Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Ke Posyandu Adalah Bentuk Kasih Sayang dan Tanggung Jawab Bapak Dalam Tumbuh Kembang Anak

Ke Posyandu Adalah Bentuk Kasih Sayang dan Tanggung Jawab Bapak Dalam Tumbuh Kembang Anak

Screen-Shot-2017-03-15-at-13.35.55.png

Dalam pencegahan stanting, peran serta keluarga sangatlah penting apalagi tentang gzi yang seimbang serta kehidupan yang bersih. Oleh karena itu, para orangtua sangat daianjurkan untuk mengunjungi posyandu untuk memantau tumbuh kembang anak serta mengikuti kegiatan aktifasi seperti kelas ibu, dan bahkan pertemuan bapak. Di dalam kegiatan tersebut, orangtua akan diberi pengetahuan tentang gizi, sanitasi serta pentingnya ASI eksklusif. Tetapi, selama ini, kita terus berfikir bahwa posyandu identic dengan para kaum perempuan, atau para ibu. Padahal, kesehatan keluarga juga membutuhkan peran bapak atau ayah, termasuk dalam pemberian gizi untuk ibu hamil dan bayi. Inilah yang juga diungkapkan Masrawan, seorang fasilitator kecamatan Kapuas Kuala, yang semakin terinspirasi saat melihat seorang bapak dating ke posyandu bersama anak perempuannya. “Waktu itu, memang sudah agak lama di bulan September, saya lihat ada bapak-bapak yang menggendong anaknya…” kata Masrawan. Namanya Bapak Yusuf, anaknya Akila Adha yang berusia 2 tahun,” ujarnya. Saat melihat, Masrawan langsung bertanya kepada bapak tersebut untuk bertanya kepada bapak Yusuf tentang mengapa ia tergerak untuk membawa anaknya ke posyandu. “Bapak Yusuf adalah seorang petani, dan istrinya pagi-pagi biasanya berjualan. Jadi ia pergi mengantar anaknya, apalagi pada saat-saat dia tidak perlu ke ladang,” ungkap Masrawan.

Hal ini tentu membuatnya optimis bahwa semua upaya yang selama ini dilakukan telah membuahkan hasil, seperti perlibatan para laki-laki sekecil apapun langkah itu. Masrawan juga menjelaskan bahwa memang sudah ada beberapa bapak-bapak yang mengantar istri dan anaknya ke posyandu, tetapi pak Yusuf adalah salah satu yang sering dating. “Biasanya mereka (para bapak/ayah) kalau datang mengantar istri hanya duduk di luar. Tapi, pak Yusuf ini aktif dalam menyaksikan anaknya ditimbang, diukur tinggi badannya. Dan kalau sudah selesai, ia sering menemani anaknya main dulu di ayunan,” ujar Masrawan dengan semangat. Tentu, terkadang ada juga tantangan yang harus dihadapi, seperti persepsi-persepsi tertentu yang ada di masyarakat desa Tamban Baru, di Kecamatan Kapuas yang ternyata bersuku Banjar. “Seringkali kita dengar bahwa ke posyandu itu hanya untuk perempuan, bahwa ke posyandu itu bukan ‘muhrimnya’. Jadi, saya menghimbau kepada masyarakat bahwa isu stanting dan gizi juga disebar dalam yasinan atau pengajian,” ujar Masrawan.

Ke depannya, Masrawan tetap positif bahwa para bapak akan lebih semangat lagi untuk mengunjungi posyandu bersama istri dan anaknya sebagai bentuk kasih serta tanggung jawab. "Menurut saya, kalau sudah jadi orang tua, aset kita bukan motor, tanah atau mobil, tapi anak-anak terkasih. Karena ketika dua orang sudah memutuskan untuk menikah dan punya anak, membesarkannya itu adalah tanggung jawab berdua," ujarnya.

Cara Mengatasi Bayi Mogok Menyusu

Cara Mengatasi Bayi Mogok Menyusu

Asih, "Bidan Stanting" dari Kuala Behe

Asih, "Bidan Stanting" dari Kuala Behe