Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Cegah Stanting dengan Pemberian MPASI Tepat

Cegah Stanting dengan Pemberian MPASI Tepat

life-viva-co-id-MPASI.jpg

Stanting atau anak pendek merupakan pertanda adanya kekurangan gizi kronis yang tidak tertangani. Rentetan akibatnya tentu saja panjang dan kompleks. “Ketika balita kurang gizi, dalam hitungan bulan si anak jadi kurus. Ketika kurang gizi terus berkepanjangan, si anak akan mengalami stanting, mudah sakit, mengalami gangguan kognitif seperti sulit berkonsentrasi dan lamban berpikir, serta problem lain terkait kekurangan zat gizi," ujar dokter spesialis anak Attila Dewanti. Di Indonesia, lanjut Attila, jumlah balita stanting masih banyak. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan 35% balita mengalami stanting. “Untuk mencegahnya, kebutuhan gizi anak harus dipenuhi. Terutama pada seribu hari pertama kehidupan, yakni sejak janin dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun. Periode ini disebut dengan periode emas,” kata Attila.

Pada periode emas, otak, otot, dan tulang rangka berkembang pesat. Ketika anak genap berusia 2 tahun volume otaknya mencapai 80% otak orang dewasa. "Masa-masa itu harus dimaksimalkan karena tidak akan terulang. Anak membutuhkan dukungan gizi," imbuh Attila.

Salah satu momen penting dalam upaya pemenuhan gizi anak ialah masa-masa awal pemberian makanan pendamping air susu ibu (MPASI). Yakni, saat bayi berusia 6 bulan. “Setelah bayi berusia 6 bulan, pemberian ASI saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan energi dan gizi bayi. Meskipun ASI ibu banyak, bayi tetap membutuhkan makanan tambahan," katanya.

Pemberian MPASI dilakukan secara bertahap, terjadwal, dan harus menjadi momen menyenangkan bagi bayi. Tujuannya agar bayi tidak trauma dan menolak makan di kemudian hari. MPASI haruslah bervariasi dan mencakup semua zat gizi, yakni karbohidrat. protein, lemak, vitamin, mineral, dan serat. Pemberiannya bertahap, dicoba satu per satu untuk mengantisipasi jika anak alergi pada makanan tertentu, juga untuk mengenalkan aneka rasa makanan pada bayi.

“Demikian juga dengan teksturnya, dimulai dari makanan lumat semi cair di usia 6-9 bulan, lalu meningkat ke makanan lunak di usia 9-12 bulan. Pada usia setahun, anak diharapkan sudah mengonsumsi makanan padat seperti nasi, lauk-pauk, dan sayur-mayur," papar Attila.

Terkait dengan pemilihan jenis MPASI, bikinan sendiri (rumahan) atau buatan pabrik. Attila menjelaskan, keduanya boleh diberikan kepada bayi. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. “Kalau MPASI rumahan mungkin lebih murah, tetapi pembuatannya sedikit merepotkan dan mudah tercemar jika kebersihannya kurang terjaga. Kalau MPASI buatan pabrik, praktis tapi lebih mahal.”

(Sumber : Media Indonesia)

 

Jika Ibu Atau Bayi Sedang Sakit, Haruskan Berhenti Menyusui ?

Jika Ibu Atau Bayi Sedang Sakit, Haruskan Berhenti Menyusui ?

Daftar Perlengkapan Membawa Si Kecil Mudik

Daftar Perlengkapan Membawa Si Kecil Mudik