Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Bisakah Ibu Kurang Energi Sukses Memberikan ASI Eksklusif?

Bisakah Ibu Kurang Energi Sukses Memberikan ASI Eksklusif?

Tips-Puasa-Bagi-Ibu-Menyusui.jpg

Selama ini dikatakan, ibu dengan status gizi apapun bisa memberikan ASI eksklusif. Apakah demikian? Beberapa studi lama memang menyatakan demikian. Namun, studi itu dilakukan di negara maju dengan status gizi ibu yang mungkin tidak bermasalah.

Menurut Dr. Drg. Sandra Fikawati, MPH, Dosen Gizi Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, berbagai penelitian baru-baru ini menunjukkan adanya hubungan signifikan antara status gizi ibu dan jumlah makanan yang dikonsumsi selama menyusui dengan keberhasilan ASI eksklusif.

Untuk  dapat memberikan ASI eksklusif ibu memerlukan konsumsi energi harian yang cukup tinggi. Selain untuk mendukung produksi ASI juga karena ibu telah mengalami penurunan berat badan setelah melahirkan. Jika ibu konsumsi makannya kurang, ibu tetap bisa memberikan ASI eksklusif, tetapi berat badan ibu akan ‘habis.’ Karena penurunan berat badan dari ibu yang kurang konsumsi makannya bisa mencapai 5 kg. Bayangkan! Apalagi menurut data, ibu yang mengalami Kurang Energi Protein (KEK) di Indonesia jumlahnya 24.2 persen.  Jika di daerah perkotaan mungkin tidak ada masalah itu, bagaimana dengan di pedesaan? Kupang, contohnya, ibu yang mengalami KEK tetap bisa memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, tetapi pertambahan berat badan dan panjang badan bayinya kurang maksimal.

Ibu yang kurus seharusnya mengalami kenaikan berat badan yang lebih besar sejak hamil, sehingga ia mempunyai cadangan lemak yang cukup untuk menyusui. Konsumsi energi harian dengan jumlah yang cukup sangat penting bagi ibu menyusui, untuk persediaan lemak ibu agar bisa menyusui selama 6 bulan.

Seringkali selama ini konsumsi energi saat menyusui masih lebih rendah ketimbang di masa ibu hamil. Seharusnya konsumsi energi semasa menyusui harus lebih besar dibanding masa hamil. Mengingat masa menyusui mempunyai durasi waktu yang panjang 6 bulan, maka perlu cara untuk melindungi ibu menyusui. Karena ini berkaitan dengan status gizi ibu dan konsumsi energinya, agar bayi benar-benar mendapatkan gizi yang baik dari ibunya. Jangan sampai bayi semakin besar dan aktif sementara konsumsi makan ibu setiap bulan semakin kurang, baik karbohidrat, protein, dan lemaknya.

Berdasarkan penelitian, ibu yang berhasil memberikan ASI eksklusif dan ibu yang gagal ASI eksklusif, perbedaannya terletak pada jumlah konsumsi energinya. Ibu yang  berhasil ASI eksklusif, konsumsi energinya rata-rata di atas 2000 kalori. Jadi, bila selama ini dikatakan ibu  yang makan apa saja bisa, kok, ASI eksklusif. Ternyata, kenyataannya tidak demikian. Angka Kecukupan Gizi (2013) yang direkomendasikan  saat ibu menyusui lebih besar sekitar 2300 kalori dibandingkan saat hamil. Maka itu, konsumsi energi ibu semasa menyusui ini harus lebih menjadi perhatian.

Yuk, Kita Kenali Imunisasi Dasar untuk Anak

Yuk, Kita Kenali Imunisasi Dasar untuk Anak

Anak Bisa Stanting Sejak Masa Pemberian ASI Eksklusif

Anak Bisa Stanting Sejak Masa Pemberian ASI Eksklusif