Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Indonesia Perlu Investasi Gizi

Indonesia Perlu Investasi Gizi

unicef.jpg

  Investasi di bidang kesehatan merupakan hal paling mendasar dan penting bagi pembangunan negara. Mengapa?

Di Indonesia, ada sekitar 9,2 juta (37%) anak pendek dari 24,5 juta anak dibawah usia 5 tahun. Anak pendek ini dikarenakan masalah gizi kurang. Anak yang mengalami masalah gizi kurang ini berisiko kematian, kesakitan atau terkena infeksi, perkembangan yang terlambat, kecerdasan yag kurang, dan tingkat pencapaian sekolahnya kurang. Tingkat kematian anak karena gizi kurang ini hampir 45 % atau sekitar 40 anak dari setiap 1000 kelahiran.

Indonesia sebetulnya negara yang mengalami beban ganda malnutrisi, yaitu masalah gizi kurang dan gizi lebih/obesitas. Masalah malnutrisi ini cukup menggerogoti sumber daya manusia dan juga produktivitas ekonomi. Hal ini bisa membatasi kemajuan dalam pencapaian setidaknya 6 dari 8 Millennium Developmental Goals dan target-target yang telah ditetapkan oleh badan kesehatan dunia.

Proporsi anak di bawah usia 5 tahun yang pendek adalah 7% setingkat tingginya dengan 50 % di beberapa wilayah (menurut laporan Riskesdas 2013). Diantara anak-anak yang berada dalam kemiskinan sekitar 48 % anak pendek dibandingkan dengan 29% pada tingkat paling sejahtera. Kemiskinan mempengaruhi 11 % dari populasi masyarakat. Pada bayi di bawah usia 6 bulan hampir 25 % sudah pendek dan 20% kurus. Belum lagi dengan bayi-bayi yang mempunyai berat badan lahir rendah mencapai 24-27 % di beberapa wilayah.

Selain kasus anak pendek, masalah kelebihan berat badan/obesitas juga meningkat tahun-tahun terakhir ini di Indonesia. Pada tahun 2013 sepertiga wanita di atas 18 tahun dan seperlima anak usia 5-12 tahun mengalami kelebihan berat/obesitas. Sementara di tahun 2010, 14% anak di bawah 5 tahun kelebihan berat/obesitas (Bank dunia 2012).

Data ini menunjukkan, baik anak kurus ataupun anak pendek dipengaruhi oleh faktor prenatal. Ditambah lagi dengan masalah lainnya seperti penyakit, rendahnya praktik pemberian makan pada usia bayi dan anak, tertundanya inisiasi menyusu dini, serta rendahnya pemberian ASI eksklusif.

Untuk mengurangi baik anak pendek dan obesitas, yang juga meningkat di Indonesia diperlukan intervensi. Untuk itu difokuskan pada dua hal yaitu pertama, nutrisi 1000 hari pertama (sejak kehamilan hingga usia bayi 2 tahun pertama). Nutrisi di masa 1000 hari pertama merupakan penentu utama bagi anak kelak. Tak hanya soal stanting tapi juga obesitas serta penyakit degeneratif di usia dewasa nantinya.

Kedua yaitu nutrisi bagi remaja wanita. Mengapa hal ini penting? Karena angka kejadian kehamilan pada usia remaja masih tinggi. Maka itu perlu difokuskan dengan memastikan nutrisi yang cukup selama kehamilan, mengurangi bayi berat lahir rendah, serta meningkatkan praktek pemberian makan pada bayi dan anak.

Pada akhirnya, dengan adanya peningkatan gizi secara signifikan akan dapat mengurangi angka kematian anak, meningkatkan pencapaian anak bersekolah, dan menghasilkan produktivitas ekonomi yang lebih besar bagi bangsa.

 

 

 

 

Ini Bedanya Indonesia dengan Negara Lain dalam Urusan Gizi

Kenali Gejala Remaja Kurang Darah

Kenali Gejala Remaja Kurang Darah