Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Kurang Gizi Terkait Erat Dengan Sanitasi

Kurang Gizi Terkait Erat Dengan Sanitasi

image11-e1456805774721.jpg

Tahukah Anda, kekurangan gizi pada anak bukan hanya karena kurangnya asupan makanan saja. Sanitasi yang buruk juga bertanggung jawab besar pada kekurangan gizi pada anak. Karena itu, sangatlah penting membahas kaitan sanitasi dalam program perbaikan gizi untuk melihat bagaimana hubungan yang tidak hieginis dapat menyebabkan kondisi stanting. Stanting adalah sebuah kondisi di mana tinggi badan anak berada di bawah standar tinggi badan untuk anak seusianya. Istilah stanting diadaptasi dari bahasa Inggris stunting yang artinya pertumbuhan terhambat. Penyebab stanting adalah kurang asupan gizi dan seringnya anak sakit.

Stanting juga memiliki efek jangka panjang dan luas, baik pada anak dan juga produktivitas ekonomi negara. Kapasitas intelektual anak akan terkikis dan pemulihannya akan lebih sulit ketimbang penyakit infeksi. Ketika dewasa, mereka akan lebih rentan terhadap penyakit generatif seperti penyakit jantung, diabetes, dan kemungkinan mengalami obesitas.

Selain itu, stanting dapat berpengaruh pada perekonomian negara. Ketika dewasa, anak yang stanting berpenghasilan 20 persen lebih kecil dibandingkan mereka yang ketika balitanya tumbuh optimal. Kerugian ekonomi negara sebesar 3% terhadap Produk Domestik Bruto(PDB)  atau setara dengan 300 trilyun rupiah per tahun juga harus ditanggung Indonesia.

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan bahwa angka  balita stanting di Indonesia mencapai 37,2%. Bahkan di beberapa propinsi, angka balita stanting mendekati 50% dari seluruh balita di propinsi tersebut. Riset yang sama juga menunjukkan tingginya angka stanting di suatu propinsi berkaitan erat dengan masalah kualitas sanitasi dan kebiasaan buang air besar yang buruk. Beberapa provinsi di antaranya yaitu Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Maluku, Sulawesi, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, dengan angka stanting di atas 40%. Sementara, propinsi dengan tingkat stanting lebih rendah ada di Jawa dan Bali.

Dari penelitian di lima provinsi di Indonesia ditemukan bahwa stanting pada anak mengerucut pada dua faktor yaitu: praktik pemberian makan yang non-optimal untuk bayi dan anak serta sanitasi lingkungan yang buruk. Ini menunjukkan bahwa masih terdapat daerah dengan praktik sanitasi yang buruk, meskipun pergeseran masyarakat Indonesia sudah ke arah yang modern.

Sanitasi yang buruk ini berkaitan dengan kebiasaan buang air besar (BAB) sembarangan yang masih dilakukan oleh sekitar 50 juta orang di Indonesia. Dengan kata lain, kepemilikan dan penggunaan jamban sehat masih sangat rendah, terutama bagi mereka yang tinggal di sekitar tepi sungai. Perilaku mencuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir juga masih belum dilaksanakan dengan baik. Akibatnya, kasus diare masih tinggi.

Lantas, bagaimana diare bisa menyebabkan stanting? Diare yang terjadi berulang kali akan membuat area krip dalam usus halus menebal. Vili atau organ yang menonjol untuk menyerap nutrisi di dalam usus kecilpun akan rata. Akibatnya, nutrisi tidak dapat diserap dengan baik oleh saluran pencernaan. Seberapa banyak pun asupan makanan, jika tidak diserap, menyebabkan anak menjadi kurang gizi.

Selain itu, sanitasi lingkungan yang buruk juga berhubungan dengan infeksi bakteri patogen yang menyebabkan penyakit. Anak akan kehilangan protein yang diperlukan untuk mereka tumbuh. Apalagi jika disertai demam, dimana setiap kenaikan suhu tubuh 1 derajat Celcius maka kebutuhan energi meningkat menjadi 13%. Oleh karena itu jika anak kurang gizi dan sakit terus-menerus, pertumbuhan akan semakin terhambat. Hal ini sangat berpengaruh dalam perkembangan anak.

Akar masalah gizi  dan ekonomi ternyata berada pada pengetahuan sosial-ekonomi masyarakat. Program perbaikan gizi tentu akan sia-sia jika kesadaran soal sanitasi yang baik saja tidak dimiliki masyarakat. Harus ada sinergi antara program peningkatan kualitas makan bayi dan anak dengan upaya menghilangkan kebiasaan buang air besar sembarangan. Jika masalah kesehatan akibat sanitasi belum beres, masalah gizi dan ekonomi tidak akan selesai.

Saat ini pemerintah tengah menggalakkan program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). Tentu semua pihak harus bahu membahu dan mendukung agar terwujud masyarakat yang bebas dari kebiasaan buang air besar sembarangan. Dengan demikian laju stanting akan dapat ditekan. (Adv)

 

 

 

Pentingnya Sanitasi dalam Pencegahan Stanting

Pentingnya Sanitasi dalam Pencegahan Stanting

Bidan dan Kader Posyandu di Kapuas Mengikuti Pelatihan Komunikasi Antarpribadi (KAP)

Bidan dan Kader Posyandu di Kapuas Mengikuti Pelatihan Komunikasi Antarpribadi (KAP)