Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Brebes, Proyek Percontohan Cegah Stanting Fatayat NU

Brebes, Proyek Percontohan Cegah Stanting Fatayat NU

Pertemuan Forum Ulama Peduli Gizi bersama Fatayat NU dan LKNU (Fatayat NU/Umi  Wahyuni) Setelah 71 tahun Indonesia merdeka, masalah kesehatan masih perlu perhatian. Salah satunya adalah stanting yang menimpa sekitar 3,7 juta anak. Stanting, adalah kondisi dimana tinggi badan anak tidak sesuai, atau di bawah standar tinggi badan anak seusianya. Penyebabnya adalah asupan gizi yang kurang selama 1000 Hari Pertama kehidupan, yaitu sejak kehamilan sampai anak berusia 2 tahun.

Stanting memiliki implikasi jangka panjang yang membahayakan anak-anak, dan tidak terbatas perkembangan fisik.  Anak yang stanting cendurung berpendidikan dan berpendapatan rendah karena kemampuan kognitif mereka yang berkurang. Selain itu, mereka juga lebih rentan terhadap penyakit degeneratif seperti penyakit jantung dan diabetes.

Tetapi, ada sebuah organisasi yang sadar akan masalah ini dan ingin membuat perubahan. Di bawah naungan Nahdlatul Ulama, Fatayat NU adalah organisasi perempuan Muslim muda yang prides itself in many programs that empower women Indonesia. Para anggota Fatayat NU adalah wanita di sekitar usia 20 tahun, atau sudah menikah sampai 45 tahun. Maka, stanting sebenarnya sangat erat di pemberdayaan anak dan perempuan.

Apakah upaya Fatayat NU selama ini?

Selama 2013-2015, Fatayat NU meluncurkan menjalankan pilot project dengan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) untuk pencegahan stanting di Kabupaten Brebes. Bersama LKNU, pilot project ini dilaksanakan dengan melibatkan para tokoh agama di tingkat kabupaten, kecamatan dan desa. Yang pertama adalah menggandeng para tokoh agama atau ulama yang sudah ada di dalam Forum Ulama Peduli Gizi. Dari kerjasama tersebut, para kyai, nyai dan ustadzah dapat mensosialisasikan kepada masyarakat tentang bagaimana mencegah stanting.

“Jadi, kita tidak berharap hanya Fatayat NU saja yang terlibat, karena perubahan dapat dirasa jika ada dukungan dari banyak pihak. Kita minta dukungan tokoh agama, terutama di NU, untuk menyampaikan pentingnya 1000 HPK dalam pencegahan stanting,” ujar Umi Wahyuni, Wakil Sekretaris Fatayat NU saat berbincang dengan Gizi Tinggi.

Sebelum sosialisasi, pihak Fatayat NU melatih para tokoh agama terlebih dahulu. Terkait materi pelatihan, Fatayat NU menggunakan buku “Menuju Generasi Emas; Cegah Stunting” yang mengandung pentingnya 1000 HPK dan gizi dalam perspektif Islam. Setelah itu, Fatayat NU juga membentuk rencana tindak lanjut yang lebih menyeluruh. “Setelah mereka (tokoh agama) dilatih untuk mendapatkan informasi yansg benar tentang 1000 HPK, kita gerakan mereka untuk menyampaikan pesan-pesan tersebut kepada semua jemaat di wilayah masing-masing dalam setiap pengajiannya. Kegiatan yang mereka bisa manfaatkan adalah dalam Majelis Taklim para ibu yang biasanya diadakan seminggu sekali,” kata Umi.

Pelatihan Tokoh Agama tentang Pentingnya Gizi pada 1000 HPK dalam Pencegahan Stanting

Di dalam majelis taklim, semua informasi tentang gizi disampaikan. Mulai dari pentingnya ASI eksklusif, melahirkan di fasilitas kesehatan, menjaga asupan gizi selama hamil, bahkan sampai ukungan keluarga seperti peran ayah untuk mendukung pemberian ASI eksklusif. Mengapa hal ini penting? Para anggota Fatayat, masih berusia produktif yang artinya masih dapat mengandung dan yang sudah memiliki anak. Maka, semua tentang kesehatan ibu dan anak sudah mereka ketahui. Dengan pilot project ini, Fatayat NU ingin para perempuan muda dan ibu untuk mendapat pengetahuan dasar yang sama. Contohnya adalah tentang asupan gizi yang seimbang untuk ibu dan anak, pentingnya tablet tambah darah, semua aspek tentang kehamilan, persalinan, menyusui, dan merawat anak agar ia tumbuh menjadi anak yang sehat dan berprestasi.

Umi Wahyuni menilai bahwa semua upaya berbuah hasil yang baik. “Dalam majelis taklim, masyarakat mendapatkan dan percaya pada sumber informasi yang bisa terpercaya,” ujarnya. Akan tetapi, keterbatasan masih dirasakan waktu itu dari sisi kesehatan, terutama dengan kurangnya kerjasama dengan bidan setempat. Selain itu, Fatayat NU juga membekali para pendamping PKH untuk sosialisasikan hal yang sama kepada masyarakat atau anggota keluarga yang tidak sempat ke majelis taklim. “Kita sangat senang dengan kegiatan semacam 1000 pintu ini karena bersifat menyentuh masyarakat lebih dalam. Dalam sosialisasi ini, kita targetkan pasangan usia subur, yang sedang hamil dan yang mempunyai anak,” kata Umi.

Kunjungan rumah ke Anggota PKH Prestasi dan sosialisasi pentingnya gizi pada 1000 HPK dalam Pencegahan Stanting.  Bersinergi dengan Pendamping PKH Prestasi (Fatayat NU/Umi Wahyuni)

Untuk lebih lanjut, Fatayat NU juga melakukan audiensi ke bupati, sehingga anggota DPR setempat untuk mendukung alokasi dana untuk pencegahan stanting karena dukungan multi-stakeholder ini sangat penting. Untuk yang Yang terakhir, Fatayat diberikan kepercayaan oleh UNICEF untuk membuat satu pelatihan sosialisasi. Kali ini, sasarannya adalah Majelis Taklim para bapak untuk meningkatkan kesadaran tentang peran laki-laki dalam kesehatan keluarga. “Kami ingin semua informasi tentang gizi dan stanting untuk disebarkan lebih luas. Alokasi uang kan memang masih di tangan para bapak, jadi kita ingin semacam mengurangi 'alokasi rokok' dan lebih diarahkan untuk kebutuhan gizi keluarga," ujar Mbak Umi dengan semangat.

Dari semua upaya yang sudah dilakukan, Fatayat NU mempunyai harapan yang besar untuk ke depan. Oleh karena itu, program Gerakan Nasional Cegah Stanting akan diluncurkan dalam Rakernas tahun ini di Palangkaraya, Kalimantan dari 4 hingga 6 Mei 2017. Fatayat NU merasa bahwa Rakernas ini adalah waktu yang tepat, dan sekaligus menjadi acara puncak Harlah Fatayat NU yang ke-67. Sukses terus untuk Fatayat NU!

 

 

Bolehkah Ibu Hamil Minum Kopi atau Teh?

Bolehkah Ibu Hamil Minum Kopi atau Teh?

Rakernas, Fatayat NU Akan Meluncurkan Program Cegah Stanting

Rakernas, Fatayat NU Akan Meluncurkan Program Cegah Stanting