Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Dr. Utami Roesli: Gagal Menyusui Mendorong Perjuangan Untuk ASI

Dr. Utami Roesli: Gagal Menyusui Mendorong Perjuangan Untuk ASI

IMG_6904-e1472695078866.jpg

Dr. Utami Roesli: Gagal Menyusui Mendorong Perjuangan ASI

Selama 30 tahun lebih, Dr. Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM selalu bersemangat memperjuangkan hak-hak anak untuk mendapatkan Air Susu Ibu (ASI). Anak dari Roeshan Roesli dan Edyana Roesli, Utami Roesli yang berdarah Minangkabau lahir di Semarang tepat sebulan setelah kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 September 1945. Tetapi, ternyata masih banyak bayi dan anak di Indonesia yang masih belum merdeka dari permasalahan gizi yang berakar dari pemberian ASI eksklusif yang tidak maksimal.

Namun, siapa sangka, bahwa kegigihan Dr. Utami dalam mempromosikan ASI berasal dari kegagalannya untuk menyusui kedua anaknya dulu. Ini yang ia katakan ketika menjadi narasumber Seminar Inisiasi Menyusui Dini di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat minggu lalu (23/08).

Dr. Utami selama ini menjadi Ketua Sentra Laktasi Indonesia yang ia dirikan bersama sejumlah tokoh di tahun 2003. Beliau juga memegang posisi sebagai dokter anak senior di Rumah Sakit St. Carolus di Jakarta, dan Dr. Utami tidak menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti dalam perjuangannya. Menurutnya, susu yang paling baik bagi bayi adalah Air Susu Ibu (ASI), dan ASI saja dibanding susu sapi yang menjadi bahan baku untuk susu formula. Seringkali, para ibu di Indonesia sering terpincut dengan slogan-slogan yang diutarakan dalam promosi susu ASI, ataupun iklan-iklan inspiratif yang ada di televisi.

IMG_6920

Padahal, ASI pasti akan mencukupi kebutuhan gizi bayi dan mencegah bayi untuk terkena penyakit. “WHO menilai, pemberian ASI merupakan jalan keluar agar menciptakan generasi yang lebih sehat, kuat dan cerdas,” ujarnya. Pemberian ASI eksklusif dengan standar World Health Organization (WHO) adalah selama 6 bulan, dan diteruskan oleh makanan pendamping ASI (MPASI) sampai anak berusia 2 tahun. Oleh karena itu, Dr. Utami selalu sangat mengajarkan pentingnya “Inisiasi Menyusui Dini” yang mungkin sering dilupakan. “Dibanding dengen mamalia lain, hanya manusia di dunia ini yang jarang meletakkan bayi ke dada ibunya ketika lahir!” ujar Dr. Utami, yang mengundang anggukan dari para hadirin waktu itu. “Anak-anak kita bukan anak sapi, kan?” tambahnya di Landak.

Menurut Dr. Utami, seorang ibu yang mengira bahwa dia tidak bisa menyusui, atau ASI nya tidak keluar hanya karena kurangnya informasi — dan dukungan yang ibu dapatkan. Dukungan ini dimulai dari keluarga seperti suami, pihak rumah sakit seperti para dokter, bidan, kader posyandu, bahkan pemerintah. Tetapi, pengatasan masalah

Ketika seminar di Landak, Dr. Utami juga mengakui bahwa kegagalan menyusui kedua anaknya dikarenakan pengetahuan ASI masih kurang. Dan pada akhirnya,  “Banyak saudara saya yang menjadi dokter. Termasuk saya. Dan karena saya tidak menyusui anak-anak saya dengan benar, saya terkena kanker payudara,” ujar Dr. Utami, dan ia mengimbau bahwa jangan ada ibu-ibu di Landak maupun di seluruh Indonesia mengalami hal yang sama dengannya.

#ASIEksklusif #PekanASISedunia #MCAIndonesia #IMAWorldHealth #ASI

Mitos Seputar MPASI: Siapa Bilang Ikan Tidak Boleh?

Mitos Seputar MPASI: Siapa Bilang Ikan Tidak Boleh?

Menyapih Dengan Kasih Sayang