Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Kasus Gizi Buruk Anak Indonesia Masih Tinggi

Kasus Gizi Buruk Anak Indonesia Masih Tinggi

mediaindonesia-com-gizi-buruk.jpg

  Angka kematian bayi dan anak balita (bawah lima tahun) akibat kurang gizi di Indonesia masih memprihatinkan. Prevalensi angka gizi masih tinggi yakni mencapai 5,7 % dan gizi kurang 13,9 %. Selain kebutuhan nutrisi anak yang tidak terpenuhi, perilaku tidak tepat orangtua dalam menyajikan makanan bagi bayi dan balita juga menjadi penyebab kurang gizi pada anak masih tinggi.

Pendapat itu disampaikan secara terpisah oleh Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Jaya, Rini Sekartini, dan Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes, Anung Sugihantono.

“Kebutuhan nutrisi harus diperhatikan pada 1000 hari pertama kehidupan, agar anak tumbuh baik, memiliki imunitas, dan menjadi cerdas,” kata Rini Sekartini pada jumpa pers peringatan ulang tahun ke-62 organisasi tersebut dan Hari Anak Nasional di Jakarta (2/6/16). Terkait peringatan tersebut IDAI Jaya mengadakan kick off edukasi kesehatan anak secara serentak di 72 rumah sakit se-Jakarta.

Perbaikan gizi kurang pada anak Indonesia lanjutnya hingga kini masih belum optimal. Hal itu bisa dilihat dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) 2013 yang menunjukkan masalah stanting (anak pendek) pada balita masih serius dengan prevalensi mencapai 37,2%. Begitupun prevalensi gemuk pada anak balita juga cukup tinggi, yaitu 11,9%.

“Makanan terbaik bayi ialah air susu ibu (ASI). Makanan pendamping ASI perlu diberikan paling lambat pada usia 6 bulan agar kebutuhan energi bayi dapat tercukupi,” ujarnya.

Selain nutrisi, tambah Rini, faktor hormonal juga berpengaruh terhadap pertumbuhan optimal anak, seperti tiroid, hormon pertumbuhan, hormon tulang, dan hormon pubertas. Hormon tiroid yang tidak tercukup saat bayi akan mengganggu perkembangan otak dan fisik anak.

Di sisi lain, Anung Sugihantono menjelaskan, masalah gizi sangatlah kompleks. Salah satunya, perilaku tidak tepat dalam menyajikan bahan pangan bagi bayi dan balita. Menurutnya, ada dua pendekatan besar yang dilakukan pemerintah dalam menangani masalah gizi, yakni pendekatan sensitif dan spesifik yang melibatkan berbagai kementerian dan lembaga terkait dengan akses dan mutu pangan.

(Sumber : Media Indonesia)

Bagaimana Cara Pantau Tumbuh Kembang Anak?

Bagaimana Cara Pantau Tumbuh Kembang Anak?

Penyakit Infeksi Paling Sering Saat Bulan Puasa

Penyakit Infeksi Paling Sering Saat Bulan Puasa