Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Dinkes Jatim Perhatikan Daerah Stanting

Dinkes Jatim Perhatikan Daerah Stanting

harianbhirawa-com.jpg

Kendati Jatim masih aman untuk kasus balita bertubuh pendek atau stanting tidak membuat Dinkes Jatim berpangku tangan. Saat ini terdeteksi beberapa daerah masih menjadi kantong kasus stanting seperti Kabupaten Pamekasan, Jember, Situbondo dan Bangkalan. ”Tahun ini kita akan fokus garap Kabupaten Pamekasan, Jember, Situbondo dan Bangkalan,” kata Kepala Dinkes Jatim dr Harsono. Harsono mengaku, Jatim berusaha mengatasi masalah stanting di beberapa daerah dengan cara memperbanyak sosialisasi dan edukasi terhadap masyarakat.

Salah satu daerah yang menjadi fokus balita stanting yaitu Pamekasan. ”Pamekasan tertinggi stanting di Jatim. Dari data yang diperoleh, anak yang mengalami stanting di Pamekasan berjumlah 45 persen,” tambahnya. Selain itu, kasus stanting di Kabupaten Jember sebanyak 43,5 persen dari total anak di Jember. Kabupaten Situbondo sebanyak 41,5 persen, dan Bangkalan sebanyak 37,5 persen.

Lebih lanjut ia mengatakan, stanting disebabkan banyak faktor yang saling berhubungan satu sama lainnnya. Tiga faktor utamanya yaitu asupan makanan tidak seimbang (berkaitan dengan kandungan zat gizi dalam makanan yaitu karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin, dan air), riwayat berat badan lahir rendah (BBLR), riwayat penyakit.  ”Faktor terbesar yang mempengaruhi stanting dikarenakan kurangnya asupan gizi ibu pada masa kehamilan dan asupan makanan yang diberikan pada bayi dan balita. Sementara, banyak masyarakat yang menganggap bahwa stanting dikarenakan faktor keturunan. Padahal, keturunan hanya berpengaruh beberapa persen dari pertumbuhan bayi. “Kita tidak dapat menyalahkan keturunan karena pengaruhnya tidak signifikan,” jelasnya.

Dengan diketahuinya kasus stanting ini, Dinkes meminta ada tindakan nyata dari orang tua khususnya ibu untuk menjaga agar anaknya tidak mengalami stanting. Selain itu yang terpenting pada bumil asupan gizi anak harus segera diperbaiki. Gizi yang tercukupi bisa memenuhi kebutuhan anak untuk tumbuh dan berkembang. Sehingga anak tidak lagi tumbuh pendek. ”Pemenuhan gizi harus dimulai sejak dalam kandungan. Ketika wanita berencana hamil, pastikan selalu mengonsumsi asupan gizi sesuai kebutuhan. Asupan dalam tubuh ibu menentukan pembentukan tubuh dan tumbuh kembang anak,”jelasnya.

Perlu diketahui,  saat ini jumlah balita stanting sebesar 26 persen, sedangkan target MDG’s mencapai 32 persen. Jumlah balita stanting di Jatim masih di bawah target MDG’s Millennium Development Goals (MDGs).

(Sumber : www.harianbhirawa.co.id)

Kapan Mengajarkan Anak Toilet Training?

Kapan Mengajarkan Anak Toilet Training?