Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Duh, Ribuan Balita di Kabupaten Mojokerto Kurang Gizi

Duh, Ribuan Balita di Kabupaten Mojokerto Kurang Gizi

Masalah-Umum-Penyebab-Gizi-Buruk-Anak.jpg

MOJOKERTO – Persoalan kekurangan gizi masih membayangi bayi di bawah lima tahun (balita) di Kabupaten Mojokerto. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto mencatat, masih terdapat ribuan balita yang kekurangan gizi dan 85 di antaranya mengalami kasus gizi buruk. Kepala Dinkes Kabupaten Mojokerto Didik Chusnul Yakin melalui Kabid Kesehatan Keluarga Agus Suyoso, mengatakan, data balita yang mengalami gizi buruk akan diketahui pada akhir tahun nanti. Sebab saat ini masih berada di masing-masing puskesmas.

’’Karena itu nilai rata-rata, dari tiap puskesmas nanti diberikan pada kita,’’ ungkapnya Jumat (2/9) kemarin. Agus menyebutkan, untuk tahun 2015 lalu saja, sebanyak 6.148 balita mengalami kekurangan gizi dan 243 di antaranya mengalami gizi buruk.

Diperkirakan tahun ini tidak terlalu ada perubahan yang signifikan, hanya saja angka gizi buruk mengalami penurunan. ’’Hingga Juli 2016 ini, gizi buruk ada 85 balita,’’ terangnya.

Dia menyatakan, terdapat banyak faktor penyebab balita mengalami kekurangan gizi. Selain faktor kesehatan, juga asupan gizi yang kurang, bawaan lahir, dan pengetahuan orang tua.

’’Misalnya bapak-ibunya kerja, kemudian anaknya di titipkan neneknya yang tak punya pengetahuan tentang asupan gizi yang baik pada anak,’’ paparnya.

Selain itu, kata Agus, faktor ekonomi juga berpengaruh. Akibat kemiskinan orang tua, tidak mampu memberikan makanan yang bergizi pada bayinya. Inisiasi Menyusui Dini (IMD) juga harus diutamakan.

Sebab, ASI pertama yang keluar mengandung banyak antibodi yang berfungsi agar bayi mtidak mudah terserang penyakit. ’’Jadi, IMD itu saat bayi lahir langsung diletakkan di dada ibunya, kemudian bayi akan mencari puting ibunya sendiri,’’ ulasnya.

Selanjutnya, kepedulian ibu terhadap pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif juga harus diterapkan. Yakni pemberian ASI saja pada balita 0 sampai dengan 6 bulan. ’’Setelah itu, pemberian ASI tetap dilanjutkan sampai usia 2 tahun dan bisa diberikan makanan tambahan,’’ urainya.

Agus menjelaskan, sesuai target nasional, angka kekurangan gizi tiap daerah tidak boleh lebih dari 15 persen dari total balita yang ada. Sedangkan untuk gizi buruk dipatok tidak boleh lebih dari 2,5 persen.

’’Kalau data ini kan masih gizi buruk masih jauh dari target itu. Dari tahun lalu 243, Juli ini turun jadi 85,’’ papar dia. Dijelaskannya, indikasi dari balita kekurangan gizi maupun gizi buruk adalah dilihat dari berat badan idealnya.

Akan tetapi berat badan tersebut tergantung dari usia dan juga jenis kelamin masing-masing. ’’Berat badan per panjang badan, nanti akan ketemu hitung-hitungannya dan dari skornya itulah yang akan menentukan,’’ pungkasnya.

 

Sumber: Jawapos Radar Mojokerto

Langkah Sederhana Menghindari Obat Kadaluarsa yang Beredar di Masyarakat

Langkah Sederhana Menghindari Obat Kadaluarsa yang Beredar di Masyarakat

Tekstur MPASI: Jangan Lupa, Harus Sesuai Usia Bayi!

Tekstur MPASI: Jangan Lupa, Harus Sesuai Usia Bayi!