Gizi Kesehatan Masyarakat Kemenkes Doddy Izwardy mengatakan dalam jumpa pers di Kemenkes (18/03/16), bahwa pihaknya memakai kriteria Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam menetapkan daerah bermasalah atas gizi. Kriterianya adalah prevalensi anak balita yang pendek atau stanting dan kurus.

Adapun kriteria gizi akut-kronis ialah daerah dengan prevalensi balita stantingnya 20% atau lebih dan balita kurusnyak 5% atau lebih. Kriteria kronis ialah daerah dengan prevalensi balita pendek sebanyak 20% atau lebih dan balita kurus kurang dari 5%. Kriteria akut adalah prevalensi anak balita yang kurus kurang dari 20% dan anak balita kurus sebanyak 5% atau lebih.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Ahli Gizi Indonesia Minarto mengatakan, kebutuhan nutrisi pada anak balita harus dipenuhi. Gizi kurang memicu anak balita bertubuh pendek atau stanting. "Kalau bangsa ini mau maju, harus disiapkan pembangunan manusia sejak usia dini," ujarnya.

Menurut Survei Gizi Asia Tenggara (SEANUTS) 2011 di Indonesia, ada perbedaan tingkat kecerdasan anak bertubuh normal dan pendek. Ada 18.4% anak normal dengan kecerdasan level superior dan 10.1% anak pendek punya kecerdasan superior. "Jika asupan gizi tercukupi, anak punya tingkat kecerdasan lebih," ucap Minarto.

 

Acuan Kebijakan 

Menurut Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes Anung Sugihartono, riset PSG bisa menjadi acuan penerapan kebijakan pembangunan manusia oleh pemerintah pusat dan daerah. "Hasil PSG ini bisa mendorong kebijakan daerah agar memperhatikan konsep pembangunan manusia."

Tantangan peningkatan gizi masyarakat antara lain minimnya tenaga ahli gizi di puskesmas. Kini ada sekitar 9000 puskesmas di Indonesia, 24 persen di antaranya tidak punya tenaga ahli gizi.

Meski demikian, PSG 2015 menunjukkan, angka gizi buruk anak balita pada 2015 turun dibandingkan dengan 2014. Tiga indikator status gizi anak balita, yakni berat badan dibandingkan dengan usia, tinggi badan dibandingkan dengan usia, dan berat badan dibandingkan dengan tinggi badan.

Status gizi buruk balita menurut indeks berat badan 2015 mencapai 3,8 persen, turun dari 2014 sebesar 4,7 persen. Adapun status gizi balita pendek 2015 ada di 10.1 % dan turun dari 2014 yang berada di 10.9%. “Hal ini karena intervensi perbaikan gizi spesifik atau penanganan gizi secara langsung, seperti pemberian makanan tambahan, dan penanganan gizi tak langsung, seperti penyediaan air bersih, “papar Doddy.

 

(Sumber: Kompas)

 

Makna Dibalik Hari Air Sedunia

Angka Permasalahan Gizi di Indonesia Masih Tinggi

Angka Permasalahan Gizi di Indonesia Masih Tinggi