Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Indonesia Hadapi Masalah Gizi Buruk dan Obesitas

Indonesia Hadapi Masalah Gizi Buruk dan Obesitas

IMG_2597-e1458703841576.jpg

Setelah 70 tahun merdeka, Indonesia masih menghadapi masalah gizi. Banyak kasus balita mengalami gizi buruk. Di sisi lain, ditemui pula masalah kelebihan gizi. “Ini beban ganda. Ada malnutrisi dan obesitas,” ungkap Menteri Kesehatan, Nila F. Moeloek saat membuka acara Workshop Peringatan Hari Gizi Nasional yang ke-56 di Balai Katrini (22/03/16). Menurutnya, perlu perhatian khusus dalam menangani beban ganda tersebut. Mengingat ada kaitan erat beban ganda tersebut dengan menyakit tidak penular (PTM). Seseorang yang memiliki kelebihan berat badan rentan terserang penyakit seperti hipertensi dan penyakit tidak menular lainnya. Risiko sama juga dialami oleh orang dengan gizi buruk. Mereka mudah terserang penyakit akibat asupan makanan kurang sehingga daya tahan tubuh lemah. Menurut catatan Kementerian Kesehatan, sebagian besar biaya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) tersedot untuk menyembuhkan PTM.

Meski demikian, lanjut Nila,  penanggulangan malnutrisi dan obesitas ini mulai menuai hasil. Ada peningkatan pemanfaatan ASI sebagai asupan dini bagi anak-anak Indonesia. Inilah "senjata" utama melawan masalah gizi di tanah air. Jika sewaktu kecil anak memperoleh ASI, maka kekebalan tubuhnya akan maksimal di usia produktif. Kondisi ini akan menjauhkan generasi muda Indonesia dari penyakit, sehingga mampu secara maksimal menghadapi bonus demografi beberapa tahun ke depan. "Anak-anak yang mendapatkan ASI eksklusif cenderung memiliki inteligensia lebih tinggi dan daya tahan tubuh lebih kuat," ujar Nila.

Pada acara yang sama, Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat Kemenkes Anung Sugihantono menilai perlunya pendekatan tertentu guna memberantas masalah gizi di tanah air. Salah satu yang dipaparkan yakni pendekatan di ranah keluarga, khususnya keluarga muda. Keluarga yang baru terbentuk tentu menginginkan keturunan yang baik dan lingkungan keluarga yang sehat.

Nah, pendekatan keluarga  yang disosialisasikan pemerintah ini bertujuan mengubah dan mendesain perilaku keluarga menjadi lebih sehat. Minimal, mereka diharapkan waspada dan mengerti tentang resiko penyakit yang ditimbulkan dari kebiasaan buruk di keluarga. "Pendekatan keluarga diharapkan dapat meningkatkan akses keluarga terhadap pelayanan kesehatan yang komprehensif," kata Anung. Pendekatan lainnya sebagai langkah konkrit pemerintah yaitu dalam bentuk Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) dan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM).

(Sumber: Koran Indopos)

 

 

 

Empat Raperda Diajukan Pemda Hulu Sungai Utara, Kalsel

Empat Raperda Diajukan Pemda Hulu Sungai Utara, Kalsel

Makna Dibalik Hari Air Sedunia