Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Jika ASI Tidak Keluar, Ini yang Ibu Harus Lakukan

Jika ASI Tidak Keluar, Ini yang Ibu Harus Lakukan

Tips-Puasa-Bagi-Ibu-Menyusui.jpg

ASI Tidak Keluar? Ini Hanya Pengetahuan yang Kurang, Bu.

Terkadang, ibu memikir bahwa ASI yang keluar tidak mencukupi kebutuhan si kecil. Tetapi, ini hanya karena kurangnya informasi di sekitar kita. Dr. Utami Roesli, sebagai dokter spesialis anak sering mendapatkan pertanyaan ini. Dan ternyata, ASI yang tidak keluar atau hanya sedikit bisa terjadi karena baberapa hal, berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi.

  1. Tidak melakukan IMD, atau Inisiasi Menyusui Dini

Setelah melahirkan, rata-rata bayi langsung dibawa ke ruang perawatan bayi untuk ditimbang, dimandikan dan dikenakan pakaian. Sehingga, tidak ada skin-to-skin contact. Dr. Utami Roesli mengatakan bahwa IMD adalah sesuatu proses yang wajib pasa persalinan, di mana bayi diletakkan di dada ibu setelah melahirkan. Bayi akan merangkak dengan sendirinya untuk menemukan puting ibu dan menyusui. Sentuhan kulit antara ibu dan anak akan mengeluarkan hormon oksitosin, atau hormon bahagia yang dapat melancarkan pengeluaran ASI untuk si kecil.

2. Kurangnya informasi atau pengetahuan

Dr. Utami Roesli juga pernah mengatakan di seminar tentang ASI ekslusif di Kalimantan Barat, bahwa terkadang ibu terlalu sering mendengar pendapat orang lain yang belum tentu disertai dengan fakta. Dan akhirnya, ibu hanya mengandalkan opini mereka tanpa mencari informasi sendiri sehingga ibu merasa terbeban dan ASI tidak keluar. Oleh karena “Semua perempuan yang punya kelenjar payudara bisa melakukan relaktasi atau induksi laktasi walaupun tidak punya anak sekalipun. Contoh, ibu adopsi bila rajin menyusui anak adopsinya secara rutin dan benar, maka keluar ASInya. Pengalaman saya membuktikan banyak yang berhasil, yang penting ada niat,” ujarnya.

3. Menempel pada sisi yang salah

Saat menyusui, mulut bayi harus dalam keadaan terbuka lebar agak tidak hanya mengisap bagian puting tapi juga bagian aerola peyudara. Jika bayi tidak menempel pada payudara dengan benar, ASI tidak akan keluar dengan baik. Maka, di sinilah IMD menjadi sangat penting untuk memastikan bahwa bayi menyusu dengan benar. Untuk memastikan bahwa bayi membuka mulutnya dengan labar, ibu dapat mengelitik area mulut bayi dengan puting.

Dalam proses menyusui, beberapa ibu mungkin mengalami puting yang tenggelam. Tetapi, ibu tidak perlu khawatir karena inti dari pelekatan menyusui adalah aerola, bukan putingnya.

4. Stress menghambat produksi ASI

Seperti yang sudah dibahas, IMD dapat memastikan pengeluaran ASI yang lancar dari ibu. Tetapi, tidak semua ibu sama, tidak semua ibu yang habis melahirkan bisa langsung mengeluarkan ASI. Jika percobaan pertama, kedua, dan ketiga gagal, ibu jangan langsung putus asa. Di sinilah keluarga memegang peran yang besar karena kita tidak ingin memicu ibu untuk menyerah dan memberikan susu formula pada bayi. Suami dapat mendukung ibu di ruang persalinan untuk menenangkan ibu serta memberikannya semangat.

Dalam proses menyusui kali pertama, memang tidak selalu lancar. Bayi membutuhkan ketenangan ibu. Ibu dapat mengambil nafas dengan pelan-pelan karena semakin ibu tenang, bayi juga mudah ditenangkan.

5. Mencari posis yang benar untuk menyusui

Posisi menyusui sebenarya tidak terlalu berpengaruh. Namun, beberapa posisi mungkin dapat menguntunkan untuk ibu. Yang penting, ibu merasa nyaman, lalu letakkan bayi de dekat dada. Kepalanya di bawah dagu ibu, dan perutnya di atas perut ibu.

6. Tidak mendapatkan dukungan

Jika ibu selalu dikelilingi oleh pengaruh negatif, carilah dukungan yang positif. Selain keluarga, ibu juga dapat mencari komunitas ibu baru dan ibu menyusui. Dukungan dari ibu ke ibu akan sangat berarti.

7. Memberikan susu botol atau dot terlalu cepat

Ini juga sering terjadi, karena alasan-alasan di atas. Ibu pun menyerah, kemudian lebih memilih untuk memerah ASI atau memberi susu formula dengan botol dot. Akibatnya, bayi akan bingung puting, kemudian ASI juga tidak akan keluar lagi, sehingga meningkatkan risiko penyakit di kemudian hari.

8. Berhenti menyusui karena harus bekerja lagi

Semua ibu pasti merasa berat untuk meninggalkan bayinya pada saat cuti hamil berakhir. Selain itu, tantangan yang baru untuk ibu adalah mencari tempat yang bersih dan tenang untuk memompa ASI dan mengatur waktu sepanjang hari. Oleh karena itu, ibu jangan pernah menyerah dan sebaliknya dapat bicara dengan atasan karena ibu mempunyai hak untuk meneruskan proses menyusui dan diberikan kemudahan oleh instansi pekerjaan. Ini dijamin pada pasal 30 ayat 3 PP ASi tahun 2012: “Pengurus tempat kerja dan penyelenggara tempat sarana umum harus menyediakan fasilitas khusus untuk menyusui dan/atau memerah ASI sesuai dengan kondisi kemampuan perusahaan.”

Makanan Pendamping ASI dari Pangan Ikan yang Disukai Bayi

Makanan Pendamping ASI dari Pangan Ikan yang Disukai Bayi

Lakukan 6 Hal Ini Saat Hamil Trimester Pertama

Lakukan 6 Hal Ini Saat Hamil Trimester Pertama