Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Kabupaten Sukabumi Masih Dipusingkan Soal BAB Sembarangan

Kabupaten Sukabumi Masih Dipusingkan Soal BAB Sembarangan

217208_620.jpg

Kebiasaan BAB (buang air besar) sembarangan di kebun atau sungai di Kabupaten Sukabumi sulit dicegah dan dihilangkan. Penyebabnya, kebiasaan buruk tersebut sudah turun-tumurun dan dianggap sebagai tradisi yang tidak bisa ditinggalkan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi terus berupaya untuk mencegah dan menghilangkan BAB sembarangan itu melalui program penyediaan tempat mandi cuci kakus (MCK) dan sosialisasi pola hidup bersih dan sehat (PHBS).

"BAB sembarang masih terjadi merata di semua kecamatan di wilayah Kabupaten Sukabumi. Sulit dihilangkan karena ini menyangkut sikap dan kebiasaan. Para pelaku BAB sembarangan sebagian besar meniru orang tua dan para tetangganya," kata Kepala Bidang Promosi Kesehatan (Promkes) Dinkes Kabupaten Sukabumi, Saeful Ramdan ketika dihubungi galamedianews, Minggu (27/3/2016).

Melalui sosialisasi PHBS, lanjut Saeful, masyarakat diberitahu tentang bahaya BAB di sembarang tempat. Selain menyebarkan bibit penyakit, BAB sembarangan dapat menurunkan kualitas air dan lingkungan. Kotoran yang terbuang ke  sungai menimbulkan pencemaran air oleh baketeri E-coli yang dapat memicu penyakit dan gangguan perut.

"Di beberapa sungai, kandungan bakteri E-coli cukup tinggi akibat maraknya kebiasaan BAB sembarangan. Jika airnya dikonsumsi dapat memicu sakit perut dan gangguan pencernaan akibat keracunan," ujar Saeful.

Mengenai pembangunan fasilitas sanitasi seperti MCK dan septic tank komunal, Saeful menyebutkan, pelaksanaannya bersifat lintas instansi. Sayangnya, program tersebut belum dapat menghilangkan kebiasaan BAB sembarangan.

Walaupun telah disediakan fasilitas MCK, karena sudah biasa, sebagian masyarakat tetap berkunjung ke kebun atau sungai saat akan membuang kotoran di dalam perutnya.

"Program pembangunan sarana MCK ini melibatkan berbagai instansi dan SKPD. Kami melaksanakannya secara bersama-sama dengan menjalin sinergitas dan koordinasi agar hasilnya optimal," kata Saeful.

Menurut Saepul, usaha untuk mengubah prilaku atau kebiasan buruk masyarakat BAB sembarangan bukan hanya menjadi tanggung jawab dinasnya saja, melainkan masalah ini harus menjadi pekerjaan rumah (PR) semua pihak. Program sosialisasi mengenai prilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang digulirkan instansi terkait lainnya, tentunya harus benar-benar bisa mengubah prilaku masyarakat agar bisa membiasakandiri hidup bersih dan sehat.

"Dengan harapan nantinya secara berangsur-angsur akan mampu mengubah sisi prilaku masyarakat agar biasa berprilaku hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-harinya. Dengan begitu diharapkan pula  nantinya akan mampu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat pula," harapnya.

Sumber: Galamedianews.com

 

Jumlah Puskesmas di Bekasi akan Ditambah

Jumlah Puskesmas di Bekasi akan Ditambah

Pencegahan dan Penanganan Stanting dalam Perspektif Islam

Pencegahan dan Penanganan Stanting dalam Perspektif Islam