Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Kemenkes Luncurkan Aplikasi untuk Sanitasi

Kementrian Kesehatan (Kemenkes) bersama Water and Sanitation Program (WSP)-The World Bank meluncurkan aplikasi untuk platform Android. Aplikasi ini diberi nama Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) Smart. Aplikasi ini bertujuan mengawal tercapainya 100% akses sanitasi untuk masyarakat Indonesia pada tahun 2019. Aplikasi yang diluncurkan di Hotel Crown Plaza Semarang, Jawa Tengah ini (30/5/2016) bisa diunduh di Play Store dan berapa persen pencapaian STBM yang berlangsung di suatu daerah bisa terpantau. Selama ini STBM yang didukung terobosan setiap pemimpin daerah berhasil meningkatkan akses sanitasi 47% di tahun 2015 dan menurunkan jumlah penduduk pedesaan yang melakukan praktik buang air besar sembarangan.

Salah satu daerah yang paling sukses hingga pencapaiannya 100% adalah Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Pemkab Grobogan sudah mensosialisasikan agar warga tidak BAB sembarangan sejak bertahun-tahun lalu dan dilakukan dengan berbagai model pendekatan.

"Kami sosialisasi di tiap desa, dengan strategi penghijauan di masyarakat, bekerjasama dengan kepala desa, RT, dan RW. Selalu saat arisan dibahas, sosialisasi. Kami juga menitik beratkan membuat jamban dengan kerjasama bersama pihak swasta," kata Bupati Grobogan, Sri Sumarni.

Pemkab Grobogan juga melakukan pendekatan dengan kearifan lokal seperti arisan jamban, kredit murah untuk membuat jamban atau sistem denda jika BAB tidak di kloset. Nantinya uang denda digunakan untuk membuat material kloset dan diberikan kepada warga yang benar-benar kurang mampu.

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan pendekatan dengan kearifan lokal memang penting untuk mengubah kebiasaan BAB. Sosialisasi dilakukan dengan menggandeng tokoh warga seperti kyai atau Lurah.

Sementara itu Menteri Kesehatan Nila Djuwita Moeloek mengatakan, faktor budaya mempengaruhi keberhasilan penyediaan akses sanitasi dan agar warga mau menggunakannya. Ia berharap banyak pihak yang ikut berpartisipasi seperti Asosiasi Kabupaten Kota Peduli Sanitasi (Akkopsi).

(Sumber : news.detik.com)

Raperda Stop Buang Air Besar Sembarangan Disetujui

Pemberian Susu Formula Bisa Sebabkan Infeksi Telinga pada Bayi?