Kegiatan Gizi Tinggi Prestasi adalah bagian dari program Compact yang sepenuhnya dilaksanakan oleh MCA-Indonesia, dan tidak dipungut biaya. Keluhan dan laporan dapat disampaikan kepada MCA-Indonesia melalui pengaduan@mca-indonesia.go.id. Situs ini dapat terwujud melalui hibah yang diberikan oleh warga Amerika Serikat kepada Indonesia melalui Millennium Challenge Corporation di bawah Perjanjian Compact yang ditandatangani oleh kedua negara. Informasi yang diberikan pada situs ini bukan informasi resmi dari pemerintah AS dan tidak mewakili pandangan atau posisi Pemerintah AS atau Millenium Challenge Corporation

Apa Bedanya Depresi Pasca Kehamilan dan Baby Blues?

Apa Bedanya Depresi Pasca Kehamilan dan Baby Blues?

hai-para-suami-pahami-depresi-pasca-melahirkan-yang-bisa-menyerang-istrimu-alodokter.jpg

Setelah melahirkan, banyak ibu yang tidak sadar bahwa ia mengalami depresi. Depresi pasca melahirkan ini mungkin sering didengar sebagai baby blues. Tetapi, baby blues hanya berlangsung selama beberapa hari atau minggu. Sedangkan dengan depresi pasca melahirkan biasanya terjadi pada enam minggu pertama setelah melahirkan. Oleh karena itu, kita dapat membagi ciri-ciri dan jenis depresi pasca melahirkan menjadi dua:

  1. Post-Partum Depression
  • Dialami oleh sekitar 10 sampai 15 persen wanita
  • Berlangsung dalam 3 sampai 6 bulan, bahkan sampai delapan bulan
  • Terjadi secara konstan dan terus menerus
  • Walaupun ibu sudah kuat dan percaya diri untuk merawat bayinya, ia akan tetap merasa risih dantidak bisa tidur.
  • Hiburan apapun tidak bisa mengembalikan kebahagiaannya.
  1. Baby Blues
  • Dialami oleh 80 persen wanita yang baru melahirkan
  • Terjadi selama enam minggu
  • Intensitas lebih ringan atau jarang
  • Ia tetap bisa merasa tidur dan nyenyak

Mengapa hal ini bisa terjadi pada wanita? Ada beberapa faktor seperti berikut:

  1. Perubahan dan fluktuasi hormonal yang membuat wanita yang setelah melahirkan menjadi lebih sensitif. Hormon yang belum seimbang akan membuat ibu tidak sap untuk merespon situasi atau tahapan yang baru di hidupnya saat ini.
  2. Badan yang lelah juga mempengaruh pikiran ibu dan ditambah oleh kewajiban merawat bayinya hari ini.
  3. Jika ibu mengalami masalah sosial, keluarga dan ekonomi, akan mempengaruhi kondisi psikis ibu. Ibu dapat merasa tidak mampu memenuhi kebutuhan anak dan menyebabkan ibu merasa bersalah.
  4. Jika ibu pernah mengalami masa-masa yang traumatis, ibu akan berisiko mengalami depresi pasca melahirkan.
  5. Kondisi emosi yang belum stabil, dapat membuat ibu merasa takut menyakiti bayinya, sehingga ia akan merasa sedih. Selain itu, ibu juga dapat merasa tidak tertarik untuk merawat bayinya dan sebalinya terlalu memperhatikan dan khawatir terhadap bayi.

Untuk cara mencegahnya, akan datang di artikel berikutnya!

Sumber: Alodokter, Vemale.com

Ke Posyandu, Saya Bawa Mandau!

Ke Posyandu, Saya Bawa Mandau!

Bolehkah Balita Makan Makanan yang Bersantan?

Bolehkah Balita Makan Makanan yang Bersantan?