Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Masalah dan Kebijakan Gizi di Indonesia

Masalah dan Kebijakan Gizi di Indonesia

wwwdinamikakepricom.jpg

Indonesia masih menghadapi permasalahan gizi yang berdampak serius terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM), seperti kegagalan pertumbuhan, berat badan lahir rendah, pendek, kurus dan gemuk, dimana perkembangan selanjutnya seorang anak yang kurang gizi akan mengalami hambatan kognitif  dan kegagalan pendidikan. Ini berdampak  pada rendahnya produktivitas di masa dewasa. Kurang gizi yang dialami saat awal kehidupan juga berdampak pada peningkatan risiko gangguan metabolik yang berujung pada kejadian penyakit tidak menular seperti diabetes type II, stroke, penyakit jantung, dan lainnya pada usia dewasa.

Salah satu kebijakan nasional dalam upaya perbaikan gizi masyarakat tertuang dalam Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009, bahwa upaya perbaikan gizi ditujukan untuk peningkatan mutu gizi perorangan dan masyarakat. Selanjutnya, dalam rangka percepatan perbaikan gizi, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden nomor 42 tahun 2013 tentang Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi yang fokus pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

Gerakan ini mengedepankan upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat melalui penggalangan partisipasi dan kepedulian pemangku kepentingan secara terencana dan terkoordinasi untuk percepatan perbaikan gizi masyarakat dengan prioritas pada 1000 HPK

Sasaran global tahun 2025 disepakati adalah sebagai berikut: 1) Menurunkan proporsi anak balita yang pendek (stunting) sebesar 40%; 2) Menurunkan proporsi anak balita yang menderita kurus (wasting) < 5%;  3) Menurunkan anak lahir berat badan rendah (BBLR) sebesar 30%; 4) Tidak ada kenaikan proporsi anak yang mengalami gizi lebih; 5) Menurunkan proporsi ibu usia subur yang menderita anemia sebanyak 50%; 6) Meningkatkan prosentase ibu yang memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan lebih kurang 50%.

Untuk mencapai sasaran global tersebut, pemerintah Indonesia melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019. Kementerian Kesehatan memfokuskan 4 program prioritas yaitu, percepatan penurunan kematian ibu dan bayi, perbaikan gizi khususnya stunting, penurunan prevalensi penyakit menular dan penyakit tidak menular.

Agar sumber daya yang ada dapat dimanfaatkan secara efektif dan efisien, maka upaya tersebut diselenggarakan secara terintegrasi. Sejak dari perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, hingga evaluasi. Sasarannya difokuskan kepada keluarga, dengan menghidupkan kembali pendekatan keluarga, ujar Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat, dr. Anung Sugihantono, M.Kes, pada pembukaan Puncak Peringatan Hari Gizi Nasional ke-56 tahun 2016 di salah satu gedung pertemuan di kawasan Jakarta Selatan (21/3/16).

Pendekatan keluarga bertujuan untuk mengubah perilaku keluarga dan masyarakat khususnya dalam pengenalan diri terhadap risiko penyakit. Pendekatan keluarga adalah pendekatan pelayanan integrasi antara Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) dan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) yang didasari oleh data dan informasi profil kesehatan dan keluarga melalui kunjungan rumah. Pendekatan keluarga diharapkan dapat meningkatkan akses keluarga terhadap pelayanan kesehatan yang komprehensif, tambah dr. Anung.

(Sumber : www.kemkes.go.id)

Kegiatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-56 Tahun 2016

Kegiatan Hari Gizi Nasional (HGN) ke-56 Tahun 2016

Sejarah Lahirnya Hari Gizi Nasional

Sejarah Lahirnya Hari Gizi Nasional