Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Jutaan Bayi Indonesia Kehilangan Periode Emas Dalam Hidup Mereka

Jutaan Bayi Indonesia Kehilangan Periode Emas Dalam Hidup Mereka

397595_620.jpg

Dari 5 juta anak yang lahir setiap tahun di Indonesia, lebih dari setengahnya tidak mendapatkan ASI secara optimal pada tahun-tahun pertama kehidupannya. Kesenjangan dalam perundang-undangan nasional berkontribusi terhadap situasi yang ada saat ini.

ASI merupakan makanan yang ideal untuk bayi. ASI aman, bersih, ramah lingkungan dan mengandung antibodi yang membantu melindungi terhadap banyak penyakit umum yang terjadi pada anak. Anak yang diberi ASI secara optimal menunjukkan tes kecerdasan yang lebih baik, cenderung tidak mengalami kelebihan berat badan atau obesitas dan tidak rentan terhadap penyakit diabetes di kemudian hari. Wanita yang menyusui juga memiliki risiko yang lebih rendah terkena kanker payudara dan ovarium. WHO dan Kemenkes merekomendasikan pemberian ASI ekslusif pada bayi 0-6 bulan dan tetap melanjutkan menyusui hingga bayi berumur dua tahun.

UNICEF, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan merekomendasikan bahwa bayi disusui segera setelah lahir dan tidak diberi makanan apapun selain ASI selama 6 bulan pertama kehidupan, tidak diberikan air, ataupun makanan lain, hanya ASI saja. Dari 6 bulan hingga setidaknya 2 tahun, ASI harus tetap diberikan bersama dengan makanan pendamping ASI yang aman dan bergizi.

Namun di Indonesia, meskipun sejumlah besar perempuan (96%) menyusui anak mereka dalam kehidupan mereka, hanya 42% dari bayi yang berusia di bawah 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif. Pada saat anak-anak mendekati ulang tahunnya yang ke dua, hanya 55% yang masih diberi ASI.

Kemenkes telah menuangkan isu ASI Ekslusif dalam  Rancangan Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan Tahun 2015 – 2019, yaitu  meningkatkan persentase bayi usia kurang dari 6 bulan yang mendapat ASI eksklusif sebesar 50%. Namun fakta dilapangan menunjukan bahwa setelah lebih dari 10 tahun kebijakan ASI eksklusif diterapkan, target ASI ekslusif di Indonesia tampaknya ha tersebut belum mencapai target, bahkan menurun. Berdasarkan Riskesdas tahun 2010, persentase pola menyusui eksklusif menurut kelompok usia terus menurun. Saat bayi berusia 0 bulan, prevalensi pemberian ASI eksklusif sebesar 39,8%. Kemudian menurun menjadi 15,3% pada saat bayi berusia 5 bulan. Saat bayi usia 6 bulan, cakupan pemberian ASI eksklusif menjadi kurang dari 15%. Data Riskesdas 2013 menunjukkan terjadinya peningkatan pola menyusui eksklusif berdasarkan kelompok usia. Saat bayi usia 0 bulan, prevalensi pemberian ASI eksklusif sebesar 52,7%, kemudian mengalami penurunan menjadi 30,2% saat bayi berusia 6 bulan.

Sebuah laporan baru menjelaskan bahwa promosi dan iklan susu formula dan susu pertumbuhan untuk anak-anak yang berusia kurang dari 3 tahun ini menjadi sebagian penyebabnya. Laporan yang diterbitkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), UNICEF, dan International Baby Food Action Network (IBFAN) menyatakan pentingnya peraturan perundang-undangan nasional dalam melindungi pemberian ASI dengan melarang promosi dan iklan produk-produk tersebut.

Dari 194 negara yang dianalisis dalam laporan tersebut, Indonesia merupakan salah satu dari 135 negara yang telah menyediakan beberapa bentuk upaya hukum terkait dengan Kode Pemasaran Internasional Pengganti ASI dan berbagai resolusi yang telah diadopsi oleh Majelis Kesehatan Dunia (KODE). Namun, perundang-undangan di Indonesia yang ada saat ini hanya melindungi pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan seorang anak.

“Sementara kita harus melanjutkan upaya untuk meningkatkan angka pemberian ASI eksklusif, kita juga harus melindungi, mempromosikan dan mendukung terus pemberian ASI sampai anak berusia minimal 2 tahun,” kata Harriet Torlesse, Kepala Gizi, UNICEF Indonesia.

Namun pemasaran produk pengganti ASI yang tidak tepat terus mengurangi upaya untuk meningkatkan angka dan jangka waktu menyusui di seluruh dunia.

Perundang-undangan di Indonesia saat ini melarang produsen dan distributor mempromosikan dan mengiklankan susu formula untuk bayi di bawah 6 bulan di fasilitas kesehatan. Fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan juga tidak diizinkan untuk menjual, memberikan atau mempromosikan susu formula untuk bayi tersebut. Selain itu, ada beberapa pembatasan larangan pada label dan iklan produk susu untuk bayi di bawah satu tahun.

Namun sebuah penelitain yang dilakuk 84,2%  bayi yang diberi makanan atau minuman pada saat usia 0-7 hari ternyata ditolong oleh tenaga kesehatan pada saat persalinan

Bisnis produk pengganti ASI merupakan bisnis yang besar, dengan penjualan yang diperkirakan mencapai Rp. 25,8 triliun di Indonesia tahun ini. Namun apabila anak-anak disusui secara optimal sesuai dengan rekomendasi, negara akan menghemat Rp. 20 triliun setiap tahunnya untuk biaya perawatan kesehatan dan upah: Analisis baru yang dilakukan oleh Universitas Padjajaran  dengan UNICEF dan Alive and Thrive, mengungkapkan bahwa peningkatan pemberian ASI di Indonesia bisa menyelamatkan 5.377 nyawa anak-anak dan Rp. 3 triliun untuk biaya kesehatan setiap tahun dengan mencegah penyakit pada anak seperti pneumonia dan diare. Selain itu, meningkatkan pemberian ASI bisa menghemat Rp. 17 triliun untuk upah setiap tahun karena perbaikan dalam kemampuan kognitif dan peningkatan pendapatan di kemudian hari.

Untuk dapat sejalan dengan rekomendasi Kementerian Kesehatan tentang menyusui, ruang lingkup perundang-undangan nasional harus diperkuat, mencakup promosi dan iklan dari semua produk susu yang secara khusus dipasarkan sebagai asupan bayi dan anak-anak sampai usia 3 tahun.

Sumber : UNICEF dan berbagai sumber.

Menyambut Pekan ASI Sedunia (1-7 Agustus 2016)

Menyambut Pekan ASI Sedunia (1-7 Agustus 2016)

Undangan Terbuka: Seminar 'Keajaiban Menyusui Tinggi' Prestasi dengan ASI

Undangan Terbuka: Seminar 'Keajaiban Menyusui Tinggi' Prestasi dengan ASI