Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Komitmen Pemuka Agama dan Masyarakat Kabupaten Landak Berpartisipasi Turunkan Stanting

Komitmen Pemuka Agama dan Masyarakat Kabupaten Landak Berpartisipasi Turunkan Stanting

press-release-landak-3.jpg

Sejumlah tokoh agama dan masyarakat sepakat turut aktif mencegah stanting di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Hal ini dinyatakan pada acara Pembekalan Tokoh Agama dan Masyarakat tentang Stanting pada 1 Maret 2016 lalu. Kabupaten Landak adalah salah satu kabupaten yang melaksanakan kegiatan Kampanye Gizi Nasional untuk menurunkan stanting di wilayahnya.  Kampanye Gizi Nasional ini adalah salah satu kegiatan dari Program Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat untuk Mengurangi Stanting (PKGBM). Program ini merupakan inisiatif Pemerintah Indonesia yang didukung oleh Hibah Compact dari Pemerintah AS dan dikelola oleh Millennium Challenge Account-Indonesia (MCA-Indonesia).

Pada pertemuan sejumlah tokoh agama dan masyarakat tersebut, Romo Yoris Yanuarius selaku narasumber menyampaikan bahwa gereja dalam karya pastoralnya tidak pernah terpisah dari persoalan kehidupan konkrit yang dialami umat/masyarakat. Stanting adalah salah satu persoalan yang dihadapi umat saat ini.

“Pandangan umum  bahwa anak tumbuh mengikuti potensi genetiknya adalah salah. Sesungguhnya yang terjadi adalah anak tumbuh menyesuaikan diri dengan lingkungannya, termasuk asupan gizi dan kondisi kebersihan lingkungannya,“ jelas Prof. dr. Endang Achadi, MPH. Dr.PH, ahli gizi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia. Stanting merupakan salah satu tanda terjadinya masalah lain dalam tubuh, seperti gangguan pertumbuhan dan perkembangan otak, yang berakibat pada kecerdasan; gangguan pertumbuhan dan perkembangan organ tubuh lain. Hal ini berdampak pada meningkatnya risiko terjadinya penyakit kronis, seperti: stroke, penyakit jantung, diabetes, hipertensi, juga kegemukan.

Sekitar 34,2% anak balita di Kabupaten Landak mengalami stanting atau tinggi badan terhadap umur lebih rendah dari ukuran normal (< -2 SDP), atau lebih pendek dari seharusnya. Sementara prevalensi nasional adalah 37,2%. Permasalahan  mendasar  penyebab  stanting  di Indonesia adalah  masih rendahnya pendidikan  orangtua terutama ibu, penghasilan rumah tangga, ketersediaan air bersih,  lingkungan yang sehat, ketersediaan pangan lokal, harga bahan pangan, ketahanan  pangan, mitos negatif yang membudaya, dan  bias penafsiran agama.

Karenanya, pencegahan stanting dilakukan pada 1000 HPK, yang merupakan periode penting dan kritis dalam kehidupan manusia. Periode ini akan mempengaruhi  kecerdasan, daya saing, dan produktivitas seseorang, dan masyarakat secara positif atau justru malah menjadi beban daerahnya atau negara. “Bila kita tidak melakukan perbaikan gizi pada 1000 HPK sekarang, kita akan menghasilkan generasi yang lemah/tidak cerdas, sehingga pendidikannya rendah, yang berdampak pada rendahnya penghasilan;  berisiko tinggi menderita penyakit kronis hingga tidak bisa bekerja sehingga penghasilan hilang, pengeluaran keluarga dan negara untuk pengobatan menjadi mahal. Ini tidak hanya terjadi pada satu generasi saja tetapi pada paling sedikit dua generasi berikutnya, sebagai generasi yang hilang,” tegas Prof Endang. Di satu sisi, masa ini juga memberikan peluang yang amat besar bagi seseorang untuk menciptakan jalan masing-masing agar dapat tumbuh secara optimal.

Kunci keluar dari situasi ini menurut Prof. Endang adalah dengan perbaikan status gizi, terutama untuk perempuan dan anak-anak. Konsumsi TTD (Tablet Tambah Darah) pada ibu hamil, pemberian ASI Eksklusif pada bayi sampai usia 6 bulan, pemberian Makanan Pendamping  ASI (MPASI) yang adekuat, penggunaan jamban sehat, hidup bersih seperti mencuci tangan dengan  sabun dan air bersih yang mengalir sebelum menyiapkan makanan anaknya, imunisasi lengkap dan tepat waktu sesuai anjuran.

Tugas dan tanggungjawab untuk memperhatikan perkembangan dan pertumbuhan anak sejak 1000 HPK-nya tidak saja urusan sektor kesehatan, namun juga sektor pendidikan, agama, budaya, pangan bahkan pihak swasta.

 

Pekan Imunisasi Nasional Polio 2016

Pekan Imunisasi Nasional Polio 2016

Beri Ekstra Cairan Saat Anak Diare