Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Menjadi Ayah ASI, Sogi Indra Dhuaja: Menurunkan Ego, Menaikkan Mutu!

Menjadi Ayah ASI, Sogi Indra Dhuaja: Menurunkan Ego, Menaikkan Mutu!

rsz_img_6486.jpg

Gizi Tinggi Prestasi/Jakarta

“Jadi dengan meningkatnya kesadaran tentang pemberian ASI, tidak ada lagi tuh stanting. Anaknya mentok ke atas semuanya!”

Pemberian ASI ekslusif, selama 6 bulan pertama kehidupan bayi sampai ia berusia 2 tahun, mencakup gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (1000 HPK) yang ditetapkan oleh pemerintah. Ini dikarenakan bahwa pemberian ASI, adalah kunci untuk masa depan yang sehat dan berkelanjutan. ASI dapat dibilang cairan magis karena semua kebutuhan gizi untuk bayi selama 6 bulan pertama, hanya ada di ASI. Contohnya, cairan kuning yang biasanya dianjurkan untuk dibuang, mengandung kolostrum, yaitu cairan antibodi yang alami dari ibu. 

Nah, ternyata, Indonesia mempunyai perkumpulan para pria, atau ayah-ayah yang peduli terhadap satu proses awal yang paling penting terhadap perkembangan anak-anak mereka; yaitu pemberian ASI. Air Susu Ibu, bahkan seringkali dapat sebutan sebagai cairan magis karena kandungannya yang mencukupi kebutuhan gizi bayi pada awal hidupnya tanpa memerlukan cairan lain seperti air putih. Pemberian ASI ekslusif ini juga telah menjadi isu tersendiri mengingat saat ini gencar sekali promosi untuk menggantinya dengan susu formula.

Sogi Indra Dhuaja, seorang komedian dan Ayah ASI mengatakan bahwa pemberian ASI bukan sepenuhnya tugas sang istri, dan para suami juga memiliki peran yang penting untuk terlibat dengan seimbang dalam mendukung istrinya merasa nyaman hingga pemberian ASI berjalan dengan sukses. Sebagai seorang ayah, ia ingin yang terbaik untuk anaknya, dan ketika ia dan istri mengkarunai anak pertama, Sogi masih seorang beginner. “Dulu aku tidak tahu sama sekali apa itu ASI. Jadi yang jadi tutor pertama saya tentang ASI adalah istri sendiri karena dia sudah banyak membaca. Yang tentu juga dianjurkan untuk saya,” ujarnya di acara Pekan ASI Se-Dunia yang berlangsung pada tanggal 1 sampai 7 Agustus 2016 bersama MCA-Indonesia di @america, Pacific Place kemarin (03/08/16).

Tetapi, Sogi mengaku bahwa dia tidak membaca sama sekali dan ketika dalam detik-detik melahirkan, Sogi tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk membantu istrinya.  “Dia akhirnya bilang, ‘kamu itu baca beneran nggak sih!’” ujarnya. Dan setelah membaca lebih banyak tentang ASI dan peran seorang ayah, ia sadar bahwa kurangnya pengetahuan harus diatasi, walaupun dengan langkah kecil-kecil. Sogi belajar dari pengalamannya, tertutama dengam mebuat istrinya merasa nyaman. “Waktu itu istri saya juga sempat mengalami stress, akhirnya ASI nya seret, sampai harus meminta donor ASI. Nah, dengan anak yang kedua, semuanya berjalan dengan lancar karena kita suah mengalami kesulitan di anak pertama. Akhirnya saya paham bahwa tidak ada salahnya bari para ayah untuk paham sampai tahap pemberian ASI,” ujarnya.

Sigi Wimala dan Sogi Indra Dhuaja.  Sumber: Gizi Tinggi Prestasi

Terutama dengan era teknologi jaman sekarang. Sogi menggarisbawahi bahwa para ayah dan calon ayah bisa mendapatkan informasi dengan gampang sekali. “Dan akhirnya temen-temen untuk sharing juga banyak,” ujarnya. Dengan demikian, suami dapat berperilaku lebih sigap agar menjadi support system untuk sang istri serta memahami dan membersiapkan segala keperluan istri selama masa kehamilan maupun pasca hamil. Selain itu, para suami juga berperan besar untuk menjauhi istri, serta keluarganya terhadap perilaku masyarakat Indonesia yang mudah percaya kepada mitos. “Banyak sekali, orang yang nggak tahu, dan bertanya kepada orang juga yang percaya mitos. Jadi, kalau nanya itu harus pada ahlinya,” ia menyarankan. Yang dikatakannya memang benar, sekarang banyak sekali pakar gizi ibu dan anak, serta ahli laktasi yang dapat memberi saran yang terverifikasi.

