Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Kenali Risiko Alergi Pada Anak

Kenali Risiko Alergi Pada Anak

11703243_1620533064898992_1643170479712478443_o-e1459397770870.jpg

Alergi adalah sebuah reaksi yang berbeda atau menyimpang dari normal. Reaksi ini akibat rangsangan zat dari luar tubuh, seperti debu, makanan, atau obat-obatan. Demikian diungkap oleh Konsultan Alergi-Imunologi Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran (Unpad), Prof DR. Dr. Budi Setiabudiawan SpA(K) MKes. Namun, lanjutnya, ada gejala serupa, tetapi bukan akibat dari zat luar. Kondisi ini dapat dikategorikan sebagai reaksi nonalergi. Reaksi ini lebih banyak diderita orang dewasa. Jarang terjadi pada anak-anak. “Reaksi nonalergi seperti seorang yang menghirup bau lalu tiba-tiba sesak napas. Atau, ketakutan terhadap sesuatu sehingga menimbulkan stress dan kepanikan sehingga menimbulkan reaksi gatal-gatal,” ungkap Budi. Apabila terjadi hal demikian, Budi menyimpulkan orang tersebut mengalami kondisi nonalergi yang terpola di pikiran, bukan akibat dari reaksi alergi yang sesungguhnya. Kejadian alergi ini terus meningkat di beberapa negara maju. Anehnya, angka kejadian alergi ini lebih banyak ditemukan di negara dengan kondisi lingkungan yang bersih.

Alergi yang diderita anak apabila dideteksi sejak dini, dampaknya tak akan berkepanjangan. Alergi banyak dialami anak  yang memiliki bakat alergi dari keluarga. Anak dengan salah satu orangtua yang memiliki riwayat alergi, berisiko mengalami alergi sebesar 40-60 persen. Lebih besar lagi risikonya pada anak dari kedua orangtua yang memang alergi, yakni sebesar 60-80 persen.

Bahkan pada anak dengan orangtua yang tidak memiliki riwayat alergipun, tetap berisiko terkena alergi sebesar 5-15 persen. Sebesar apapun risiko alergi yang dimiliki anak, yang terpenting, menurut Budi, adalah melakukan penanganan sedini mungkin. Anak-anak yang memiliki riwayat alergi memerlukan pengawasan lebih intensif. Semua ini dilakukan untuk memastikan tumbuh kembang anak agar optimal sampai dewasa.

(Sumber: Republika)

 

Cegah Alergi dengan Pemberian ASI Eksklusif

Cegah Alergi dengan Pemberian ASI Eksklusif

Bengkalis Lakukan Deklarasi Setop BAB Sembarangan

Bengkalis Lakukan Deklarasi Setop BAB Sembarangan