Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Indonesia Bebas Polio

Indonesia Bebas Polio

imunisasi-polio-dan-campak-pada-balita-di-posyandu-ilustrasi-_120927194400-595-e1458288489977.jpg

Indonesia telah mendapatkan Sertifikat Bebas Polio dari World Health Organization (WHO) pada 27 Maret 2014 lalu. Namun, risiko penyebaran virus polio masih tinggi, sebab kekebalan tubuh masyarakat masih belum optimal. Hal ini dipicu dengan banyaknya daerah yang tidak melakukan imunisasi secara rutin. Bahkan, kesadaran masyarakat di daerah tertentu sangat rendah. Ditambah penularan virus polio yang berasal dari luar negeri masih 'menghantui'. Karena itu, kewaspadaan tidak boleh kendur.

Umumnya, penularan terjadi pada anak-anak yang belum mendapat imunisasi polio sama sekali, atau yang belum lengkap. Oleh karena itu, dilakukan pemberian imunisasi tambahan, misyalnya lewat Kementrian Kesehatan yang menggelar Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio dari 8 hingga 15 Maret 2016

"Imunisasi merupakan salah satu program kesehatan paling efektif untuk mencegah kesakitan, kecacatan dan kematian," ungkap Nila F. Moeloek, Menteri Kesehatan RI, di sela acara pembukaan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) Polio di Solo, Jawa Tengah pada 8 maret 2016.

Vaksin Polio diberikan kepada anak usia 0-59 bulan (balita). Kelompok ini, yang merupakan kelompok paling rentan tertular virus polio. PIN dilaksanakan di pos PIN, posyandu, polindes, poskesdes, puskesmas, puskesmas pembantu, rumah sakit serta pos pelayanan imunisasi lainnya di bawah koordinasi Dinas Kesehatan setempat, seperti sekolah, pasar, terminal, pelabuhan dan bandara.

Sayangnya, timbul isu yang menyatakan bahwa vaksin polio bersumber dari babi dan dianggap imunisasi itu haram. Hal ini memicu munculnya kelompok antivaksin. Seperti yang terjadi di Sumatra Barat tahun 2012. Karena informasi yang salah, menurut data Dinas Kesehatan setempat, cakupan imunisasi yang awalnya 93%, turun menjadi 35%. Akibatnya, akhir tahun 2014, dua anak meninggal dan puluhan lain diisolasi karena difetri (penyakit yang menyerang selaput lendir pada hidung serta tenggorokan dan terkadang dapat memengaruhi kulit). Kejadian itupun dinyatakan sebagai kejadian luar biasa (KLB). Nila berharap, PIN Polio tahun ini bisa membuat Indonesia yang sehat, bebas dari cacat tubuh akibat polio, berkualitas, prooduktif, dan berdaya saing, dan optimis.

(Sumber: Femina)

Pengadaan Air Bersih Untuk Daerah Pesisir

Cara Mahasiswa Peringati Hari Perawat Nasional di Jombang

Cara Mahasiswa Peringati Hari Perawat Nasional di Jombang