Belum lagi, permasalahan “domestik” di rumah, dengan contoh sederhana seperti pasangan suami istri yang tinggal bersama orang tua sang suami. “Apalagi tinggal di rumah mertua. Pasti ada masalah. Jadi salah satu tugas suami adalah untuk membentengi ibunya sendiri agar menjaga mood istri kita dan membuatnya bahagia,” ujar Sogi. Selain itu, ini juga akan membantu peningkatan hormon oksitosin atau hormon “kebahagiaan” yang juga akan mempengaruhi lancarnya pengeluaran ASI. Bahkan, sang suami bisa mulai dengan hal sederhana seperti membantu pekerjaan rumah. “Masalah se-simple cucian yang menumpuk, bantuin kenapa?” tanyanya. Tentu, setiap pasangan itu juga memberi arti kepada kebahagiaan yang berbeda-beda, dan Sogi menyemangati para suami untuk menurunkan ego mereka dalam berperan aktif karena sang istri akan mengalami banyak perubahan dan ketika baby blues datang, para suami bisa langsung bersikap dengan penuh kasih sayang dan dukungan. Baby Blues adalah masa dimana sang istri merasa lelah dan khawatir jika tidak bisa mencukupi kebutuhan ASI si kecil.

“Banyak sekali, orang yang nggak tahu, dan bertanya kepada orang juga yang percaya mitos. Jadi, kalau nanya itu harus pada ahlinya,”

Oleh karena itu, Sogi termasuk dalam Ayah ASI, yang terdiri dari 8 laki-laki peduli ASI seperti Ernest Prakasa yang aktif berkumpul untuk membahas banyak hal dari hobi, dan kehidupan berumah tangga. Aktif sejak tahun 2011, perkumpulan Ayah ASI bukanlah sebuah organisasi. “Kita lebih ke geng sih sebenarnya,” jelasnya. Tetapi, mereka semangat mengadvokasi keterlibatan laki-laki di masa-masa penting dalam kehidupan keluarga dan Sogi ingin meruntuhkan rasa gengsi. “Saya harap untuk banyak ayah, cowok-cowok di luar sana sebagai calon ayah, dapat membuka pikiran mereka untuk berpendapat bahwa tidak ada lagi alasan untuk tidak mengerti urusan perempuan,” ujarnya. Mungkin, ini terjadi karena label “maskulin” yang selama ini diasosiasikan dengan laki-laki sehingga dunia berkeluarga, termasuk “per-ASI-an” sering dilewatkan. “Nah, masalahnya banyak suami yang selalu berperan dominan di urusan seperti dimana anaknya nanti kuliah; ‘oh di ITB saja!’. Tetapi ketika istri bertanya ‘anak kita makan apa hari ini?’, ada yang bilang ‘nah, itu terserah mama’”, Sogi menjelaskan. Hal ini justru sangat disayangkan, dan sang istri dapat mudah merasa jengkel atau demotivated. “Semoga, kita sadar untuk membela ‘mati-matian’ untuk mendukung istrinya memberikan ASI ekslusif kepada anak,” ujar komedian ini.

Pak Iing Mursalin, Direktur PKGBM dari MCA-Indonesia. Sumber: Gizi Tinggi Prestasi

Tetapi jangan salah, Sogi telah belajar banyak dan ia juga sempat mengutarakan fakta-fakta menarik. Hal ini dia katakan, dalam melanjuti informasi yang sudah diberikan kepada Bapak Iing Mursalin selaku Direktur PKGBM (Proyek Kesehatan Gizi Berbasis Masyarakat) dari MCA (Millenium Challenge Account)-Indonesia. “Nah, tadi kan sudah dibilang bahwa ASI ekslusif selama 6 bulan itu penting. Karena pencernaan bayi itu belum sempurna dan yang bisa dicerna oleh bayi ya hanya ASI. Bahkan, air putih itu juga belum tentu baik karena seperti yang dikatakan oleh Pak Iing, sistem sanitasi kita itu belum baik. Dan salah satu hal yang hebat dari tubuh bayi adalah bahwa selama 72 jam, mereka tahan untuk tidak makan apa-apa dulu,” jelasnya. Selain itu, Sogi juga antusias dalam mengutarakan keyakinannya bahwa ASI ekslusif berkontribusi untuk menurunkan stanting. “Oleh karena itu, lagi-lagi peran laki-laki akan sangat membantu sehingga jika sang istri merasa khawatir atau resah setelah melahirkan tentang menyusui agar suami bisa menenangkannya.

