Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Konsumsi Makan Pada Ibu Menyusui Lebih Rendah Karena 6 Faktor Ini

Konsumsi Makan Pada Ibu Menyusui Lebih Rendah Karena 6 Faktor Ini

IMG_8025.jpg

Umumnya, ibu lebih memerhatikan asupan gizi di masa hamil ketimbang di masa menyusui. Adanya janin dalam kandungan membuat ibu lebih memerhatikan asupan makannya lebih banyak. Setelah bayi lahir, asupan makan ibu cenderung berkurang. Karena dianggap bayinya sudah lahir dan ibu kurang memerhatikan asupan makannya lagi.Padahal, di masa menyusui kebutuhan energi ibu lebih besar, untuk mencukupi kebutuhan gizi ibu dan juga untuk memproduksi ASI. Karena itu, asupan makan ibu juga harus lebih banyak. Menurut Angka Kecukupan Gizi tahun 2013, energi yang diperlukan ibu tidak hamil sekitar 2250 Kkal. Ketika hamil dibutuhkan tambahan energi sekitar 300 kalori dan di masa menyusui dibutuhkan tambahan sekitar 330 kalori. Jadi, kebutuhan energi ibu masa menyusui sebetulnya lebih besar. Namun kenyataannya, asupan makan ibu menyusui biasanya lebih rendah. Hal ini dikarenakan beberapa faktor, antara lain : • Perubahan kondisi dari hamil dan menyusui Umumnya, ketika hamil ibu merasa bisa lebih bebas ketimbang setelah mempunyai bayi. Di masa menyusui, ibu merasa konsumsi makannya sudah seperti biasa lagi karena bayi sudah lahir. Jadi tidak memerlukan banyak asupan makanan. • Ibu kurang pengetahuan Ibu tidak mengetahui bahwa kebutuhan energi yang diperlukan di masa menyusui lebih tinggi daripada masa hamil. Ketidaktahuan ibu ini akan memengaruhi sikapnya terhadap asupan makanan. Ibu merasa tidak harus banyak makan lagi di masa menyusui. • Kesibukan ibu mengurus bayi. Sebagian besar waktu ibu setelah melahirkan atau di masa menyusui terkuras untuk mengurus bayi. Ketika bayi tidur, barulah ibu bisa beristirahat atau melakukan kegiatan lainnya. Adakalanya di tengah kesibukan mengurus bayi tersebut ibu tidak punya waktu untuk memasak atau mungkin terlewat untuk makan atau makannya sedikit, karena si kecil sudah minta menyusu lagi. • Berkurangnya konsumsi susu dan suplemen Konsumsi energi dari susu dan suplemen di masa hamil biasanya tidak lagi dikonsumsi ibu semasa menyusui. Beda halnya ketika di masa hamil di mana konsumsi energi dari susu dan suplemen lebih diperhatikan. Akibatnya, konsumsi energi yang diperoleh ibu masa menyusui lebih rendah. • Banyak pantangan makan Di masa menyusui, masih banyak mitos-mitos mengenai pantangan makan yang dilarang oleh orangtua. Misalnya, ibu tidak boleh makan ikan karena nanti ASI menjadi amis dan bayi tidak mau menyusu. Ada lagi pantangan misalnya ibu tidak boleh makan yang pedas-pedas. Sementara ibu yang suka makan pedas menjadi kurang berselera makannya. Jadi, adanya pantangan-pantangan makan semacam ini dapat memengaruhi asupan makan ibu. • Kurangnya informasi Sejak ibu dalam masa perawatan kehamilan, mungkin kurang diberi informasi oleh tenaga kesehatan mengenai asupan makan ibu semasa menyusui, sehingga ibu belum tahu bahwa konsumsinya harus lebih banyak ketika masa menyusui. Belum lagi brosur maupun leaflet yang ada umumnya fokus menekankan pada konsumsi sayuran dan buah-buahan saja. Sehingga ibu tidak mempunyai gambaran makanan lain dan juga seberapa banyak jumlahnya. Misalnya, ibu harus banyak makan protein. Kebutuhannya kalau tidak hamil seharinya sekitar 57 gram, kalau di masa menyusui ada tambahan sekitar 20 gram. Informasi semacam itu yang mungkin tidak tersampaikan secara optimal.

Nah, jadi penting untuk diketahui ibu menyusui mengenai asupan makan yang harus lebih banyak dan menjadi perhatian. Tentunya ini demi kelancaran produksi ASI dan mendukung proses pemberian ASI eksklusif yang lancar dan sukses.

Inilah Gejala Alergi Susu pada Anak dan Cara Mencegahnya

Inilah Gejala Alergi Susu pada Anak dan Cara Mencegahnya

Perlunya Inovasi dalam Membuat Makanan Pendamping ASI

Perlunya Inovasi dalam Membuat Makanan Pendamping ASI