Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Lampung: Ayo Cegah Stanting!

Lampung: Ayo Cegah Stanting!

lampung-ayo-cegah-stanting.png

  Hari Gizi Nasional diperingati setiap tanggal 25 Januari. Tema peringatan tahun ini,  “Cegah Stanting, Gizi Baik, Tinggi, dan Berprestasi. Tema ini diangkat mengingat masalah Stanting adalah masalah yang memerlukan perhatian kita bersama dan seringkali “pendek” dianggap bukan masalah.

Pendek (stunted) adalah masalah kurang gizi kronis. Ini disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama, akibat dari pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

Stanting adalah suatu kondisi pendek yang diketahui berdasarkan pengukuran Panjang Badan menurut Umur (PB/U) atau Tinggi Badan menurut Umur (TB/U). Acuannya sesuai standar yang telah ditetapkan WHO. Stanting dibagi menjadi 2 katagori;  sangat pendek dan pendek

Pada tahun 2012  WHO menyepakati agar setiap negara mengupayakan agar stanting pada balita < 5%. Secara nasional, gambaran stanting pada balita dapat dilihat dari 3 Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang telah dilakukan oleh Kementerian Kesehatan RI yaitu tentang Proporsi Balita Pendek dan Sangat Pendek.  Provinsi Lampung berada di atas rerata nasional yaitu 42,64 % untuk balita sangat pendek dan pendek dalam Riskesdas 2013 tersebut. Artinya, responden yang memiliki balita, 42,64% balitanya sangat pendek atau pendek.

Tahun 2014 Kementerian Kesehatan merilis turunan dari Riskesdas 2013 yang disebut Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) 2014. Di tingkat Kabupaten Kota, prevalensi Balita Sangat Pendek dan Pendek adalah sebagai berikut Kabupaten Lampung Barat 34,60%, Tanggamus 39,66%, Lampung Selatan 43,01 %, Lampung Timur 43,17%. Lampung Tengah 52,68%, Lampung Utara 32,44%, Way Kanan 29,80 %, Tulang Bawang 40,99%, Pesawaran 50,81%, Pringsewu 36,99%, Mesuji 43,43%, Tulang Bawang Barat 40,08%, Bandar Lampung, 44,59%, dan Metro 47,34%.

Kadinkes Provinsi Lampung dr. Hj. Reihana, M.Kes menyampaikan,”Faktor penyebab stunted merupakan suatu proses kumulatif yang terjadi sejak kehamilan, masa kanak-kanak dan sepanjang siklus kehidupan. Pada masa ini proses terjadinya stunted pada anak dan peluang peningkatannya terjadi dalam 2 tahun pertama kehidupan.

Faktor gizi ibu sebelum dan selama kehamilan, tambah Reihana, merupakan penyebab tidak langsung yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin. Ibu hamil dengan gizi kurang akan menyebabkan janin mengalami intrauterine growth retardation (IUGR), sehingga bayi akan lahir dengan kurang gizi, dan mengalami gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Anak-anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan disebabkan kurangnya asupan makanan yang memadai dan penyakit infeksi yang berulang, dan meningkatnya kebutuhan metabolik serta mengurangi nafsu makan, sehingga meningkatnya kekurangan gizi pada anak. Keadaan ini semakin mempersulit untuk mengatasi gangguan pertumbuhan yang akhirnya berpeluang terjadinya stunted.

Cara mencegah stanting pada balita dilakukan semenjak masa kehamilan dengan cara yaitu cek kehamilan secara teratur, bersalin di tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan, imunisasi bayi secara lengkap, memberikan ASI Eksklusif, timbang bayi dan balita setiap bulan di Posyandu, dan ajak seluruh anggota keluarga untuk ber-Perilaku Hidup Bersh dan Sehat (PHBS).

 

610 Posyandu Pekanbaru Layani PIN Polio

Cegah Gizi Buruk dengan Rutin Bawa Anak Ke Posyandu