Dan ternyata, selama ini, perkumpulan Ayah ASI sudah menulis buku dan mencapai hingga edisi ke-tujuh untuk Catatan Ayah ASI: Kami Bukan Ahli, Cuman Mau Berbagi. Buku tersebut berisi refleksi para kedelapan ayah-ayah ini dalam mendukung proses pemberian ASI ekslusif, dan seputar mendukung dan mendampingi istri mereka. Dan semua ini ditulis agar mudah diterima oleh kaum pria. “Karena semua bahan literatur itu untuk perempuan, dan banyak yang ditulis dengan bahasa medis. Nah, kita ingin ada buku yang bahasanya itu seperti ayah-ke-ayah, Atau bro-to-bro,” jelasnya. Tetapi, proses penerbitan buku itu sempat tersendat karena reaksi pertama dari penerbit mereka adalah buku-buku seputar parenting tidak terlalu laris dikalangan masyarakat “kekinian”. “Dan buku ini tentang ASI, ditulis oleh yang bukan ahli. Bapak-bapak, lagi. Siapa kalian? Dan saya pikir, ‘iya juga ya…’” ujarnya, dan mengundang banyak senyum dan tawa oleh hadirin yang datang. Jadi, yang dilakukan oleh ayah-ayah ini adalah membuat akun Twitter, yaitu @id_ayahasi untuk membuktikan ke penerbit bahwa yang minat untuk membaca buku seperti ini juga banyak. “Kita mau tunjukkin bahwa ada, lho massanya. Di sana akhirnya followers menjadi banyak sampai 9000 ribu orang. Dan akhirnya naskah kita ajukan lagi, dan mereka setuju,” jelasnya.

Namun, satu hal yang ia tuturkan, bahwa memang banyak laki-laki yang senggan atau merasa malu untuk membahas hal-hal seperti pemberian ASI dan isu “sensitif” lainnya. “Memang, boys will be boys!”, ujarnya. Tetapi, inilah mengapa perkumpulan Ayah ASI ada, untuk mempersatukan tentunya hanya laki-laki ke dalam obrolan santai mengenai ASI dan melebar ke isu parenting. “Jadi kita benar-benar berusaha agar semua pengetahuan ini nggak berakhir di sini saja, tetapi diteruskan dengan cara-cara parenting kita nanti. Kita harus menjaga perjuangan kita, dan kita juga berharap banyak ayah yang lain mau berkumpul dengan temen-temennya masing untuk sharing tentang ASI. Ya, kita cukup berprinsip bahwa karena bikin anaknya bersama, urusinnya bersama,” kata Sogi. 

188 Halaman Terbit: Juli 2012 oleh Buah Hati  Sumber: Goodreads.com

Hingga saat ini, perkumpulan Ayah ASI meneruskan komitmen mereka dengan menyalurkan pendapatan dari buku mereka untuk membiayakan petugas kesehatan dari berbagai daerah untuk ke Jakarta, dan belajar bersama Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) yang mempunyai kelas laktasi. “Jadi semacam beasiswa, dan mereka bisa pulang, dan share pengetahuan ke daerah masing-masing,” ujarnya. Dan sejauh ini, respon dari ayah-ayah lain juga sangat baik dan akhirnya, banyak perkumpulan Ayah ASI yang beredar di kota-kota lain selain Jakarta. Satu saran terakhir yang Sogi berikan adalah, memilih rumah sakit yang pro-asi, serta mendukingnya Inisiasi Menyusui Dini (IMD).

Peran Sogi sebagai Ayah ASI, tidak menujukkan tanda-tanda berhenti dan bersama teman-teman seperjuangannya, terus berupaya merubah pandangan para laki-laki, terutama para ayah agar lebih banyak dari mereka yang peduli tentang ASI. Selain itu, Sogi juga antusias dalam mengutarakan keyakinannya bahwa ASI ekslusif berkontribusi untuk menurunkan stanting. “Jadi dengan meningkatnya kesadaran tentang pemberian ASI, tidak ada lagi tuh stanting. Anaknya mentok ke atas semuanya!”, kata Sogi.

Waspada, 5 Makanan Ini Berpengaruh Buruk pada ASI

Waspada, 5 Makanan Ini Berpengaruh Buruk pada ASI

Mitos-Mitos Seputar Ibu Menyusui

Mitos-Mitos Seputar Ibu Menyusui