Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Kendala Para Ibu Bekerja atas Ruang Laktasi yang Minim di Jakarta

Kendala Para Ibu Bekerja atas Ruang Laktasi yang Minim di Jakarta

1004ibu-menyusui_20150410_104725-e1459485954343.jpg

Keberadaan ruang laktasi yang minim membuat ibu pekerja terpaksa berdamai dengan kondisi dan memerah ASI di tempat yang serba terbatas dan jauh dari layak

Esti, 35, menginci pintu musala di pojok ruangan di lantai dua, salah satu gedung di Balai Kota beberapa waktu lalu. PNS di bagian tata usaha wakil gubergur itu memilih memerah ASI-nya di musala karena ruang laktasi yang terletak di lantai 3 gedung blok B Balai Kota agak jauh dan tidak nyaman.

“Saya malas juga bolak-balik ke lantai tiga karena lantai itu juga ramai sekali. Apalagi, sekarang jadi kantor smart city. Takutnya menggangu,” ujarnya.

Apalagi, ia hanyalah seorang staf yang harus bekerja cepat jika ia ada arahan dari atasan. Karena itu, ia hanya memanfaatkan waktu ibadah salat untuk memerah ASI. “Kerjaannya banyak. Atasan sih mengerti, tapi kan tidak enak juga lama-lama. Jadinya ya di tempat yang dekat saja”

Seperti Esti, Dessy Rien Anggraeny, 25, karyawati di satu BUMN di daerah Cikini, jakarta Pusat, juga terpaksa memerah ASI nya di ruangan yang jauh dari kenyamanan. “Ruang laktasi belum ada di gedung yang ini. Jadi, terpaksa perah ASi di ruang server,” ujarnya.

Setiap akan memerah ASI, Rien meminta kunci ruang server kepada petugas jaga. Rien hanya mengandalkan kursi sadanya di ruang seluas 3 x 3 meter itu yang tidak ada wastafel untuk mencuci tangan, serta lemari pendingin untuk menyimpan ASI perahnya.

Ia pun tidak bisa menjadwalkan perah ASI secara rutin karena memerah ASI hanya bisa dilakukan saat pekerjaannya sedang ringan. “Saya harus mencuri-curi waktu.”

Ria, ibu pekerja lainnya, mengeluh tidak bisa memerah ASI di sepanjang perjalanan ke kantor atau perjalanan pulang. Hal itu disebabkan oleh fasilitas umum yang tiak ada ruang laktasi. “Kadang suka sakit ya ditahan-tahan. Meski sudah pumping sebelum pulang, kan penuh lagi. Akhirnya saya buang di toilet sedikit kalau di stasiun transit,” keluhnya.

Ria enggan menyimpan ASI yang diperahnya di toilet umum karena khawatir tidak steril. Jarak yang ditempuh Ria setiap hari terbilang jauh. Saat ini Ria ttinggal di daerah Ciputat, Tangerang Selatan. Sehari-hari ia biasa menjadi pelanggan commuter line untuk menuju kantornya di Cikini.

Selain Ria, Nesty Pamungkas terpaksa mencari-cari tempat sepi agar bisa menyusui anaknya saat berjalan-jalan ke taman atau ke mal. “Jadi ya harus cari tempat sepi karena memang tidak tersedia ruang laktasi di tempat umum. Kayak enggak ngerti kebutuhan ibu menyusui,” gerutunya.

(Sumber: Media Indonesia)

Pemerintah Harus Segera Mengatur Perda Ruang Laktasi

Pentingnya Menyediakan Ruang Laktasi di Jakarta

Pentingnya Menyediakan Ruang Laktasi di Jakarta