Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Buang Air Besar Sembarangan Masih Dilakukan Warga Tepi Sungai

Buang Air Besar Sembarangan Masih Dilakukan Warga Tepi Sungai

harianjogja-com.jpg

Warga di permukiman bantaran sungai masih sering buang air besar (BAB) di sungai. Kebiasaan tersebut belum bisa sepenuhnya dihilangkan, meskipun sudah ada jamban di rumahnya. Hal ini diakui oleh Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan(Dinkes) Sleman, Novita Krisnaeni. Menurutnya, kebiasaan tersebut kerap dilakukan oleh kalangan lanjut usia dan juga biasa dilakukan anak-anak. “Setelah kami tanya, ternyata di rumahnya punya jamban. Artinya, ini sudah menjadi kebiasaan mereka BAB di sungai,” kata Novita.

Agar kebiasaan buruk itu dikurangi, Dinkes saat ini melakukan kampanye Stop BAB Sembarangan. Kampanye tersebut baru menyentuh 35 desa dari 86 desa di wilayah Sleman. Upaya tersebut dilakukan agar kebiasaan warga membuang hajat tidak pada tempatnya itu dapat ditekan. “Kami berharap kebiasaan BAB di sungai itu tidak diteruskan,” ujarnya.

Selain nilai-nilai kesopanan, etika dan kebersihan lingkungan, aksi stop BAB sembarangan menurut Novita bertujuan untuk mengurangi dampak negatif bagi masyarakat. Pasalnya kebiasaan BAB sembarangan bisa menimbulkan penyakit.

“Kami terus mengingatkan warga untuk tidak melanjutkan kebiasaan itu. Dalam konteks ini, kami juga menggandeng Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan (DPUP) Sleman untuk terus membangun jamban di berbagai desa,” tuturnya.

Saat ini, lanjut Novita, cakupan fasilitas sanitasi di Sleman mencapai 90%. Menurutnya, yang paling berat dilakukan adalah mengubah kebiasaan masyarakat. Meski dinilai sulit, pihaknya optimistis dapat meningkatkan derajat kesehatan masyarakat secara bertahap.

(Sumber : www.harianjogja.com)

 

Pentingnya Tanamkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada Anak

Program Hibah dari MCA-Indonesia Untuk Kurangi Stanting di OKI

Program Hibah dari MCA-Indonesia Untuk Kurangi Stanting di OKI