Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Bahaya Madu Murni Untuk Bayi di bawah 1 Tahun

Tentu, siapa yang tidak kenal dengan madu. Rasanya manis, sedap, dan membawa manfaat yang luar biasa bagi kesehatan. Sejak berabad-abad, nutrisinya menjadi adalan dalam penyembuhan pernyakit panas dan demam. Namun, tahukah ibu bahwa madu untuk si kecil yang belum berusia 1 tahun dapat menimbulkan banyak resiko?

Banyak sekali informasi yang beredar di sekitar kita, dan sayangnya kita sulit menyaring mana yang benar dan mana yang salah. Terkadang, kita terlalu terpengaruh dengan mitos yang sudah menjadi kebiasaan turun temurun. Misalnya, ada salah satu cara yaitu mengoleskan madu ke empeng bayi.

Lalu, seperti apakah bahaya madu untuk bayi? Dan apakah benar madu yang sudah diproses aman untuk bayi?

Dr. Arianti Widodo, SpA mengingatkan agar madu tak diberikan kepada anak usia di bawah satu tahun. Mengapa? Bayi di bawah 1 tahun belum cukup kuat untuk mentoleransi, atau merespons senyawa Clostridium botulinum yang ada di dalam madu. Mengapa? Karena sistem kekebalah tubuh mereka belum sempurna.

Pemanis alami yang didapat dari lebah dengan kandungan spora Clostridium botulinum diperoleh ketika lebah mengambil makanan dari tanah atau tumbuhan. Spora Clostridium botulinum yang terdapat pada madu akan dapat bertahan hidup pada usus dan mengeluarkan racun botulinum.

Toksin dari C. Botulinum bersifat neurotoksin yaitu racun yang sangat kuat dan menyebabkan kerusakan saraf dan otot. Foodborne botulism merupakan akibat dari mencerna makanan yang tercemar yang masuk melalui saluran pencernaan.

Jika bayi terserang bakteri ini, gejala-gejala lain yang mungkin timbul adalah:

  • Konstipasi
  • Nafsu makan atau menyusui menurun
  • Daya hisap ASI berkurang
  • Tangisan lebih lemah daripada biasanya
  • Leher lebih lemah daripada biasanya, sehingga tidak kuat menahan kepala
  • Ekspresi wajah berkurang dibandingkan biasanya
  • Terkadang tidak dapat menelan
  • Dapat disertai dengan kesulitan bernafas.

“Madu lebih baik dikonsumsi anak berusia di atas dua tahun, karena sistem kekebalan tubuh mereka sudah lebih kuat dibanding anak yang berumur di bawah satu tahun,” ujar Dr. Arianti.

Selain faktor usia, jenis madu juga harus diperhatikan. Live Strong pernah mempublikasikan studi tentang efek buruk madu murni yang berpotensi memicu reaksi alergi atau keracunan makanan seperti: kram perut, diare, mual, muntah dan demam. Alasannya, madu murni tidak melewati tahap pasteurisasi sehingga spora dan serbuk sari berpotensi tumbuh di dalamnya. Seperti kita tahu, madu merupakan zat manis pekat yang diproduksi lebah, salah satu jenis serangga pemakan nektar bunga dan serbuk sari.

Oleh karena itu, madu yang sudah diproses akan lebih aman untuk bayi, tetapi tetap harus diberikan ketika bayi sudah berusia 2 tahun.

Sumber: bidanku.com, theasianparent.com, ibudanbalita.com

Waktu Tepat Pemberian Makanan Keluarga Untuk Anak

Tips Memberikan Finger Food Kepada Bayi

Tips Memberikan Finger Food Kepada Bayi